Sayangi Aku, Ibu Mertua!

Sayangi Aku, Ibu Mertua!
Aku harus kuat


__ADS_3

Rissa menjaga kandungannya hingga saat ini usia kandungannya menginjak 7 bulan, sembari bekerja Rissa juga menjaga kehamilannya. Karena bagaimanapun juga Rissa bukanlah tipe wanita yang suka berdiam diri di rumah, ia suka bekerja menjadi wanita karir meskipun ia mendapatkan harta warisan dari almarhum suaminya cukup banyak.


Sosok Marissa mendapatkan perhatian dari pimpinan perusahaan yang baru. Anwar Baskoro, putra dari pemilik perusahaan yang tak lama yang kini memberikan mandat kepada putranya yang untuk mengurus perusahaan.


Anwar Baskoro, pria tampan yang sekarang menjadi atasan Marissa tampak memberikan perhatian lebih kepada salah satu staf karyawannya yang sedang mengandung, dan tak lain adalah Marissa. Sedari awal Anwar sudah menyukai sosok Marissa yang diketahui adalah seorang janda, meskipun Marissa sedang hamil, Anwar tetap berharap bisa mendekati wanita yang wajahnya mirip sekali dengan mendiang ibu kandungnya.


Malam itu, Marissa hendak pulang dari kantor, kondisi kehamilannya yang semakin tua membuat Marissa sedikit begah, seharusnya Marissa sudah mengambil cuti karena 2 bulan lagi ia akan melahirkan. Namun, Marissa lebih memilih mengambil cuti satu bulan sebelum hari persalinan, agar dirinya bisa lebih lama merawat bayinya.


"Marissa!" sapa Anwar kepada stafnya itu.


"Pak Anwar!" balas Marissa sembari menundukkan kepalanya.


"Kamu mau pulang? Bareng aku aja, aku tidak suka melihat seorang wanita yang sedang hamil tua pulang kerja sendirian," seru Anwar sambil tersenyum.


"Em ... tidak usah terima kasih banyak, Pak! Saya bisa pulang sendiri," balas Marissa menolaknya. Anwar pun tidak menyerah begitu untuk mendekati Marissa yang sudah mengambil perhatian dari pria yang usianya sudah cukup untuk berumah tangga itu.

__ADS_1


"Tunggu Marissa! Sebenarnya aku ingin bicara empat mata denganmu, aku ingin mengajakmu makan di luar? Apa kamu punya waktu?" Anwar berkata dan berharap dirinya bisa mendapatkan lampu hijau dari Marissa.


"Maaf, Pak! Sepertinya saya harus segera pulang, saya takut ibu saya nanti mengkhawatirkan keadaan saya, permisi!" pamit Marissa sembari beranjak pergi meninggalkan sang bos yang saat itu terus berdiri memperhatikan wanita cantik itu.


"Baiklah! Untuk sekarang aku harus mengalah, tapi tidak untuk nantinya, Marissa! Aku pasti bisa mendapatkan hatimu, dan kamu harus bisa menjadi milikku," batin Anwar dengan sungguh-sungguh.


Marissa pulang dengan menaiki taksi, ia pun sedikit gugup saat bertemu dengan bos baru yang masih satu bulan memimpin perusahaan. Bos yang namanya sama dengan pria dalam novel yang merupakan suami Delima, di mana Marissa pernah masuk ke dalam tubuh istri Anwar itu.


"Ya Tuhan! Kuatkan hatiku, ujian apa lagi ini, aku hanya ingin membesarkan bayi ini, peninggalan satu-satunya yang paling berharga dari Mas Bram, anak kami." Marissa mengelus-elus perutnya yang kian membuncit.


Sang Mama menghampirinya putrinya, "Rissa! Kamu sudah pulang, Nak! Kamu kelihatan capek sekali, apa tidak sebaiknya kamu mengambil cuti saja secepatnya, Nak! Mama perhatikan kakimu mulai bengkak," seru sang Mama yang khawatir dengan kondisi putrinya.


"Rissa tidak apa-apa, Ma! Rissa hanya ingin istirahat," ucap wanita itu sembari beranjak untuk pergi ke kamarnya. Namun tiba-tiba saja Marissa mengalir kontraksi rahim yang terasa begitu sakit.


"Aduh, perutku!" pekik Marissa sembari mendekap perutnya dan tiba-tiba saja mengalir air ketuban diantara kedua kakinya.

__ADS_1


"Marissa, kamu tidak apa-apa, Nak! Ya Tuhan kamu pasti ingin melahirkan, kita ke rumah sakit sekarang," seru sang Mama yang langsung membawa putrinya untuk pergi ke rumah sakit bersalin.


Ternyata memang benar, Marissa sedang melahirkan, ia berjuang untuk melahirkan bayinya dengan sekuat tenaga, dan tepat pukul sembilan malam Marissa melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik.


"Selamat, Nyonya! Bayi Anda sangat cantik," seru dokter sembari memberikan bayi mungil itu kepada Marissa.


Air mata kebahagiaan pun membasahi wajah cantik Marissa, akhirnya ia melahirkan putrinya dengan selimut dan ia pun berjanji akan merawat putrinya itu dengan kasih sayang yang penuh.


"Sayang! Mama berjanji akan selalu bersamamu, Nak! Kamu adalah putri Mama satu-satunya, Papamu pasti bahagia melihat kamu lahir ke dunia, bukan hanya Papamu, nenekmu juga tak kalah bahagia melihat cucunya yang cantik," ucap Marissa tatkala dirinya merasa jika kehadiran bayinya itu pasti sangat membahagiakan suami dan ibu mertuanya.


"Andai saja kamu dan ibu masih hidup, Mas! Pasti kebahagiaan kita akan lengkap, tapi nyatanya semua ini sudah takdir dari yang maha kuasa, dan aku harus kuat dan tegar!"


Marissa menitikkan air matanya saat teringat akan mendiang suami dan ibu mertuanya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2