
Kiba menatap Naruto yang sedang makan. Dia ingin bertanya kenapa raut wajah sahabatnya itu lebih mendung dari langit di luar. Dia juga tahu, meski si pirang telihat konsentrasi makan tapi sebenarnya dia sedang melamun. Buktinya ada kentang goreng yang tidak benar-benar masuk dalam mulut dan malah berjatuhan.
Keadaan Naruto membuat gairah wartawan dadakannya kambuh. Juga ada satu lagi yang membuatnya curiga.
Mata Kiba melirik Sasuke yang duduk di samping kanan Naruto. Kalau saja tidak ada Shikamaru yang menghalangi mereka, pasti dia sudah menginterogasi Uchiha bungsu sampai puas tentang apa yang dia lakukan di luar tadi bersama sahabatnya. Kenapa sekembalinya dari luar suasana di sekitar mereka jadi aneh?
"Makan yang benar!" Sasuke menyodorkan tisu pada Naruto.
Si pirang tersentak. "Aku tahu! Aku bukan anak kecil!" Dia menerima tisu dengan agak semangat.
"Oi Sasuke, tukar tempat duduk denganku!" Perintah Kiba yang sudah berdiri di belakang Sasuke.
Sasuke menoleh sekilas sebelum kembali menghabiskan burger jatahnya yang tersisa.
"Woi!"
"Jangan berisik Kiba!" Shikamaru memberi peringatan sembari berusaha menarik bogeman pemuda itu menjauh dari kepala Sasuke.
kiba mengerucutkan bibirnya. "Dia menyebalkan!" Protesnya sambil berusaha menendang kursi bungsu Uchiha.
__ADS_1
"Kau dan Shikamaru sudah selesai makan 'kan? Pergi sana! Biar aku yang menemani Naruto." Usir sang Uchiha santai.
Alis Kiba bertautan. Dia heran dengan orang ini yang biasanya sangat tidak pengertian tiba-tiba jadi perhatian—pada Naruto saja. Mana tampangnya tetap sedatar jalan tol bebas hambatan pula.
Dia melirik Naruto. Pasti mereka berdua ada apa-apa. Aku makin curiga.
"Naruto, kau diam-diam berteman mesra—maksudku dekat dengannya tanpa memberitahuku?"
Uhuk uhuk
Naruto tersedak. Dia menepuk dadanya yang sakit.
"Tadi kau bilang tidak kenal Sasuke sebelumnya. Kalian berteman sejak kapan? Kukira aku duluan yang kenal Sasuke makanya mau kukenalkan padamu, waktu kusebut namanya tadi kau seperti kaget. Mungkin kaget karena kalian sudah lama tidak bertemu dan baru tahu kalau satu kampus ya?" Kiba nyerocos dan menyimpulkan semua semau dia sendiri tanpa peduli sang sahabat yang ingin membantah tapi saluran pernapasannya tersumbat. Hanya bisa menyuarakan batuk sampai hidungnya pengar.
Melihat suasana yang jadi seperti ini, Shikamaru hanya tertawa. Dia tidak tahu Kiba ini bodoh atau pura-pura bodoh, tapi dia malas mau membenarkan pikiran pemuda itu yang sepertinya memang nyeleweng jauh.
"Setelah ini kalian mau pulang atau masih ada jadwal di kampus?" Shikamaru bertanya untuk mencegah Kiba menganiaya Naruto dengan kata-katanya lebih jauh. Kasian juga.
"Aku pulang." Kiba menjawab.
__ADS_1
Naruto menghabiskan satu gelas vanilla milkshake dan mengatur napas sebelum menjawab, "aku ke perpustakaan mengembalikan buku."
"Aku juga." Sasuke menyahut.
"Kalau begitu Kiba dan aku akan ke stasiun dan kalian kembali ke kampus."
"Senpai tidak kembali kampus utama?"
"Hari ini aku ke kampus hanya ingin bertemu pacarku." Jelas Shikamaru.
Mata Kiba membulat kaget. "Aah," ia mendesah kecewa.
Naruto menatap Kiba kasihan. Dia tahu bagaimana Kiba memuja seniornya itu dalam diam—yah kadang memang tidak bisa diam.
"Sudah kenyang?"
Dia menoleh ke arah Sasuke yang baru saja memberi pertanyaan. Pemuda jangkung itu menunjuk burger dan kentang goreng Naruto yang masih tersisa.
"Kenyang." Rasa laparnya entah menguap ke mana.
__ADS_1