Sayangi Aku, Ibu Mertua!

Sayangi Aku, Ibu Mertua!
Darah


__ADS_3

Setelah pelayan datang, Marissa pun mencoba mengejar suaminya. Ia mengikuti Anwar yang saat itu sedang berjalan menuju ke kamar.


"Mas! Kamu kenapa?" seru Marissa saat mereka tiba di dalam kamar. Anwar masih diam dan tampak membuka jas kerjanya sendiri. Biasanya Marissa lah yang melepaskannya.


Melihat sang suami melepaskan jasnya sendiri. Marissa pun bergegas untuk membantu suaminya melepaskan jasnya. Anwar masih diam dan tidak perduli. Setelah jas itu terlepas, kini Marissa membuka kancing kemeja suaminya sambil menatap wajah sang suami.


Anwar masih terlihat dingin dan ia tidak membalas tatapan istrinya. Hingga akhirnya, Marissa pun tidak sabar ingin berbicara kepada Anwar.


"Kamu marah padaku, Mas?" tanya Marissa memberanikan diri. Anwar pun masih bungkam. Tidak berhenti sampai di situ. Marissa terus berusaha untuk berbicara dengan suaminya. Marissa ingin menyelesaikan masalah hari itu juga, ia tidak ingin hanya karena masalah sepele menjadi berlarut-larut.


"Kok kamu diam saja sih, Mas! Aku minta maaf jika sudah membuatmu marah. Apa karena aku tidak mendengar perintahmu tadi. Jadi kamu merajuk seperti ini?" sambung Marissa.


"Sudahlah! Percuma ngomong sama kamu, toh akhirnya aku tidak pernah kamu dengarkan. Mending kamu tidur saja, aku mau mandi." Anwar menepis tubuh istrinya. Ia pun segera pergi ke kamar mandi.


Marissa hanya bisa menghela nafasnya. Tanpa ia sadari, air matanya seketika jatuh menetes dari sudut matanya. Terasa begitu sesak di dada ketika sang suami berkata seperti itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah aladzim! Mengapa ini harus terjadi padaku lagi? Apakah aku memang ditakdirkan untuk mendapatkan mertua jahat? Tidak-tidak, aku tidak boleh mengeluh. Aku harus bisa menghadapinya. Allah sudah menggariskan aku untuk mendapatkan mertua seperti Mama Magdalena, mungkin Allah sedang menguji keimanan dan keikhlasanku sebagai seorang istri. Kuatkan hambamu ini ya Rabb!"


Marissa berusaha untuk bersabar, ia pun merapikan baju suaminya dan ia pun menyiapkan tempat tidur yang nyaman untuk sang suami. Meskipun Marissa masih terlihat pucat dan lemas akibat mengandung di usia trimester pertama. Ia tetap berusaha untuk tampil cantik di depan sang suami.


Setelah seharian capek melayani Magdalena, Marissa merasa kepalanya sedikit pening. Ia pun beranjak untuk berbaring dan beristirahat sejenak.


Anwar pun keluar dari kamar mandi setelah ia selesai membersihkan dirinya, saat itu ia melihat sang istri yang sedang berbaring di atas ranjang. Meskipun Anwar masih marah kepada istrinya. Tapi, dirinya tidak sanggup jika melihat Marissa yang sedang berbaring dengan posisi terlentang.


Anwar tersenyum smirk. Sebagai pria yang normal, Anwar merasa ingin mendapatkan hak dari sang istri. Sudah hampir satu Minggu dirinya tidak mendapatkan jatah kasih sayang dari Marissa.


Perlahan, Anwar mengendap-endap mendekati Marissa. Sesampainya di atas tempat tidur, Anwar segera memeluk istrinya dan menciuminya.


"Malam ini aku menginginkanmu, Sayang!" bisik Anwar yang berusaha untuk melepaskan pakaian istrinya.


"Mas Anwar! Aku mohon sama kamu, tolong jangan malam ini, aku sangat lelah dan capek sekali." Rengek Marissa.

__ADS_1


"Capek? Lebih capek mana dengan aku? Sudah seminggu kamu tidak melayaniku, dan sekarang saatnya kamu harus melakukannya," sahut Anwar yang sudah siap untuk menerkam istrinya. Marissa menggelengkan kepalanya, karena ia merasa tidak kuat jika harus melayani Anwar malam ini. Apalagi kondisi Marissa yang tengah hamil muda.


"Jangan, Mas! Jangan sekarang, aku takut akan berpengaruh terhadap bayi kita, aku benar-benar capek, Mas! Tolong mengertilah!" lagi-lagi keluhan Marissa tidak digubris oleh Anwar. Pria itu pun segera membenamkan miliknya di sana. Seketika Marissa menjerit kesakitan tatkala hujaman demi hujaman terasa begitu sakit pada perut bagian bawah.


Marissa pasrah, ia tidak bisa membendung hasrat suaminya yang terlanjur memuncak. Marissa hanya bisa menangis ketika rasa sakit itu begitu mendera hingga ke tulang.


Setelah beberapa menit. Anwar terkulai lemas di samping istrinya. Spontan Marissa merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman pada area intinya setelah sang suami mengobok-obok nya.


Marissa terbangun dan ia melihat darah yang sangat banyak keluar dari inti tubuhnya dan mengotori sprei berwarna putih itu. Noda darah yang teramat banyak.


"Aaaaaa ... tidaaakkk!" teriak Marissa seketika membuat Anwar terkejut.


"Marissa ada apa?"


"Kamu lihat ini, Mas!" seru Marissa sambil menunjuk sprei yang penuh gumpalan darah itu.

__ADS_1


"Darah?" Anwar tercengang saat melihat darah keluar begitu banyak dari organ inti sang istri.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2