Secret of My Life

Secret of My Life
Chapter 09


__ADS_3

Naruto melihat tanggal, masih beberapa kali ke kampus sebelum libur musim dingin dan libur akhir tahun. Dia ingin segera terbebas dari tugas kuliah dan memfokuskan diri menjadi orang tua Sei setelah berbulan-bulan sering meninggalkan si kecil hanya bersama ibu atau pelayan di rumah.


"Naruto." Sebuah suara berasal dari sampingnya terdengar.


"Hm." Sahut Naruto tanpa menoleh karena matanya terus tertuju pada layar laptop. Setelah ini dia harus pergi ke tempat lain, dia ingin mengecek tugas yang ia kerjakan terlebih dahulu sebelum nanti lupa setelah materi selanjutnya.


Sasuke yang melihat betapa serius si pirang hanya terus memandangi dari samping, tidak berniat mengganggu.


Lima menit kemudian barulah Naruto sadar ada yang menatapnya dari tadi.


"Sudah selesai?" tanya pemuda di sampingnya.


Naruto melotot kaget. "Sejak kapan kau di sini, Sasuke?"


"Baru sebentar." Jawab sang Uchiha. "Apa yang kau kerjakan dengan ekspresi serius seperti tadi?" Tanya Sasuke sembari menopang dagu dengan punggung tangan.


Si pirang mengusap leher dengar ekspresi malu. "Hanya tugas."


"Setelah ini ada jadwal di kampus utama 'kan? Mau sekalian ke sana denganku?"


"Aku naik bus."

__ADS_1


"Bukannya bus sangat sesak? Denganku lebih cepat. Kau bisa menghemat waktu untuk mengerjakan tugasmu."


Tawaran Sasuke sangat menggiurkan sampai Naruto sulit menolak. Akhirnya dia hanya mengangguk mengiyakan.


Mendapat jawaban positif wajah datar Uchiha Bungsu tidak lagi dalam posisi. Ujung bibirnya tertarik ke atas—memperkihatkan senyum simpul.


***


Dalam perjalanan ke kampus utama Naruto tidak membuka percakapan apapun dengan Sasuke. Dia tidak tahu apa yang harus diobrolkan dengan sang Uchiha untuk saat ini. Karena mereka lewat jalan tol, hanya butuh waktu 18 menit untuk sampai. Waktu yang seharusnya tidak lama seperti memanjang durasinya bagi tuan muda Namikaze-Uzumaki.


Setelah Sasuke memarkir mobil ia menyuruh si pirang untuk menunggu di dalam sedangkan dia keluar. Naruto mengiyakan tanpa pikir panjang. Mungkin Sasuke mau beli sesuatu dulu dan ingin dia menunggu supaya mereka bisa ke gedung tujuan bersama-sama nanti.


Saat Naruto ingin mengeluarkan laptop—karena ia pikir dari pada diam mungkin lebih baik memanfaatkan waktu menunggu—pintu di sampingnya dibuka dari luar. Ia berkedip bingung saat mendapati Sasuke membuka pintu penumpang di sampingnya.


Wajah Naruto memerah saat tahu ternyata Sasuke menyuruhnya menunggu karena ingin membukakan pintu mobil untuknya. Padahal dia bukan wanita tapi jatungnya terasa baru saja terkena shock therapy, membuat organ dalam Naruto itu berdetak lebih cepat dari biasa.


Naruto keluar dari mobil dan menatap Sasuke lalu berdehem—mengurangi rasa gugup. "Terima kasih tapi-"


"Kau bukan wanita." Sasuke melanjutkan kalimat Naruto yang ia potong. "Aku tahu tapi aku tetap ingin memberi perlakuan istimewa padamu. Kalau tidak begini kau tidak akan tahu bedanya aku memperlakukan orang yang kusuka dengan teman biasa." Jelasnya seraya memegang tangan si pirang.


"Sasuke..." Naruto berusaha menarik jemarinya yang digenggam erat.

__ADS_1


"Tidak perlu merasa tidak nyaman di dekatku. Bukannya aku sudah mengetahui apa yang paling kau takutkan diketahui orang lain?"


Naruto mengamati ekspresi pemuda itu yang tidak berubah. "Perasaanmu mungkin hanya sesaat." Ujarnya yakin.


Dalam hati Sasuke tertawa. 'Tidak mungkin perasaan yang hampir 3 tahun ini punah hanya karena keraguan lagi.'


"Naruto, kau terlalu banyak alasan untuk membuat jarak denganku. Coba biarkan aku mendekat. Bagaimana kau bisa menilaiku berbeda dari yang lain kalau aku tidak bisa lebih dekat dari jarak amanmu. Setidaknya aku tahu apa yang kau takutkan. Aku akan berusaha menjaga apapun yang ingin kau jaga." Dia mengangkat tangan Naruto ke bibirnya dan mencium punggung tangan itu.


Kepala pirang itu menoleh ke sana - kemari, melihat apakah ada orang di sekitar mereka.


Sasuke menangkap dagu Naruto dan membuat si pirang mendongak ke arahnya. "Jangan peduli pada pandangan orang lain. Kalau pendapat mereka mempengaruhimu, kau tidak hidup untuk dirimu sendiri tapi untuk mereka. Mereka berhak memberi komentar tapi kau juga berhak tidak mendengarkan. The opinion which other people have of you is their problem not yours. Mengerti?"


Naruto menatap Sasuke dalam. Matanya berkedip-kedip cepat. Apa dia baru diceramahi manusia minim ekspresi ini?


"Aku akan berusaha tidak peduli dengan omongan mereka."


"Baiklah. Sekarang kita akan bergandengan sampai gedung B. Kita lihat apa kau bisa tidak terpengaruh bisik-bisik mereka."


"WHAT?"


"Hahaha."

__ADS_1


"Kau- kata panjang lebarmu tadi pasti hanya modus, DASAR UCHIHA!"


Naruto kesal tapi saat melihat wajah tertawa lepas Sasuke untuk yang kedua kali ini, dia tidak membenci itu. Bungsu Uchiha memang memiliki wajah atraktif jadi kalau ia tertarik bukankah itu wajar?


__ADS_2