
"Iya, Mas! Ibu menampar ku, kamu lihat ini! Pipiku merah, sakit banget, Mas!" alih-alih ingin mengadukan segala rasa sakitnya kepada sang suami, Delima justru mendapatkan teguran yang tidak mengenakkan dari suaminya sendiri.
Anwar menghampiri Delima dan melihat wajah istrinya yang memang terlihat bekas tamparan tangan itu.
"Halah cuma gini aja kamu nangis! Cengeng banget sih! Ibu menampar kamu pasti punya alasan, mungkin kamu nggak nurut kata-kata ibu, atau kamu melawan perintahnya, ya wajar saja ibu melakukan itu, sudah! Sekarang nggak usah cengeng lagi, kamu itu adalah istri pilihan ku sendiri, kamu tahu sendiri banyak gadis-gadis diluar sana yang mengantri menikah dengan suamimu ini, tapi kenapa aku menolaknya? Karena aku sangat yakin jika kamu adalah istri yang bisa ku andalkan, sekarang coba kamu pikir, laki-laki mana yang mau menikah dengan gadis cacat sepertimu, jika bukan aku? Seharusnya kamu bersyukur sudah aku nikahin dan bebanmu sekarang berkurang, cuma nuruti ibu saja kamu ogah-ogahan," seru Anwar yang semakin membuat Delima sakit hati.
"Kok kamu bilang gitu sih, Mas? Aku ini istri kamu, bukan pembantu di rumah ini, iya aku tahu tugasku adalah untuk melayanimu, tapi apakah aku juga harus melayani semua penghuni di rumah ini?" protes Delima.
Anwar pun tetap tidak memperdulikan aduan sang istri, ia acuh dan kemudian mengambil sebuah amplop coklat yang berada di dalam tas miliknya, Anwar terlihat membuka amplop coklat itu dan berkata kepada sang istri.
"Tugasmu di rumah ini bukan hanya melayaniku, tapi kamu juga harus menuruti perintah ibu, tidak boleh menolak, karena itu sudah perintah, aku ingin menunjukkan kepada ibu jika istriku bisa membantunya mengurus rumah," ucap Anwar serius, setelah itu Ia pun segera beranjak keluar dari kamar. Namun, sebelum ia pergi, Delima memanggil sang suami.
__ADS_1
"Tunggu, Mas! Apa itu yang kamu bawa?" tanya Delima saat melihat amplop coklat yang dibawa oleh suaminya.
"Ini adalah gajiku bulan ini, mulai sekarang gajiku akan aku berikan kepada ibu semuanya," jawab Anwar dengan entengnya. Tentu saja Delima tidak terima jika gaji suaminya diberikan seluruhnya kepada sang ibu mertua.
"Tapi, Mas! Bukankah aku juga punya hak atas uang suamiku, setidaknya aku juga butuh nafkah lahir, Mas! Untuk beli keperluan kita juga," protes Delima. Dan Anwar pun cuma bisa menyeringai.
"Iya aku tahu itu, tapi aku lebih percaya uang ini dikelola oleh Ibuku, aku tidak percaya kepadamu lagi, aku takut kamu bersikap boros, beli yang enggak-enggak, kemarin saja kamu sudah beli daster, buat apa? Buang-buang duwit cuma beli daster, baju kamu kan masih banyak," seru Anwar yang pernah mendapati istrinya membeli daster seharga 50 ribu, dan itu cukup membuat Anwar marah.
"Aku tidak perduli, yang jelas kamu sudah menghamburkan uang hasil keringatku, jika kamu ingin beli daster, kerja sendiri! Jangan minta duwit dariku, kamu pikir aku ini tidak capek, kerja keras siang dan malam untuk kehidupan sehari-hari, eh kamu malah membuang-buang uang begitu saja, dasar boros!" umpat Anwar yang membuat Marissa yang berada dalam jiwa Delima semakin menderita.
Untuk sejenak Marissa teringat jika tidak pernah merasa kekurangan uang belanja dari Bram, suaminya. Padahal Bram juga memberikan uang kepada ibunya, Bram tidak pilih kasih, antara istri dan ibunya. Dan itu membuat Marissa merasa malu jika dirinya pernah marah ketika Bram memberikan sedikit uang kepada ibu mertuanya.
__ADS_1
Kini, Marissa merasa semuanya berbanding terbalik dengan kehidupan nyata, dalam sosok Delima, Marissa merasa jika suaminya tidak adil dan pilih kasih. Ia pun teringat dengan sosok suami sempurna seperti Bram, selalu memberikan uang lebih dari cukup untuknya, tapi Marissa masih saja kurang bersyukur, ia masih iri dengan ibu mertuanya sendiri.
Sosok Anwar memang mirip sekali dengan wajah Bram, suami Marissa. Tapi untuk perwatakan nya, sangat berbeda seratus delapan puluh derajat. Anwar berkata kepada Delima, jika ingin meminta uang, Delima disuruh minta kepada ibunya. Karena sekarang uang belanja disetir oleh Bu Semanggi.
Bagaimana bisa Delima meminta uang kepada ibu mertuanya, jika Bu Semanggi tidak pernah memberikan uang sepeserpun kepada menantunya itu, sehingga apapun yang dimakan dan dipakai oleh Delima, itu adalah atas persetujuan dari ibu mertuanya.
Di saat Delima meminta uang kepada ibu mertuanya, di situ juga Delima mendapatkan hinaan dan cacian yang menyakitkan, Delima dianggap sebagai menantu pembawa sial. Umpatan demi umpatan Delima dapatkan dari mulut Bu Semanggi. Membuat perasaan Delima semakin tertekan.
"Kehidupan apa yang sedang aku jalani ini ya Tuhan! Sampai kapan aku harus seperti ini, kuatkan hatiku untuk menghadapi sikap mertua ku!"
...BERSAMBUNG...
__ADS_1