Sayangi Aku, Ibu Mertua!

Sayangi Aku, Ibu Mertua!
Marissa menyesal


__ADS_3

Marissa terbangun dengan sedikit ketakutan, kesadarannya belum berkumpul semua, ia melihat sekitar seperti orang yang terlihat kebingungan.


"Aku dimana ini? Kenapa aku bisa berada di sini!" ucap Marissa yang saat itu terlihat begitu bingung. Rupanya sosok Delima masih mengikuti jiwa Marissa, sehingga membuat wanita itu semakin bingung dengan kejadian yang baru saja menimpa dirinya. Sang ibu mendekati Marissa dan berusaha untuk menjelaskan semuanya.


"Marissa, ini Mama Sayang! Apa kamu tidak ingat Mama?" tanya sang Mama sembari mengusap wajah Marissa yang terlihat gugup dan berkeringat.


Untuk sejenak Marissa mengingat-ingat kejadian yang baru saja Ia alami, ia memejamkan mata dan melihat bayangan wajah Delima yang tidak akan pernah ia lupakan, bagaimana penyiksaan ibu mertua dan saudara-saudara Anwar, belum lagi sikap Madunya yang juga ikut jahat kepada Marissa.


"Tidak, tidak mungkin, Delima!!" teriak Marissa memanggil nama Delima yang sudah memberinya pelajaran yang sangat berharga.


"Marissa! Apa yang sedang terjadi denganmu, Nak? Apa yang baru saja kamu alami, apa kamu mimpi buruk?" seru sang Papa yang turut menemani putrinya yang sudah beberapa hari ini tidak sadarkan diri.


Seketika, Marissa teringat akan sebuah buku yang ia temukan di jalan, Marissa bangun dan mencari keberadaan buku novel yang menceritakan tentang menantu yang tertindas itu.


"Buku itu? Kemana dia?" Marissa dengan tubuh yang sempoyongan mencari keberadaan novel yang sudah ia baca itu.

__ADS_1


"Marissa, apa yang sedang kamu cari, Nak?" tanya sang Mama yang bingung dengan sikap Marissa yang tampak mengacak-acak lemari buku di kamarnya. Dan nyatanya buku itu sudah tidak ada lagi.


"Marissa sebaiknya kamu istirahat dulu, Nak! Kamu terlihat sangat kacau sekali, sepertinya kamu telah melalui sebuah kehidupan yang cukup panjang, entah apa yang terjadi, tapi Papa merasa kamu telah menembus dimensi lain," seru sang Mama yang seketika membuat Marissa membalikkan badannya dan mengangguk.


Sang Mama menatap wajah Marissa yang terlihat penuh penyesalan, perlahan sang Mama berusaha untuk menenangkan putrinya yang masih belum seratus persen tersadar, karena hari-hari yang baru saja ia lalui terpampang jelas di ingatan.


"Duduklah, Nak! Sekarang katakan kepada kami, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sang Mama. Marissa pun berusaha untuk menceritakannya, tapi sebelum ia bercerita, Marissa tampak menangis.


"Rissa menyesal, Ma! Rissa takut!" ucapnya sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


*


*


*

__ADS_1


*


Sementara itu di tempat lain, Bram tampak menatap Sang Ibu, air mata pria tak bisa terbendung lagi tatkala ia memegang tangan Bu Narsih yang saat itu terbaring lemah di rumah sakit. Bu Narsih divonis dokter mengalami gagal ginjal akut sehingga kemungkinan untuk bertahan hidup sangat tipis. Dengan banyaknya selang infus yang menempel pada tubuh wanita tua itu, pernafasan pun sudah dibantu oleh oksigen.


"Ibu! Semoga ibu segera sembuh! Bram tidak ingin melihat ibu menderita, jikalau dibolehkan, Bram ingin supaya penyakit ibu pindah ke tubuh Bram!" seru pria itu yang begitu menyayangi ibunya.


Tiba-tiba, sang Ibu membuka matanya dan melihat sang anak yang selalu berada di sampingnya.


"Braamm!!" suara lemah itu terdengar begitu pelan, Bram segera melihat wajah sang ibu.


"Ibu! MasyaAllah Ibu sudah siuman, Alhamdulillah ya Allah!" seru Bram yang mengharapkan sang ibu sadar setelah beberapa hari tidak sadarkan diri.


"Bram! Apa istrimu sudah pulang?" pertanyaan sang ibu membuat Bram bingung harus menjawab apa.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2