
Sejak kehadiran Marissa, kondisi Bu Narsih terlihat sedikit membaik, setidaknya Bu Narsih sudah bisa menggerakkan tangannya, mulai saat itu Marissa merawat sang mertua dengan baik, sebagai ganti dirinya menebus kesalahannya kepada sang ibu mertua selama ini.
Hari demi hari, Marissa merawat Bu Narsih dengan telaten, mengingat bagaimana dirinya saat menjadi Delima, Marissa tersiksa jiwa dan raga meskipun dirinya dalam tubuh Delima, tak bisa dipungkiri rasa sakit hati itu tidak bisa terlupakan begitu saja, sampai kini perasaan Marissa masih sangat terluka saat mendapatkan perlakuan yang sangat tidak adil dari Bu Semanggi dan suaminya Anwar.
Hingga suatu ketika, Marissa pamit untuk ke kamar mandi sebentar setelah dirinya menyuapi sang mertua bubur.
"Bu, Rissa pergi ke kamar mandi dulu, ya!" ucapnya. Namun, Bu Narsih tiba-tiba menahan tangan Marissa seolah-olah dirinya tidak mau ditinggal.
"Kamu mau kemana, Rissa?" seru Bu Narsih dengan suara yang mulai melemah.
"Rissa sebentar kok, Bu. Nggak akan lama, cuma mau cuci tangan sebentar!" bujuk Marissa sembari tersenyum kepada ibu mertuanya.
"Jangan pergi, Nak! Ibu ingin kamu menemani Ibu di sini, ibu takut kamu pergi meninggalkan ibu lagi," ucapan Bu Narsih seketika membuat Marissa mencium tangan sang ibu mertua.
"Rissa tidak akan meninggalkan ibu lagi Rissa janji, Rissa cuma sebentar saja kok, ibu tunggu di sini dulu sebentar saja, ya! Nggak sampai lima menit," ujar Marissa sembari melepaskan tangan sang ibu mertua.
__ADS_1
Perlahan, tangan keduanya terlepas. Dan Marissa pun segera pergi ke kamar mandi, saat Marissa masuk ke kamar mandi, tiba-tiba Bu Narsih memejamkan matanya dan tangannya mulai lemas, bak orang yang sedang tertidur pulas.
Marissa buru-buru cuci tangan karena ia tidak ingin sang mertua menunggunya terlalu lama. Setelah beberapa menit, Marissa pun mengelap tangannya dan setelah itu Ia segera keluar dari kamar mandi.
Marissa berjalan menghampiri ibu mertuanya yang sedang berbaring sembari memejamkan matanya. Kemudian Marissa memegang tangan sang ibu mertua, ia merasakan jika sentuhan tangan ibu mertuanya terasa berbeda, Marissa merasa jika tangan ibu mertuanya teraba dingin.
"Bu, Ibu!" Marissa memanggil-manggil nama Ibu mertuanya, tapi tak ada jawaban dari Bu Narsih. Marissa pun semakin keras memanggil sang mertua. Lagi-lagi Marissa tidak mendapatkan jawaban dari Bu Narsih.
"Ibu! Ibu kenapa? Ibu!!" Marissa mulai panik, dan Ia pun meraba wajah ibu mertuanya, tak ada respon dari sang mertua, yang ada hanya kebisuan dan diam.
"Rissa, apa yang terjadi? Kenapa dengan ibu?" Bram datang dalam kondisi panik dan Ia melihat sang ibu yang sedang diam tak bergeming saat Marissa mencoba membangunkannya.
"Ibu, Mas! Ibu ..." seru Marissa yang mendapati ibu mertuanya sudah tidak bisa merespon sama sekali. Bram pun segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi ibunya.
"Dokter! Tolong Dokter, tolong periksa kondisi ibu saya!" pinta Bram yang tak kalah khawatir dengan apa yang terjadi pada sang ibu. Kemudian dokter segera memeriksa detak jantung dan denyut nadi Bu Narsih.
__ADS_1
Bram dan Marissa tampak cemas dan berharap Bu Narsih baik-baik saja. Setelah dokter memeriksa kondisi Bu Narsih, bisa dipastikan jika Bu Narsih sudah meninggal dunia.
Dokter dengan sangat menyesal mengatakan kepada Bram dan Marissa jika Bu Narsih tidak bisa diselamatkan lagi.
"Saya minta maaf Pak Bram, dengan sangat menyesal saya harus katakan jika Ibu Anda sudah meninggal dunia," ucap sang dokter.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, Ibuuuuu!!!" Marissa spontan berlari dan memeluk ibu mertuanya, sungguh ia tidak menyangka jika Bu Narsih pergi secepat itu meninggalkannya, padahal baru saja dirinya mendapatkan kesempatan untuk merawat sang mertua. Ternyata takdir berkata lain.
"Kenapa ibu harus tinggalkan Rissa seperti ini? Rissa hanya sebentar, Bu! Rissa hanya cuci tangan, tapi kenapa Ibu pergi begitu saja, Rissa sayang sama Ibu!!"
Wanita itu menangisi kepergian ibu mertuanya, sungguh penyesalan yang teramat besar, kesempatan Rissa untuk berbakti kepada ibu mertuanya tidak dibiarkan oleh Bu Narsih.
Bu Narsih pergi meninggalkan anak dan menantunya dengan bahagia, setidaknya ia sudah membuat rumah tangga anaknya menjadi bersatu kembali. Namun, ada kesedihan yang teramat dalam dari diri Marissa, sebuah penyesalan kenapa tidak sedari dulu dirinya berbakti kepada sang Ibu mertua, setelah tiada Marissa baru merasakan jika kehadiran ibu mertuanya sangatlah berarti dalam hidupnya.
"Andai saja aku bisa memutar waktu." Sebuah kalimat yang terucap begitu dalam dari diri Marissa.
__ADS_1