
Setelah mengatai Sasuke sepuas hati, hening tercipta. Hanya suara mesin mobil yang terdengar. Sasuke menepikan mobil dan menurunkan jok kursi Naruto supaya si pirang lebih nyenyak dalam tidur kemudian dia mencari ponsel Naruto. Mereka sudah sampai di daerah distrik satu tapi dia tidak tahu letak rumah Namikaze dimana.
"Brengsek." Dalam tidurnya Naruto bergumam. Air mata mengalir dari sudut matanya.
Sasuke mengusapnya.
***
Naruto tidak ingat bagaimana dia bisa ada di kamar. Saat ia bangun, ia sudah di atas ranjang dengan masih menggunakan baju yang sama dengan yang ia gunakan waktu kuliah tadi. Seingatnya, dia masih di dalam mobil Sasuke. Mungkinkah dia tanpa sadar menyebutkan alamat lengkap rumahnya dan berjalan sendiri sampai kamar karena terlalu ngantuk?
"Kepalaku pusing. Sepertinya aku tidur terlalu lama. Kebiasaan kalau mau lupa dengan sesuatu pasti langsung masuk mode tidur."
Dia mencari ponselnya tapi tidak menemukan benda persegi itu. Tasnya juga tidak ada.
Naruto melihat jam dinding. Sebentar lagi waktunya makan malam. Sekarang dia ingin bermalas-malasan tapi Sei pasti mencarinya. Sebaiknya ia membersihkan diri dulu sebelum bertemu si kecil.
Setelah selesai mandi dan ganti baju, Naruto turun ke lantai satu. Dia bisa mendengar suara berisik di ruang makan. Dengan langkah gontai ia menuju asal suara itu.
Mata Naruto berkedip tidak percaya saat melihat Sasuke duduk dengan memangku Sei yang sedang disuapi bubur.
"Sasuke?"
Kenapa dia ada di sini?
Sasuke membalas dengan tatapan dan senyum tipis yang membuat si pirang tambah bingung akan kehadirannya.
__ADS_1
"Kau sudah bangun? Cepat kesini dan makan!" Kushina melambai pada sang anak untuk segera mengambil tempat di meja makan. "Sasuke-kun sudah berjasa mengantarmu pulang dengan kau yang tertidur seperti orang mati. Dia juga yang menggendongmu sampai kamar. Pasti lelah sekali sampai harus naik tangga membawamu jadi aku memintanya makan malam di sini untuk mengganti tenaganya yang hilang." Jelas wanita bersurai merah itu dengan senyum lebar pada Sasuke.
Wajah Naruto memerah. Dia sepertinya tidak butuh penjelasan bagaimana cara dia sampai dalam kamar. Rasa malunya jadi tidak tertahan membayangkan laki-laki dewasa sepertinya harus digendong.
Kushina terhibur melihat wajah malu sang anak. Ia kira akan butuh waktu lama bagi Naruto untuk membawa pulang seseorang lagi tapi dia senang kalau putranya sudah mulai berjalan maju tanpa harus menyeret masa lalunya lagi.
"Maaf ya Sasuke-kun, makanmu terganggu karena harus menyuapi bayi gembul yang sedang kumat nakalnya ini." Ujar Kushina menyadarkan Naruto bahwa Sei sedang diurus orang lain.
"TA!" Sei memukul meja seolah protes dibilang nakal.
Sasuke menggeleng. "Tidak apa-apa Bibi, aku suka anak kecil." Kalau itu anak Naruto. Lanjutnya dalam hati dan kembali fokus menyuapi bayi di atas pangkuannya.
Naruto langsung lupa dengan rasa malunya dan mengamati Sei. Ia mengusap bibir si kecil yang ada bekas bubur bayi dengan tisu. "Sei-kun, jangan suka memukul meja! Nanti tanganmu sakit!" Dia memarahi putranya.
"Ati." Bayi delapan bulan itu mengangkat tangan kanan yang baru saja memukul meja seolah mengadu sakit.
Sei tertawa menggemaskan sebelum dengan semangat ingin merebut sendok bubur dari tangan Sasuke.
"Sudah kenyang?" Sang Uchiha bertanya.
"Baba." Sei tidak lagi ingin merebut sendok dan malah membuka mulutnya.
"Sasuke, berikan padaku mangkuk buburnya, biar aku yang menyuapi Sei. Kau harus mulai makan sebelum nanti kemalaman pulangnya." Si pirang mengambil mangkuk bubur dari tangan Sasuke lalu duduk di sebelahnya.
"Mama." Sei menatap bingung Naruto yang merebut mangkuk makannya dari Sasuke.
__ADS_1
Sasuke tertegun mendengar Sei yang sudah bisa memanggil Naruto dengan sebutan 'mama'. Keponakannya yang berumur enam bulan di rumah belum bisa mengucapkan satu kata pun selain menangis.
"Naruto, kalau kau tidak mengambil Sei dari pangkuan Sasuke nanti dia tidak bisa makan." Kushina mengingatkan.
"Ah aku lupa." Naruto langsung melatakkan apa yang ia pegang dan ingin mengambil Sei dari pangkuan Sasuke.
Sei bergerak-gerak dalam pangkuan Sasuke.
"Tidak apa-apa. Sei sepertinya kenyang. Aku bisa menggendongnya sambil makan." Sasuke mengangkat Sei dan menggendongnya supaya si kecil menyenderkan kepala di bahunya. Ini adalah kesempatan bagus untuk membuat ikatan dengan Sei. Dia tidak ingin melewatkannya.
"Jangan membuat dirimu sendiri susah Sasuke!"
"Aku tidak."
"Jangan keras kepala!"
"Aku tidak."
"Aku suapi sekalian saja sini!" Ujar Naruto menantang setengah menyerucutkan bibir kesal.
"Boleh." Jawab Sasuke dengan wajah serius.
Naruto menatap Sasuke tidak percaya. Bukannya sang Uchiha tahu dia bercanda tapi kenapa menanggapinya dengan sungguh-sungguh.
"Aaaa~" Sasuke membuka mulutnya dengan wajah tanpa dosa.
__ADS_1
Si pirang belum siap. Karena gugup Naruto menyuapi Sasuke dengan bubur bayi yang ada di depannya.
"Astaga Naruto, Sasuke-kun bukan bayi."