
Naruto tidak tahu kenapa masih diekori dalam perjalan pulang oleh Sasuke. Rasanya seperti punya bodyguard.
Ia berhenti berjalan dan membalikkan badan untuk berhadapan dengan sang Uchiha. "Sasuke, sampai kapan kau mau mengikutiku?"
"Sampai kau sampai rumahmu." Pemuda itu menjawab serius.
"Kau pikir aku wanita sampai harus diantar sampai depan pintu?" Protes Naruto.
"Aku takut kau pingsan di jalan karena kelaparan." Sindir Sasuke dengan senyum penuh maksud.
"Berhenti membahas itu!"
"Hn."
Si pirang menghela napas. Ia menyerah. "Setidaknya jangan berjalan di belakangku. Kau bukan bodyguardku dan aku tidak mau membayar bodyguard sepertimu."
"Ok."
Mereka kembali berjalan. Bedanya sekarang beriringan.
"Rumahmu daerah sini juga?" Naruto kembali membuka percakapan.
"Iya."
"Distrik berapa?"
__ADS_1
"Tujuh. Kau?"
"Distrik 1."
Sasuke mengusap kepala Naruto berkali-kali lalu dengan wajah datar berkata, "kalau begitu tidak jauh. Kau bisa pulang sendiri dari sini. Sampai jumpa besok." Ia langsung melangkah pergi tanpa menunggu respon dari si pirang.
Naruto menatap bingung ke arah punggung lebar pemuda itu seraya memegang kepala yang baru diusap oleh sang Uchiha seolah ia anjing peliharaan yang butuh dibelai.
Jangan-jangan dia hanya ingin tahu daerah rumahku?! Tebaknya.
***
Sei merangkak ke arah pintu saat mendengar suara familiar dari luar. Sampai di depan pintu dia mencoba berdiri dengan merayap pada pagar pengaman pintu yang membuatnya tidak bisa keluar.
Mata hitam si kecil mencari asal suara dan menemukan Naruto sedang bicara dengan salah seorang pelayan.
"Ama!"
"Ma!"
Kushina yang sempat ketiduran di lantai berbalut playmat puzzle Sei terbangun mendengar suara cucunya. Ia melihat bayi Naruto itu sudah berdiri di pagar pintu pembatas ruang bermain dan ruang santai.
"Mama!" Suara bayi Sei lagi-lagi terdengar.
Kali ini Naruto yang sudah selesai bicara dengan tukang kebun rumahnya mendengar jelas suara itu. Dia melihat putranya yang sedang berdiri dengan bokong tidak bisa diam melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Sejak kapan Sei-kun di sini huh?" Ia mendekati si gembul dan berjongkok di depannya.
Tangan Sei memukul-mukul pagar. "Ah! Ah!" Ujarnya seolah menjelaskan sesuatu.
Naruto langsung mengangkat bayinya. "Gendong?" tanyanya dengan tawa gemas. Ia menciumi telapak mungil sang anak. "Jangan pukul-pukul sembarangan nanti tanganmu sakit!" Ujarnya menceramahi Sei meski tahu yang diberitahu tidak akan paham.
Sei menguap lebar lalu menyenderkan kepala di bahu ibunya.
"Waktunya tidur ya Sei-kun."
"Tutu."
"..."
"Apa dia baru bilang susu?" Kushina bertanya dengan raut penasaran.
Naruto menimang-nimang buah hatinya seraya menjawab, "yup, Sei minta makan."
"Kenapa dia lebih sering bilang susu dari pada Papa ya?" Naruto bertanya-tanya.
"Untuk apa Papa kalau dia selalu memanggilmu Mama." Balas ibunya.
"Tapi aku mau dipanggil Papa. Ibu, jangan ajari dia memanggilku Mama lagi." Protes Naruto.
"Pelayan senior di rumah ini yang sering mengajari Sei memanggilmu Mama sambil memperlihatkan fotomu saat kau tidak ada di rumah. Kata mereka supaya Sei tetap dekat denganmu dan tidak melupakanmu. Mereka juga bilang seorang Ibu lebih dekat dari pada seorang Ayah jadi mereka membuat Sei terus mengingatmu sebagai Mamanya. Yah memang benar kau yang melahirkannya jadi wajar kalau dipanggil Mama." Jelas Kushina panjang lebar menatap sang anak dengan senyum jahil.
__ADS_1
Naruto memutar bola mata jengah mendengar penjalasan tidak masuk akal itu. Apa semua Paman dan Bibi yang bekerja di rumah ini otaknya miring semua?
Apa perlu ditukar dengan otak Patrick?