
Perlahan, Marissa membuka kedua matanya, ia menatap langit-langit ruangan yang merupakan kamarnya sendiri, Marissa terbangun dan melihat ke sekeliling, terdengar suara orang-orang yang sedang mengaji.
Sang Mama mencoba menenangkan putrinya yang saat itu pastinya sangat shock. Marissa pun segera turun dari tempat tidurnya, ia beranjak pergi keluar kamar. Namun, kepergian Marissa di halangi oleh ibunya.
"Marissa! Kamu mau kemana, Nak? Kamu masih lemah, istirahatlah!" seru sang Mama yang menginginkan putrinya untuk tidak keluar kamar. Karena, jika Marissa keluar dari kamar maka tidak menutup kemungkinan, wanita itu akan sangat bersedih, karena di luar jenazah sang suami siap untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhir.
Bram meninggal dunia dalam kecelakaan pagi itu, mobilnya terguling karena ditabrak oleh truk tronton dan menyebabkan mobilnya terbakar hebat, dan Bram tidak bisa menyelamatkan diri dari jebakan api yang sudah terlanjur membakar mobilnya.
__ADS_1
"Ma? Ada suara siapa di luar? Rissa ingin bertemu dengan Mas Bram, di mana Mas Bram, Ma? Katakan! Mas Bram baik-baik saja, kan?" rengek Rissa yang ingin bertemu dengan sang suami.
Sang Mama pun tidak bisa menjawab pertanyaan dari anaknya, tapi ia juga tidak bisa menyembunyikan rahasia jika sang menantu sudah meninggal dunia.
"Katakan, Ma? Kenapa Mama diam saja? Di mana Mas Bram?" desak Marissa yang rupanya ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi di luar. Marissa berlari ke luar dan. sesampainya ia di ruang tamu. Marissa berhenti seketika dan ia melihat banyak orang yang datang ke rumahnya dengan berpakaian serba hitam, sementara di tengah ada sebuah peti yang akan segera diberangkatkan ke makam seusai disholatkan.
"Apa yang terjadi? Kenapa semuanya ada di rumah kami? Mas Bram! Mana Mas Bram, itu tidak mungkin Mas Bram, suamiku tidak mungkin meninggalkan aku, Mas Bram pasti masih hidup, itu bukan Mas Bram, bukaan!!" racau Marissa yang memaksa salah seorang tokoh agama menghampiri mendiang almarhum Bramantyo.
__ADS_1
Marissa seketika bersimpuh di samping peti jenazah sang suami, air mata itu pun jatuh tak terduga, ia menangis sejadi-jadinya, kejadian di depan mata itu membuat Marissa trauma dan selalu terbayang akan kematian tragis sang suami.
Cobaan yang bertubi-tubi datang silih berganti, dari saat dirinya terjebak dalam tubuh Delima, hingga sebuah penyesalan yang teramat dalam kepada ibu mertuanya. Kini, Marissa harus kehilangan suami tercinta saat dirinya sedang mengandung benih dari sang suami.
Bisakah Marissa menghadapi cobaan seberat ini, hanya sang ibulah yang selalu memberikan semangat kepada Rissa untuk melanjutkan hidup.
Setelah kematian sang suami, Marissa tinggal di rumah sang Mama, tidak mungkin ia tinggal sendirian di rumah mewah itu, Marissa memutuskan untuk keluar dari rumah suami, karena rumah itu banyak sekali menyimpan kenangan indah antara dirinya bersama almarhum sang suami, Rissa ingin membuka lembaran hidup baru. Rissa pun memilih tinggal di rumah sang Mama, ia selalu mendapatkan support dari sang Mama untuk tetap sabar dan ikhlas, demi bayi yang saat ini sedang dikandungnya.
__ADS_1
"Kamu harus bersabar, Nak! Semua ini adalah ujian dariNya. Mama yakin kamu pasti bisa menghadapi musibah ini, suami dan ibu mertuamu sudah bahagia di sana. Sekarang kamu yang harus berjuang untuk membesarkan bayi kalian, Bram menitipkan bayi ini untuk kamu rawat, tentu saja kehadiran bayi itu adalah anugerah terindah yang diberikan Allah untuk kalian. Kelak, bayi ini akan menjadi kebanggaan orang tuanya, Mama yakin anak kalian akan menjadi anak yang berbakti dan berguna untuk bangsa dan agamanya, dan Bram pasti bisa tersenyum bangga di sana melihat kamu berhasil menjadikan anak kalian sebagai manusia yang berguna dan beriman," ungkap sang Mama yang seperti sebuah api semangat untuk tidak putus asa.
"Mama benar, aku harus kuat demi bayi ini, karena hanya bayi ini adalah harta yang paling berharga yang ditinggalkan Mas Bram untuk Rissa, dan Rissa akan menjaganya hingga dewasa nanti," seru Rissa sembari mengusap air matanya.