
Naruto sampai di depan gerbang rumah. Ia melihat mobil asing yang terparkir tepat di depan gerbang rumahnya.
Dia hafal mobil-mobil milik keluarganya. Ibunya juga jarang ganti mobil. Kushina baru mengeluarkan mobil Toyota Priusnya kemarin, jadi tidak mungkin jika sekarang sudah ganti lagi.
'Jadi mobil siapa ini?'
...
Orang di dalam mobil BMW 328i Luxury itu keluar setelah melihat seorang pemuda bersurai pirang menyebrang jalan menuju tempat ia berada—tepatnya menuju pintu gerbang yang ada di samping mobilnya.
Naruto berjalan cepat setelah melihat siapa pemilik mobil yang bisa dibilang tampan ini. Dia berusaha mengabaikan sosok yang baru keluar dari mobil, yang ia yakin sedang menatapnya.
Pria itu dengan sigap menarik lengan si pirang saat pemuda itu lewat di depannya. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk berbicara saat sudah menunggu dari sejam yang lalu sampai mengabaikan ponsel kantornya yang berdering puluhan kali.
"Naruto, kita harus bicara." Ujar si pria dengan wajah kalemnya.
Naruto menoleh dengan tatapan buas. "Lepaskan!" Perintahnya. Dia mengibaskan tangan berkali-kali tapi tidak membuat pria itu melepaskan lengannya. Kakinya sedikit gemetar. "Dari mana kau tahu rumahku?".
"Apa itu penting?"
"Bisa kita bicara tanpa kau perlu menyandera lenganku begini?" Naruto berusaha menahan emosi dan menstabilkan cara bicaranya. Lengannya sakit dan pikirannya berantakan.
Tenaga yang dikeluarkan terkesan berlebihan sampai apapun yang Naruto lakukan tidak akan membuat lima jari pria yang melingkari lengannya mengendur.
"Kalau kau mau mendengarkan aku sebentar, akan kulepaskan." Janji yang lebih tua.
Naruto menarik napas dan mengeluarkannya pelan supaya dia bisa tenang dan mengurungkan niatnya untuk meninju wajah tampan itu.
"Kenapa kau baru mau bicara sekarang? Kemana saja selama ini huh?"
"Itu-"
__ADS_1
"Kau boleh bicara setelah melepaskan lenganku."
Meski respon Naruto cukup dingin, Itachi bersyukur si pirang mau bertatap muka dan bicara dengan menatapnya. 'Mungkin Naruto tidak akan kabur kali ini.' Ia membatin seraya melepas genggaman tangannya.
Setelah tangannya bebas, Naruto mengambil ponsel dan mengirim pesan pada penjaga gerbang untuk membuka gerbangnya sembari mencari cara mengelabui pria di depannya.
"Sejak kapan kau di sini?"
"Tidak begitu lama." Bohong sang Uchiha.
"Hm."
Naruto tidak menatap Itachi sama sekali. Dia terus menatap ponselnya sampai penjaga membalas pesan akan membuka gerbang sekarang juga.
Itachi tidak mau Naruto bicara tanpa melihatnya jadi dia memanggil minta perhatian. "Naruto."
Naruto mendongak ke arah Itachi. Ia melihat gerbang rumahnya sudah terbuka sedikit seperti apa yang ia minta pada penjaga.
"Aku-" Belum selesai Itachi bicara, dengan kecepatan cahaya Naruto berlari masuk gerbang depan dan menutupnya juga dengan cepat.
Itachi mendesah setengah jengkel dan frustasi. Pemuda pirangnya kabur lagi.
***
Naruto masuk rumah dengan napas memburu. Jantungnya berdegup kencang. Keringat mulai bermunculan di dahinya.
Kushina yang sedang berbicara di telfon mendengar suara pelayan yang menyambut Naruto dan dia datang menghampiri. "Kau kenapa?" Tanyanya yang melihat sang anak seperti baru saja dikejar anjing gila.
Setelah berhasil mengatur napas Naruto menjawab, "ada orang gila."
"Masa di daerah sini ada orang gila?"
