Sayangi Aku, Ibu Mertua!

Sayangi Aku, Ibu Mertua!
Menangis semalam


__ADS_3

Di saat Delima beranjak pergi, ia dihadang oleh Ibu mertuanya yang saat itu berdiri di tengah pintu. Seketika Delima terkejut saat melihat wajah sang mertua yang menatapnya tajam.


"Mau kemana kamu, Ima?" tanya Bu Semanggi sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Saya mau pergi saja, Bu! Rasanya saya tidak sudah tidak diperlukan lagi di rumah ini, Mas Anwar pun sudah tidak memperdulikan Ima lagi. Jadi untuk apa Ima bertahan di rumah ini," ungkap Delima yang sudah putus asa.


Rupanya sang mertua tidak akan membiarkan menantunya itu pergi, karena jika Ima pergi siapa lagi yang akan memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah, dipikir-pikir daripada membayar pembantu dan pengeluaran semakin banyak, lebih baik Delima yang dijadikan sebagai pembantu tanpa membayar tenaga wanita malang itu.


"Kamu tidak bisa pergi dari sini, ini rumah suamimu, dan kamu tidak bisa pergi begitu saja tanpa seizin dari suamimu, kamu faham!" ucap Bu Semanggi yang kemudian Ia menutup pintu dan menguncinya. Setelah mengunci pintu rumah, ia pun segera membawa kunci itu dan dimasukkannya ke dalam saku bajunya.


"Tapi, Bu! Kenapa pintunya dikunci? Saya mau pergi!" seru Delima memelas. Sang mertua pun menghampiri Delima, kemudian wanita itu menarik rambut Delima sehingga membuat kepala Delima mendongak ke atas.


"Awwww sakit, Bu!" rengek Delima sambil menahan rasa sakit di kepalanya.


"Aku sudah bilang sama kamu! Kamu tidak bisa melawan perintahku, berani kamu pergi dari rumah ini, aku bisa saja mematahkan satu lagi kakimu! Terus aku akan melempar mu di jalanan, apa kamu mau seperti itu? Dan akan banyak anjing jalanan yang mendatangimu, apa kamu tetap ingin pergi?" seru Bu Semanggi mengancam Delima agar gadis malang itu takut dan tidak melanjutkan niatnya lagi untuk pergi dari rumah suaminya.


Akhirnya, Delima tidak bisa berbuat apa-apa, Ia pun terpaksa mengikuti perintah sang ibu mertua, mengingat Delima sendiri memiliki keterbatasan fisik yang membuatnya tidak terlalu lancar untuk berjalan.


"Sekarang! Kamu tidur saja di sini! Biarkan suamimu menikmati malam pengantinnya, dan aku berharap Anwar segera menghamili istri barunya, dengan begitu kamu seharusnya juga senang, kamu akan memiliki seorang anak meskipun bukan dari rahim kamu," ungkap sang mertua yang sangat tidak berperasaan, yang tidak memiliki empati dan sengaja berbicara seperti itu kepada Delima.

__ADS_1


Malam itu, Delima tidur di kursi depan, dengan berbantalkan tangannya, Delima beristirahat meskipun hatinya menangis, ia pun mencoba untuk tetap kuat dibalik terpaan ujian hidup yang bertubi-tubi.


Hingga akhirnya pagi pun mulai menyapa, tiba-tiba pintu kamar Anwar terbuka dan keluarlah seorang perempuan dengan rambut yang masih basah, setelah itu diikuti Anwar yang berada di belakangnya.


"Mas! Aku lapar banget!" seru Mira dengan manja sambil bergelayut pada lengan Anwar.


"Baiklah! Ayo kita makan!" balas Anwar sembari mengajak istri barunya untuk menuju ke ruangan makan. Namun, tiba-tiba ia melihat Delima yang masih tertidur di atas kursi, matanya terlihat sembap akibat menangis semalam.


Di saat yang bersamaan, Bu Semanggi pun turut terbangun dan melihat pasangan pengantin baru yang baru saja keluar dari kamar.


"Anwar, Mira! Kok udah bangun sih! Bangun siang-siang aja nggak apa-apa, ini masih terlalu pagi," ucap Bu Semanggi kepada keduanya.


"Oh kalian lapar, sebentar ya biar ibu menyuruh Ima memasak untuk kalian, kemana tuh anak, ah itu dia astaga! Jam segini masih tidur, Ima!!!!"


Bu Semanggi tampak berteriak membangunkan menantunya itu, tentu saja Delima sangat terkejut dan terlihat masih belum sadar betul. Ia pun terbangun dengan paksa oleh suara cempreng ibu mertuanya.


"Ibu, ada apa, Bu?" seru Delima sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.


"Ada apa ada apa? Kamu lihat ini sudah jam berapa, hah? Tuh suamimu sudah bangun, ayo cepat kamu masak buat suamimu dan juga istri barunya, mereka berdua sudah lapar,ibu tidak mau ya melihat mereka sakit, cepetan tunggu apa lagi sih, ah lelet banget jadi perempuan!" titah Bu Semanggi sambil terus menarik tangan Delima.

__ADS_1


Delima baru sadar, jika di depannya ada wajah suaminya yang sedang berbahagia dengan istri barunya, kemudian Delima menghampiri sang suami dan berkata, "Ini yang kamu sebut cinta padaku, Mas? Kamu biarkan aku tidur di luar, sementara kamu asyik-asyikan dengan perempuan ini!" umpat Delima sembari menatap kesal wajah Mira.


"Cukup ya, Ima! Sekarang mau tidak mau kamu harus menerima kenyataannya, jika suamimu ini memiliki istri lagi, lagian aku masih mampu kok menghidupi kamu, aku akan tetap adil, tapi untuk kali ini kamu harus bisa menghormati Mira sebagai adik madumu," ucap Anwar yang seketika membuat Delima menampar wajah sang suami.


'Plaaakkk'


Melihat sang anak ditampar oleh Delima, tentu saja Bu Semanggi tidak terima dan ia pun menarik tangan Delima dan ganti menampar wajah Delima sambil mengumpat.


"Dasar menantu kurang ajar! Kamu sudah berani menampar putraku, aku saja tidak pernah menyentuh putraku dan menamparnya, kamu hanya seorang perempuan pincang, berani sekali melakukan itu kepada anakku, dasar mantu sialan!!"


Delima sudah cukup merasa tersakiti, meskipun hatinya begitu hancur, tapi Ia berusaha untuk tetap bertahan, ia mencoba untuk tidak menangis lagi di depan ibu mertuanya, tapi dalam hati Delima begitu tercabik-cabik, suami dan mertuanya benar-benar membuatnya menjadi seorang wanita yang sangat hina.


Di saat itulah, lagi-lagi Marissa dalam tubuh Delima, teringat kembali akan sosok sang ibu mertua yang sangat menyayanginya, Bu Narsih. Sosok mertua idaman, dan sayang sekali Marisa sudah menyia-nyiakan kesempatan untuk hidup bersama dengan Ibu mertua yang begitu baik dan perhatian kepadanya.


Delima menatap wajah mertua dan suaminya dengan tajam, seperti ada dendam yang membara pada keduanya.


"Aku bersumpah! Kalian akan membayar mahal untuk ini semua!" batin Delima sembari memegangi pipinya.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2