
Setelah masuk swalayan, Sasuke bertugas mendorong shopping cart sedangkan Naruto menggendong Sei.
"Mau belanja apa lagi?" tanya sang Uchiha.
Mereka sekarang berada di bagian kebutuhan bayi.
Naruto menatap isi trolley yang hanya ada belanjaannya lalu ia menatap Sasuke. "Kau ke sini juga bukannya mau belanja? Kenapa dari tadi mengikutiku?"
"Kemarin aku baru belanja. Hari ini niatku hanya ingin bersamamu." Jawab enteng bungsu Uchiha.
"Oh." Naruto tidak bisa bilang kalau dia biasa-biasa saja mendengar jawaban Sasuke. Bagaimana orang ini bisa bilang begitu tanpa mempengaruhi wajah datarnya?
"Mau beli pampers dan susu formula?"
"Sei tidak minum susu formula."
"Oh," Sasuke melirik dada Naruto dan dihadiahi cubitan oleh si pirang. Meski sakit ia tidak memperlihatkan lewat ekspresinya. "Biasanya Sei pake pampers merek apa?"
"Moony."
"Itu?"
"Yup."
"Ukuran?"
Tanpa mejawab pertanyaan Sasuke, Naruto mengambil lima bungkus pampers dan memasukkannya ke dalam shopping cart. "Ayo pindah tempat." Ia menarik lengan baju bungsu Uchiha untuk mengikutinya.
"Hn."
"Mm." Sei yang sedang digendong Naruto dari tadi hanya menikmati interaksi antara dua manusia favoritnya dengan jempol di mulut.
Sasuke menatap Sei yang juga menatapnya dengan mata berkedip-kedip lucu. Dia jadi ingat apa kata Kushina setelah memberi dompet Naruto tadi.
"Sei tanggal 9 sudah sembilan bulan ya?"
__ADS_1
Naruto berhenti berjalan dan menoleh pada Sasuke. "Bagaimana kau tahu?"
"Bibi Kushina mengundangku untuk makan malam besok."
"Ah." Naruto merasa malu punya niat untuk tidak mengundang Sasuke.
"Terima kasih sudah mengundangku di hari penting untuk Sei." Ujar pemuda tampan itu seraya menggenggam jemari si pirang yang tadi menarik lengan bajunya.
"Kenapa berterimakasih padaku? 'kan Ibu yang mengundangmu?" Ia melepas tangannya karena merasa tidak enak dipandang. Meski ia sudah berusaha tidak mengindahkan pandangan orang lain tentangnya tapi rasa malu tetap tidak terhindari.
Sasuke tersenyum melihat wajah memerah Naruto. "Nanti kalau Sei sudah umur satu tahun, apa akan ada pesta?"
"Aku belum tahu." Kalau Minato sudah pulang ke Jepang, mungkin Naruto bisa membuat pesta untuk Sei, tapi kalau ayahnya tidak ada, dia tidak yakin bisa membuat pesta untuk putranya.
"Mamamamam..." Sei menunjuk-nunjuk rak bagian biskuit. Mata bulat besarnya berbinar.
Sasuke mengangkat Sei dan mendekatkan bayi kecil itu ke tempat yang dia mau. "Sei mau yang mana?"
Si kecil melihat dan mencari gambar biskuit yang familiar tapi tidak ada. Sei menatap Sasuke.
"Tata."
"Cari yang lain."
"Tata... Bhuuu."
"Naruto, sepertinya Sei bingung mau yang mana."
Interaksi dua orang itu membuat si pirang melongo.
'Dari mana dia tahu arti bahasa bayi?' Naruto membatin heran. Dia saja kadang tidak tahu anaknya itu bilang apa dengan bahasa bayi yang kadang campur aduk dengan bahasa planet.
Mereka lanjut belanja sampai semua yang ada di catatan Naruto terbeli semua. Setelah itu baru memutuskan pulang.
Naruto merasa lelah dan ingin cepat sampai rumah tapi Sasuke memaksa ingin mampir makan dulu. Akhirnya mereka berdebat lagi, Sei menjadi penengah dengan menangis kencang. Susu dalam botolnya habis dan dia ngantuk.
__ADS_1
***
Naruto di kantin kampus untuk makan siang bersama Kiba. Setelah ini mereka masih ada kegiatan kampus lagi jadi memutuskan makan di dalam area gedung yang akan di gunakan dari pada di luar.
"Kenapa mahasiswa baru harus terpisah kampus dengan senior sih." Kiba menggerutu sembari menatap sekeliling yang hari ini dipenuhi maba. Jarang sekali dia bisa kebetulan bertemu Shikamaru yang belajar di kampus utama.
"Sabar." Ujar Naruto seraya tetap fokus dengan makanannya. Kalau dia tidak kenyang nanti otaknya tidak bisa bekerja.
"Kau pasti menghabiskan natal dan tahun barumu dengan teman baru 'kan? Sampai lupa padaku?" Pemuda itu menunjuk si pirang dengan sumpitnya.
"Teman baru? Siapa?"
"Sasuke!"
Naruto terbatuk-batuk mendengar nama itu disebutkan. Pasalnya yang punya nama sedang melintas tepat di belakang Kiba.
"Hei hei Naruto, batukmu mencurigakan." Tuding Kiba dengan mata menyipit. "Kau sama sekali tidak mengajakku pergi selama liburan huh!"
Naruto menepuk-nepuk dada. Makanannya keluar jalur gara-gara kaget.
"Apa yang kalian bicarakan?" Sasuke yang baru datang langsung mengambil duduk di dekat Naruto. Ia mengambil air mineral dalam tas dan memberikannya pada pemuda yang sedang batuk-batuk.
"Bicara tentang kalian yang hang out tanpa mengajakku sama sekali selama liburan."
Sasuke masih memperhatikan Naruto yang sudah mulai tenang. "Bagaimana kau tahu kami pergi bersama?"
"Aku kemarin melihat kalian di swalayan daerah Tokyo Town." Kiba menatap Naruto dan mengingat sesuatu. "Oh ya, kau membawa bayi siapa?" Tanyanya.
Untung kali ini Naruto tidak sedang menelan apapun jadi dia bisa merespon dengan tenang tapi dengan jantung jumpalitan. "Adikku." Jawabnya tegas walau suaranya kecil sekali. Dia selalu gugup kalau menyangkut Sei.
"Oh, ternyata kau punya adik ya?!"
"Iya."
Kiba manggut-manggut.
__ADS_1
'Aku bersyukur Kiba lebih bodoh dariku.' Si pirang mengembuskan napas lega.