__ADS_1
"Orang gila dari keluarga Uchiha yang dulu pernah kau bayangkan jadi menantumu, Ibu." Jelas Naruto seraya melepas sepatu dan mengganti dengan slipper rumah sebelum berjalan ke sofa ruang tamu untuk berbaring di sana.
Wanita cantik itu langsung diam menyadari siapa yang dimaksud. Dia berjalan mendekati Naruto dan duduk di sebelah sang anak yang sudah berbaring telentang. "Kau tidak apa-apa?" Ia bertanya khawatir seraya mengusap kening putranya yang basah.
"Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya setelah kembali ke Jepang." Curhat Naruto.
"Kenapa tidak bilang? Bagaimana dia tahu alamat baru kita? Apa kita pindah saja?" Kushina mulai khawatir mental sang anak kembali turun setelah bertemu Itachi. Dia mengamati kondisi Naruto tapi tidak menemukan sesuatu yang janggal. Ia mengembuskan napas lega.
Naruto bangun dan duduk bersila di atas sofa. "Awalnya aku panik tapi saat itu ada Sasuke. Ingat waktu Sasuke memelukku di depan pintu? Itu setelah aku bertemu pertama kali dengan orang itu lagi."
"Jadi sekarang Sasuke tahu tentang Itachi?"
"Ibu tidak lupa 'kan kalau Sasuke juga Uchiha?"
Kushina mengangguk. "Mereka dari marga yang sama."
"Mereka bahkan lahir dari rahim yang sama." Balas sang anak.
"APA?" Kushina langsung menatap Naruto dengan mata melotot. Dia lebih kaget dari mendengar Itachi menemui anaknya. "Apa dia disuruh Itachi untuk mendekatimu?"
"Ibu, mana mungkin keluarga itu menyuruh Sasuke mendekatiku. Mereka mungkin berpikir aku harus pergi jauh-jauh dari keluarga mereka seperti kutukan." Naruto tertawa miris.
"Jangan pikirkan mereka lagi Naru. Kalau kau tidak mau dekat dengan Sasuke, seharusnya bilang pada Ibu. Aku tidak akan membiarkannya ke rumah kita lagi." Kushina menggenggam tangan putranya yang dingin. Seharusnya dia tidak memperbolehkan siapapun yang bermarga Uchiha mendekati Naruto meski itu pemuda tampan yang terlihat baik hati bernama Uchiha Sasuke. Dia takut anaknya tersakiti lagi dan mengingat masa lalu.
Naruto menepuk punggung tangan Ibunya dan memberi senyum menenangkan. "Ibu tenang saja. Aku tahu Sasuke tidak seperti kakaknya. Dia membuatku lebih baik menerima nasib dan menjalani hari-hari. Dia juga tidak menjauhiku meski tahu aku tidak normal seperti laki-laki pada umumnya. Bahkan dia bilang menyukaiku meski sampai sekarang aku masih mengabaikan itu. Ibu tahu sendiri 'kan Sasuke membuatku merasa baik-baik saja bersamanya makanya Ibu tidak melarang dia mendekatiku?"
Kushina mengusap surai pirang putranya. "Selama kau merasa yakin dengan apapun yang kau lakukan, Ibu akan mendukungmu. Memang tidak baik kalau kita menilai Sasuke dari kelakuan keluarganya, yah, meski Uchiha memang sudah seperti sampah di mataku. Setidaknya Sasuke bisa didaur ulang." Ia berkata lembut meski kata-kata di dua kalimat terakhir tidak lembut.
"Ibu kalau Sasuke mendengarmu dia bisa sedih."
"Tapi Sasuke-kun bukan tipe orang yang gampang sedih. Wajahnya saja selalu datar."
__ADS_1
"Sudah-sudah. Bukannya kita mau menyiapkan makan malam? Apa sudah siap semuanya? Ini sudah hampir malam dan sebentar lagi mereka akan datang." Naruto mengubah topik pembicaraan. Meski tadi dia sempat kesal dengan Sasuke—sudah lupa karena bertemu Itachi—tapi dia tidak mau menistai pemuda itu bersama ibunya.