
Anwar mengajak istrinya untuk menemui sang Mama. Magdalena tampak terbaring lemah di atas tempat tidur. Wanita yang berusia sekitar 65 tahun itu terlihat begitu senang melihat Anwar datang.
"Anwar, kamu sudah datang, Nak!" seru Magdalena saat melihat wajah putra tirinya itu datang. Tapi, untuk sejenak wajah Magdalena berubah sinis saat melihat Marissa juga ikut datang di belakang suaminya.
Anwar duduk di samping Magdalena dan mencium tangan Ibu tirinya itu. Marissa pun ikut mencium tangan sang mertua, tapi Magdalena segera menarik tangannya. Marissa pun hanya tersenyum saat ibu mertuanya cuek padanya. Sementara itu Anwar tampak berusaha untuk menenangkan sang istri dengan mengusap lengan istrinya. Seolah Anwar berkata tidak akan terjadi apa-apa.
Setelah itu, Anwar mulai mendekati sang Mama, "Bagaimana kabar, Mama?" seru Anwar.
"Ya beginilah, Nak! Kondisi Mama semakin lemah, Mama sendirian tidak ada teman di rumah ini. Mama masih kepikiran kamu terus, Apa kamu tidak berkeinginan untuk tinggal di sini beberapa hari saja?Mama mohon padamu," rengek Magdalena kepada Anwar.
"Tapi, Ma! Bagaimana dengan Marissa? Anwar tidak bisa meninggalkan dia di rumah sendirian," sangkal Anwar yang tidak mungkin meninggalkan Marissa di rumah.
"Ayolah Anwar, apa kamu tidak kasihan sama Mama?" rengek wanita tua itu yang membuat Marissa mulai kasihan, meskipun sebenarnya ia tidak pernah diperlakukan baik oleh sang mertua.
"Nggak apa-apa, Mas! Kamu temani saja Mama di sini untuk beberapa hari. Aku ngga apa-apa kok, kan ada Ibu dan Syakilla di rumah," sahut Marissa kepada suaminya.
"Tapi, aku tidak bisa berpisah denganmu, Ris! Atau gini aja deh, Mama ikut tinggal bersama kami saja, bagaimana? Biar Mama tidak sendirian," tawar Anwar kepada Magdalena.
"Sialan! Niatku pura-pura sakit agar Anwar bisa tinggal di sini dan menjauhi wanita itu. Kok malah aku sih yang disuruh tinggal di rumah mereka. Dah lah sepertinya terpaksa aku harus menuruti permintaan Anwar. Entah apa aku bisa menghadapi wanita ini nantinya. Aku ingin wanita ini pergi dari kehidupan putraku, karena putraku akan aku jodohkan dengan gadis yang lebih kaya daripada Marissa," batin Magdalena.
__ADS_1
"Baiklah, Mama mau ke rumah kalian!" balas Magdalena dengan terpaksa.
Akhirnya, setelah Anwar pun meminta pendapat istrinya, apakah Marissa setuju jika Magdalena ikut tinggal di rumah mereka. Marissa pun menyetujui permintaan sang suami, dan pada akhirnya Anwar pun membawa Magdalena pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Anwar yang baru, Magdalena pun memperhatikan rumah yang dibangun untuk Marissa, wanita itu terlihat sinis dan seolah-olah tidak menyukai jika putranya memberikan rumah yang megah untuk istrinya.
"Untuk apa Anwar buang-buang uang demi memberikan rumah ini untuk istrinya, wanita itu tidak pantas mendapatkan semua ini. Dia tidak seharusnya mendapatkan kemewahan dari putraku. Hanya seorang janda begitu mudah dia menikmati uang anakku, cihhh! Aku bersumpah aku tidak akan membiarkan wanita itu betah berada di rumahnya sendiri," batin Magdalena.
Sementara itu, Marissa berusaha untuk ramah kepada sang mertua, meskipun ia tahu jika sang mertua kurang menyukainya.
"Mari, Ma! Saya antar ke kamar!" seru Marissa sembari menuntun ibu mertuanya untuk masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan.
"Tidak usah!" Magdalena tampak menepis tangan menantunya dan ia memilih berjalan sendiri tanpa bantuan Marissa.
"Iya, Mas! Aku mengerti, kamu tenang saja!" balas Marissa yang mencoba untuk tegar.
Sementara di sisi lain, sang Mama melihat besannya datang ke rumah anak dan menantunya, tentu saja ibunda Marissa itu pun terkejut dengan kedatangan besannya yang dulu tidak mengizinkan Marissa untuk tinggal di rumah mewah miliknya.
"Nyonya Magdalena? Kenapa dia ada di sini?" pikir sang Mama yang juga bingung. Kemudian sang Mama menghampiri Marissa dan bertanya, "Rissa! Bukankah itu Nyonya Magdalena? Kenapa dia ada di sini?"
__ADS_1
"Mama Magdalena sedang sakit, Ma! Dan dia ingin tinggal bersama kami di rumah ini," balas Marissa.
"Aduhh Marissa! Bukannya ibu tidak suka melihat ibu mertuamu itu ikut tinggal di rumah ini. Hanya saja ibu merasa jika kehadiran mertuamu itu akan mempengaruhi rumah tangga kalian nantinya, Mama takut itu akan terjadi mengingat Nyonya Magdalena itu tidak setuju anaknya menikah dengan seorang janda," ungkap sang Mama.
"Mama tidak usah khawatir, Inshallah Marissa akan kuat, Ma!" balas Marissa.
*
*
*
Hari demi hari, kini rumah tangga Marissa kedatangan ibu mertuanya yang rupanya kehadiran wanita itu memang cukup membuatnya sedikit kerepotan, apalagi Magdalena memang sengaja menyuruh Marissa untuk menjaganya dan merawatnya, mengingat Magdalena masih berpura-pura sakit untuk mengelabui anak dan menantunya. Meskipun banyak pelayan dan suster yang dibayar Anwar untuk merawat sang Mama. Nyatanya, Magdalena tidak mau dirawat kecuali oleh Marissa.
"Marissa!!!!" teriak Magdalena dari dalam pintu.
Marissa yang saat itu sedang bersama putrinya, seketika langsung menemui Magdalena.
"Iya, Ma! Ada apa?" tanya Marissa saat ia sampai di kamar sang mertua.
__ADS_1
"Kamu ini budeg atau apa sih? Ambilkan aku minum, aku haus nih. Dari tadi dipanggil nggak datang-datang, lelet banget sih jadi mantu," umpat Magdalena.
...BERSAMBUNG ...