
Sementara itu di rumah sakit, kondisi Bu Narsih yang masih dipasang selang infus, wanita itu terlihat semakin lemas terkulai, sang dokter pun mengatakan jika tidak ada lagi harapan untuk sembuh.
Detak jantung Bu Narsih semakin lama semakin melemah. Apalah daya, Bram terlihat semakin panik dan takut jika sang Ibu tidak bisa bertahan. Sedangkan di tempat lain, Marissa sudah tiba di depan rumah sakit dimana sang ibu mertua dirawat.
Ia pun segera masuk dan menanyakan dimana kamar Bu Narsih dirawat, sang resepsionis menunjukkan letak kamarnya. Marissa segera pergi ke kamar yang ditunjukkan oleh sang resepsionis.
Marissa berhenti di kamar Delima nomor 8. Sebuah nama kamar yang mengingatkan dirinya akan sosok Delima yang pernah ia temui.
Marissa membuka pintu kamar dimana sang mertua sedang terbaring sakit, perasaannya hancur saat melihat tubuh tak berdaya itu terbaring lemah. Hatinya merasa sakit, ia belum sempat meminta maaf kepada ibu mertuanya tentang apa yang pernah ia lakukan kepadanya.
Perlahan, Marissa berjalan menuju ke tempat sang ibu mertua yang sedang berjuang diantara hidup dan mati. Sementara itu Bram terlihat menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Mas!" seru Marissa kepada Bram, seketika Bram mengangkat wajahnya dan terkejut saat melihat wajah sang istri yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Marissa!!" sahut Bram yang langsung berdiri dan menghampiri istrinya. Spontan Marissa mencium tangan dan bersujud di hadapan sang suami, Marissa meminta maaf kepada suaminya karena kelakuannya selama ini yang tidak menghormati sang ibu mertua.
"Aku minta maaf, Mas! Aku mohon padamu maafkan aku! Aku menyesal, aku sangat menyesal!" ungkap Marissa sembari menangis sesenggukan.
"Bangunlah! Apa yang kamu lakukan?" seru Bram sembari membangunkan sang istri.
"Aku tahu apa yang sudah aku lakukan itu sangatlah berdosa, aku bukan istri yang baik, seharusnya aku mendukungmu untuk berbakti kepada ibu, tapi apa yang aku lakukan? Aku justru mencurigai ibu macam-macam, aku sangat bodoh, aku tidak tahu diri, dan sekarang aku ingin meminta maaf kepadamu dan juga kepada ibu, aku akan menebus semua kesalahanku pada ibu, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf dari Ibu," ungkap Marissa dengan segala kesedihannya.
"Ibu! Ibu sudah sadar? Ibu?" seru Bram sembari mendekati Bu Narsih yang mulai membuka kedua matanya.
__ADS_1
"Ibu!" Marissa melihat kelopak mata Bu Narsih yang mulai terbuka, samar terlihat wajah sang menantu yang lama ia rindukan.
"Ibu! Alhamdulillah ibu sudah sadar!" seru Marissa sembari mencium tangan sang mertua. Bu Narsih tampak menitikkan air matanya saat melihat wajah menantunya yang ada di dekatnya.
"Ma ... ris ... sa!!!" suara sang mertua yang terdengar terbata-bata.
"Ibu! Maafkan Marissa, Bu! Marissa sudah salah sama Ibu, Marissa menyesal!" seru Marissa sembari menangis di samping ibu mertuanya.
"Ibu senang bisa melihatmu lagi, Nak! Ibu sangat ingin bertemu denganmu, kamu kemana saja? Bram ibu suruh menjemputmu di rumahmu, tapi dia tidak mau, kalau saja ibu bisa, Ibu yang akan menjemputmu sendiri, tapi sebelum ibu datang ke rumahmu, tiba-tiba saja ibu berada di ruangan ini, ibu tidak tahu apa-apa lagi, kepala ibu sangat sakit." Bu Narsih terlihat lemah saat menceritakan kondisinya.
Saat itu Bu Narsih hendak menjemput sang menantu, karena kondisi tubuhnya yang akhir-akhir itu kurang vit, akhirnya Bu Narsih jatuh pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit, dokter pun memvonis bahwa Bu Narsih mengalami gagal ginjal akut.
__ADS_1
"Kenapa ibu harus melakukan hal itu? Marissa yang salah, Marissa malu sekali dengan Ibu, ternyata ibu adalah seorang yang sangat baik sekali, Marissa sangat bodoh sudah mengabaikan kasih sayang Ibu, maafkan Rissa, Bu!" rengek Marissa yang merasa begitu bersalah kepada sang mertua.
...BERSAMBUNG ...