
Jasad Bu Narsih akhirnya dikebumikan, hanya terucap doa tulus Marissa, yang ia panjatkan untuk mertuanya yang baik hati.
"Terima kasih atas semuanya, Ibu! Darimu aku belajar arti sebuah keikhlasan, sekarang Rissa akan menemani Mas Bram dengan iklhas, Rissa akan melakukan nasihat-nasihat Ibu, semoga Ibu bahagia di sana, ditempatkan paling mulia di sisiNya, selamat tinggal Ibu," ucap Marissa sebelum dirinya meninggalkan pusara sang Ibu Mertua.
Marissa dan Bram pun akhirnya pulang, Bram pun mengikhlaskan kepergian sang Ibu, kini dirinya bisa hidup bahagia bersama istri tercinta.
Hari-hari mereka pun terasa lebih bahagia, meskipun sekarang sudah tidak ada lagi kehadiran Bu Narsih. Marissa tetap menjalani kewajiban seorang istri meskipun dirinya juga bekerja. Marissa selalu menomor satukan sang suami, meskipun ia sedang sibuk sekalipun.
Setelah dua bulan sejak kepergian Bu Narsih, Marissa dinyatakan hamil oleh dokter, sungguh kebahagiaan bagi pasangan suami istri itu.
"Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa kami, jika saja Ibu masih hidup, pasti Ibu sangat bahagia," ucap Marissa saat dirinya positif mengandung.
"Ibu pasti bahagia di sana, aku juga berterima kasih kepadamu, kamu sudah memberikan hadiah terindah ini untukku, kalau begitu aku berangkat kerja dulu! Kamu hati-hati di rumah ya! Selama kamu hamil, kamu tidak boleh bekerja, mengerti! Aku tidak mau kamu kecapekan, aku ingin kamu fokus pada kehamilanmu, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak kita," ucap Bram sebelum dirinya pergi ke kantor.
__ADS_1
"Iya, Mas! Aku akan menuruti permintaanmu, lagipula aku pasti sangat menjaga bayi kita, karena bayi ini sangat aku nanti-nantikan!" balas Marissa yang kini memutuskan untuk memakai hijab itu.
"Ya sudah! Mas berangkat dulu! Jaga dirimu baik-baik! Mungkin aku tidak akan pulang, jadi jika kamu mengantuk, kamu tidur saja! Jangan menungguku pulang, ya!" entah kenapa ucapan Bram seolah itu adalah kata perpisahan untuk Marissa.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih, Mas! Kamu pasti pulang, kan?" tanya Marissa khawatir. Bram tersenyum kemudian Ia mencium kening sang istri.
"Aku belum tahu, Rissa! Banyak sekali tugas yang harus aku selesaikan, entah pulangnya kapan, kita lihat saja nanti. Aku cuma minta kamu tidak usah menungguku pulang, nanti kalau sudah selesai aku pasti pulang, Ok!" lagi-lagi Bram meyakinkan istrinya.
"Hati-hati, Mas! Aku pasti tidak bisa tidur jika kamu belum pulang, jangan malam-malam ya pulangnya?" Marissa kini sangat manja kepada suaminya, tentu saja Bram pun mengerti.
Akhirnya, Bram pergi juga ke kantor. Marissa masuk ke dalam rumah dan baru saja Ia menutup pintu rumah, tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang sangat kencang.
'Braaaaakkkkkkk'
__ADS_1
Seketika Marissa lari keluar dan melihat apa yang terjadi.
"Astaghfirullah, suara apa itu?" Marissa berlari kecil menuju ke halaman rumah, terlihat banyak warga yang mulai berlarian dan berkerumun melihat sebuah mobil yang bertabrakan.
Terlihat mobil truk besar yang menabrak mobil Bram sehingga membuat mobil Bram terguling dan ringsek. Marissa tiba di depan pintu gerbang rumahnya, kecelakaan itu berjarak sangat dekat dengan rumahnya, dan ternyata mobil yang tertabrak itu adalah mobil suaminya.
"Tidaaakkkkk ... Mas Braaaammmmm!" teriak Marissa saat melihat mobil suaminya terbakar dan terguling di jalan, para warga menahan Marissa untuk mendekati mobil Bram, karena dikhawatirkan mobil itu akan meledak tiba-tiba.
"Tidak Mas Bram! Mas Braaaammmmm!" Marissa berteriak sambil menangis, hingga akhirnya tiba-tiba mobil Bram yang terguling itu meledak.
"Haaaa ... Mas Braaaammmmm!" spontan Marissa berteriak sekencang mungkin, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri sang suami yang tewas dalam mobil nahas itu.
Tak kuasa menahan, Marissa pun jatuh pingsan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...