Secret of My Life

Secret of My Life
Chapter 17


__ADS_3

Itachi sampai di rumah orang tuanya tepat setelah anggota keluarga Hyuuga sampai juga di kediaman Uchiha. Dia menyapa mertua dan adik iparnya kemudian berpamitan untuk membersihkan diri.


Hinata melihat sang suami sudah masuk kembali ke dalam rumah. Dia ingin ikut Itachi untuk menyiapkan baju ganti pria itu sebelum tugasnya digantikan pelayan.


"Hinata!" Panggil Mikoto, ia menyerahkan Ryuuto pada gendongan Hinata. "Kau temani Ayah dan Adikmu. Aku ingin bicara dengan Itachi." Ujarnya pada sang menantu.


Wanita Hyuuga itu mengangguk. Dia menghela napas pasrah. Setidaknya dia tahu apa yang ingin mertuanya bicarakan pada sang suami.


Mikoto melambai pada Ryuuto sebelum masuk ke dalam rumah.


.


.


.


Mikoto mengetuk kamar anak sulungnya. "Chi?"


Itachi yang sedang membuka kancing kemeja menoleh ke arah pintu. "Aku sebentar lagi turun Bu, mau mandi dulu."


"Bukan, aku ke sini bukan untuk menyuruhmu cepat ke bawah. Aku ingin bicara, boleh aku masuk?"


Sulung Uchiha mengernyitkan kening bingung. Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ia melihat bukan hanya Mikoto yang ada di depan pintu tapi sang ayah juga. "Kenapa kalian meninggalkan besan kalian sendirian?" tanyanya seperti sedang bercanda.


Fugaku berdecak. "Kita harus bicara." Dia memberi ekspresi serius pada anak sulungnya.


"Hinata, Hanabi dan Ryuuto bisa menemani Hiashi." Ujar Mikoto.


Itachi berjalan ke luar kamar dan menutup pintunya. "Kalau ingin membicarakan sesuatu yang penting, lebih baik di ruang kerja Ayah."

__ADS_1


"Baiklah."


Mereka bertiga berjalan ke tangga lantai tiga menuju ruang kerja Fugaku.


***


Setelah melihat para Uchiha pergi dan tidak kunjung kembali, Hanabi memepetkan kursinya ke dekat Hinata. "Apa Sasuke akan ikut barbeku malam ini?" Tanyanya antusias.


Sulung Hyuuga memutar bola mata mendengar pertanyaan Hanabi. "Kau tahu sendiri bagaimana Sasuke-kun. Kalau diajak acara seperti ini jawabannya pasti hanya dua huruf 'hn' yang bisa berarti ya atau tidak." Jawabnya.


Hanabi langsung mengerucutkan bibirnya. "Apa Mama Mikoto tidak bisa memaksanya datang?"


Alis Hinata menyatu. "Sejak kapan kau memanggil Mama pada Ibu?"


"Sejak Bibi Mikoto menyuruhku. Dia sepertinya lebih suka aku dari pada kau, hehehe." Hanabi cengengesan seraya menatap mengejek pada sang kakak.


Hinata memukul pelan kepala adiknya. "Jangan bertingkah! Ini bukan rumahmu jadi jaga mulutmu!" Peringatnya.


"Dasar anak ini!" Hinata menatap gemas ingin melempar gadis di sampingnya ini ke kolam ikan koi.


Hiashi tidak peduli pada anak-anaknya, dia hanya fokus pada Ryuu yang sudah mulai menguap dalam gendongannya.


***


Ketiga Uchiha sedang mencoba bergiliran menelfon bungsu Uchiha—atau Uchiha ke empat—yang tidak sekalipun mengangkat panggilan mereka. Sekarang malah nomor Sasuke tidak aktif yang artinya pemuda itu mematikan ponselnya.


"Bocah ini sebenarnya ada di mana sampai berani mematikan ponsel saat keluarganya sudah jelas ingin menghubunginya!" Fugaku hampir saja melempar ponsel pintarnya ke dinding kalau tidak mengingat betapa berharga data di dalam benda itu.


Mikoto menatap Itachi seolah anak sulungnya adalah pusat informasi yang selalu tahu di mana keberadaan Sasuke.

__ADS_1


"Ibu jangan menatapku begitu, aku tidak tahu dimana Sasuke." Kata sulung Uchiha yang tentu saja bohong.


Mendengar Itachi mengaku bahwa ia tidak tahu, Wanita itu semakin cemas. Bagaimana kalau Sasuke bersama pemuda Namikaze itu?


"Itachi, apa Naruto kembali ke Jepang?" Tanya Mikoto seraya menatap Itachi agak ragu. Sudah lama dia tidak menyebut nama itu di depan anak sulungnya.


"Kenapa Ibu tanya padaku? Bukannya tugasku adalah menjauh darinya?" Itachi memberi tatapan tajam dengan bibir tersenyum memberi kesan horor bagi kedua orang tuanya.


Mikoto langsung menutup mulut.


"Lagi pula apa hubungan kembali atau tidaknya Naruto ke Jepang dengan kita yang tidak bisa menghubungi Sasuke sekarang?" Kali ini mata Itachi menyipit curiga. Apa mungkin mereka tahu? Tidak mungkin. Aku saja baru melihatnya hari ini.


Sulung Uchiha tidak ingin mengambil resiko memberitahu keberadaan si pirang pada orang tuanya karena dia masih ingin melihat Naruto.


Fugaku menghela napas. "Sudah lupakan pertanyaan Ibumu. Sekarang yang paling penting adalah Sasuke. Suruh pelayan mengemasi barang Sasuke yang ada di rumahmu. Dia akan pindah ke apartemen baru."


"Ayah tidak bisa mengawasi Sasuke jadi mau melepaskannya?" Tanya Itachi dengan wajah tidak percaya. Tidak mungkin begitu saja Sasuke dilepas oleh ayahnya.


"Bukan. Sasuke tidak akan membawa pacar—atau wanita-wanita—nya ke rumahmu. Mungkin dia merasa tidak leluasa kalau di rumah orang tua atau kakaknya. Jadi biar dia tinggal sendiri dan mulai bermain sesukanya." Fugaku menjelaskan maksudnya membiarkan bungsu Uchiha tinggal di apartemen sendiri. Dia mempunyari firasat bahwa akan ada masalah jika membiarkan Sasuke tetap tinggal di tempat Itachi dan Hinata.


Itachi merasa rencana ayahnya itu tidak akan merubah Sasuke. Adiknya itu tidak akan bermain bersama wanita seperti yang diharapkan.


"Terserah Ayah kalau begitu." Balasnya kemudian berdiri dari sofa hitam di ruang kerja. "Aku akan kembali ke kamar dan mandi. Keluarga Hyuuga pasti sudah bosan menunggu di bawah." Ujarnya seraya melangkah pergi.


Setelah Itachi sudah lenyap dibalik pintu, Mikoto membuka suara. "Hanabi katanya akan pindah ke kampus Sasuke, bagaimana kalau mereka tinggal di gedung apartemen yang sama?" Usulnya.


"Sasuke mungkin tidak akan mau tinggal satu tempat dengan Hanabi "


"Tidak satu ruangan juga tidak apa-apa, bersebelahan saja apartemennya."

__ADS_1


Fugaku berpikir sebentar sebelum menyetujui. "Tidak ada salahnya mencoba. Lagipula kalau ini gagal aku masih punya cadangan lain."


__ADS_2