Secret of My Life

Secret of My Life
Chapter 10.5


__ADS_3

Salah satu alasan kenapa Naruto tidak bisa memberitahu orang yang dulu kekasihnya bahwa dia memiliki Sei adalah karena pria itu telah menghamili seorang wanita. Memang normalnya yang bisa berbadan dua hanya kaum hawa tapi sehubung dia laki-laki tidak normal jadi bisa dibuahi.


Naruto merasa dia tidak bisa menang melawan wanita hamil. Alasan untuk memberitahu keanehan dalam perutnya langsung menciut. Coba bayangkan! Apa orang tua pria itu akan merespon positif bila ada seseorang dengan kelamin sama dengan anaknya bilang di hamil? Tidakkah mereka akan melihatnya seperti monster spesies baru? Naruto merasa dia sendiri seperti monster.


Alasan lain dia tidak bisa meminta bertanggung jawaban karena takut, jadi meski dia bisa memberi keturunan, mereka akan lebih memilih orang lain yang dihamili anak mereka yang lebih normal yaitu seorang wanita.


Ujung-ujungnya jenis kelamin itu penting dan kata orang itu mempengaruhi—bahkan kadang lebih penting.


Pada dasarnya alasan utama Naruto lebih memilih pergi adalah dia marah. Dia benci diduakan.


Bayangkan dia yang sudah membayangkan masa depan dengan pria itu malah disuguhi kenyataan ini. Sudah rela dia memberi semua, mengambil resiko besar tapi akhirnya harus pergi dengan kecewa karena setelah diambil segalanya dia tidak dapat kembalian yang setimpal.


Dia malah dapat makian dari ibu orang itu.


"Kau homo menjijikkan. Jauhi anak, menantu dan calon cucuku!" Nada tinggi dari wanita itu sampai membuat telinga Naruto berdenging.


Padahal anaknya juga termasuk homo.


Itupun dia dimaki bukan langsung tapi lewat telfon jadi sebelum dia membalas sambungan sudah tertutup. Parahnya lagi Ayahnya mendengar makian itu dan murka.


"Siapkan passportmu, kita pergi dari Jepang!" Sang ayah bertitah.


Naruto hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasip. Matanya lelah karena sering mengeluarkan air mata, sering begadang memikirkan nasib dan apa keputusan hidup selanjutnya.

__ADS_1


"Siapa yang butuh anak wanita itu apalagi minta bantuan keluarganya? Memang selama ini kita tidak bisa berdiri sendiri? Saat butuh saja mereka baik sekali tapi saat tidak butuh, seenaknya saja begitu!" Ibunya menambahi dengan ekspresi berapi-api. Ikut emosi anaknya disebut menjijikkan. Dia yang melahirkan merasa biasa saja dengan orientasi sang anak, kenapa orang lain sibuk menilai yang bukan miliknya?


Naruto merasa bersalah membuat orang tuanya bermusuhan dengan keluarga itu. Mereka juga harus mengambil keputusan besar karena kesalahannya. Dia menatap perutnya dengan tatapan sulit dijelaskan.


'Bisakah kau keluar dari perutku sekarang supaya semua tidak tambah runyam?'


Kenapa dia harus berbeda dari orang lain?


Naruto memutuskan melupakan semua yang terjadi sebelum ini dan memulai hidup baru.


Ia kira hidupnya akan lebih baik setelah itu tapi nyatanya semua hanya awal masa sulit yang sebenarnya. Dia mulai merasakan berbedaan pada tubuhnya. Selera makannya mulai berbeda jadi dia tidak bisa makan sembarangan. Dia tidak bisa keluar rumah seenaknya. Tubuhnya sering sakit. Sudah rutinitas kalau harus keluar masuk rumah sakit.


Kondisi mental Naruto drop. Selama jadi orang hamil dia tersiksa. Tidak hanya sekali dia bilang ingin menggugurkan jainnya saja, sampai pernah mencoba bunuh diri. Sampai-sampai ia dibawa ke Psikoterapi.


Untuk menyemangati Naruto, Minato membiarkannya belajar bersama guru privat karena sang anak masih ingin belajar dan sekolah lagi. Keinginan itu masih kuat dan membuat harapan kecil baginya.


"Setelah dia lahir nanti, Ayah akan memasukkanmu ke sekolah manapun yang kau inginkan." Janji Minato.


...


Kushina menceritakan bagaimana masa kehamilannya dulu saat mengandung Naruto. Dia juga menceritakan kelucuan masa kecil putranya dulu. Semua hal bahagia dan menyenangkan ia kisahkan untuk menghibur sang anak. Dia membuat Naruto mengerti perkembangan janin di perutnya supaya dia tahu bayi di dalam sana adalah makhluk hidup yang sedang berkembang dan bernyawa.


"Bulan ini peralatan bayi di toko online lucu-lucu. Ayo belanja bersama!"

__ADS_1


...


Lama kelamaan Naruto mulai terbiasa dengan hidup barunya. Keadaanya mulai stabil dari fisik dan mentalnya. Meski kadang rindu dengan Negara kelahirannya tapi di Negera yang lebih terbuka ini tidak ada yang memakinya terang-terangan lagi tapi, karena Kushina dan Minato terlalu takut dia kenapa-kenapa, mereka tetap membatasinya.


.


.


.


"Ibu, dia laki-laki."


"Siapa?"


"Yang ada di perutku!"


"Dari mana kau tahu? Kita kan belum memeriksanya."


"Firasat?!"


"Kalau begitu kau harus siapkan nama laki-laki untuknya."


"Mm."

__ADS_1


__ADS_2