
Ucapan Anwar bagaikan silet yang berkarat, menyayat hati Delima yang begitu rapuh. Rasanya air mata itu sudah kering, terlalu banyak Delima mengeluarkannya, kini tak ada lagi air mata Delima, yang ada hanya sebuah sakit hati dan kesal kepada Anwar dan Madunya.
Melihat Delima yang bengong berdiri memperhatikan Anwar dan Mira, Bu Semanggi pun segera beranjak untuk memaksa Delima agar melakukan tugasnya yang belum selesai.
"Hei, Ima! Bukankah tugasmu masih banyak, haaahh! Sekarang tugasmu adalah bersih-bersih seluruh ruangan, ayo cepat lakukan!" Titah Bu Semanggi sembari berkacak pinggang.
Marissa dalam tubuh Delima sudah lelah dengan peraturan ibu mertuanya, wanita itu pun sudah tidak bergairah lagi, seolah semuanya adalah sia-sia, percuma saja dirinya bertahan agar suaminya tidak pergi darinya, sedangkan ibu mertuanya sendiri sangat membela anaknya daripada membela Delima yang jelas tersakiti karena dirinya diduakan.
Apakah sang mertua tidak memiliki rasa empati sesama wanita, sepertinya tidak! Bu Semanggi sengaja ingin menyakiti Delima dan membuat wanita itu terpuruk.
Setiap hari, hanya Delima lah yang mengerjakan pekerjaan rumah, sosok Marissa yang dulu sempat melawan, akhirnya kini ia pun mulai menerima hukuman ini, mungkin inilah caranya untuk menebus kesalahannya kepada sang ibu mertua, ia berharap semoga lorong waktu itu segera datang di hadapannya dan ia bisa segera kembali ke asalnya, dunianya yang nyata sebagai seorang istri dari Bramantyo.
__ADS_1
Meskipun, sebenarnya Marissa tidak iklhas melihat penderitaan yang ia alami lewat tubuh Delima, tetap saja ia merasa seolah dirinya yang sedang merasakan penderitaan itu, mungkinkah ini karma bagi menantu yang sering mengabaikan mertuanya yang sudah sangat menyayangi dirinya.
"Hei Ima! Cepat cuci bajuku sekarang, besok aku mau memakainya di acara kondangan teman bersama Mas Anwar, yang bersih nyucinya, setelah itu kamu setrika dengan pewangi, ingat! Suhunya jangan terlalu panas, jika kepanasan bajuku bisa rusak, dan kamu yang akan aku hajar kalau bajuku sampai rusak!" seru Mira yang datang ke dapur tiba-tiba dan menyuruh Ima untuk mencuci pakaiannya.
Jika menurut perintah ibu mertuanya Delima masih mau, tapi tidak untuk Madunya. Ima menolak permintaan Mira untuk mencuci baju istri kedua Anwar itu.
"Jika kamu takut aku merusak bajumu, lebih baik kamu cuci sendiri, maaf aku banyak pekerjaan," ucap Delima menolaknya.
"Kamu tuh ya!! Aku bilangin sama Ibu tau rasa kamu!" umpat Mira sambil mengadukan penolakan Delima yang tidak mau mencuci baju Mira. Delima pun tidak perduli dengan ancaman Mira.
Bu Semanggi langsung membalikkan badan Delima sambil berkata, "Eh Ima! Kenapa kamu tidak mau mencuci bajunya Mira? Bukankah itu tugasmu?" seru Sang mertua dengan bola mata yang membola.
__ADS_1
"Tapi, Bu! Ima masih banyak kerjaan, Ima harus selesaikan dulu pekerjaan Ima biar ibu senang," balas Ima yang merasa mertuanya itu pilih kasih.
"Udah-udah stop dulu pekerjaanmu, sekarang cuci bajunya Mira, ibu nggak mau tahu, ya! Kamu harus menuruti perintah Mira, karena bagaimanapun juga Mira tidak boleh capek-capek karena ibu segera menginginkan cucu darinya, dah sekarang cuci ini bajunya, nggak usah menolak, kamu mau ibu hukum lagi, hahh?" sentak Bu Semanggi yang memaksa Delima menuruti perintah sang mertua.
Akhirnya, dengan berat hati Delima pun mencuci baju milik Madunya itu, sementara itu Mira terlihat senang, dan ia pun bisa berleha-leha sambil memainkan ponselnya.
Sesekali Ima melihat Mira yang terlihat begitu santai tanpa melihat dirinya yang sedang sibuk mencuci pakaian Mira.
"Eh yang bersih ya! Aku nggak mau bajuku masih terlihat kotor, itu baju mahal, bahkan harganya pun lebih mahal dari harga diri kamu, Delima!!" umpat Mira yang spontan membuat Delima tak terima.
Delima beranjak pergi ke tempat Mira dan segera melemparkan baju yang masih basah itu pada wajah madunya.
__ADS_1
"Cuci sendiri tuh baju!!"
...BERSAMBUNG ...