
Naruto tidak tahu kenapa tatapan dari pemuda itu mengganggunya. Wajah itu juga membuatnya tidak nyaman. Dia merasa deja vu. Apa mereka pernah bertemu sebelum ini?
'Itu tidak penting. Lebih baik aku pergi dari sini. Lagi pula dia tidak mengenalku. Kita tidak akan bertemu lagi setelah ini.' Pikirnya berusaha menenangkan diri.
Setelah memandang untuk terakhir kali, Naruto berlari meninggalkan si pemuda tinggi yang berdiri diam di tempat.
***
Naruto berjalan memasuki halaman rumah dengan tubuh lemas. Lari dengan perut kosong, sampai rumah rasanya perut dan punggungnya menempel jadi satu. Kalau saja tidak malu, dia mau ngesot saja masuk rumah. Sedikit menyesal menolak tawaran dijemput supir.
Para pelayan yang berpapasan dengan Naruto membungkuk memberi salam. Biasanya sih mereka berbaris menyambutnya saat pulang sekolah tapi itu tidak berlaku lagi semenjak Ayahnya tidak di rumah. Dia juga tidak mau diperlakukan seperti dulu, sebagai anak tunggal Namikaze Minato, tuan muda yang dihormati. Naruto tidak bisa menjadi kebanggaan keluarga sebagai anak satu-satunya. Dia hanya menjadi beban, jadi lebih baik ia dikenal sebagai Uzumaki Naruto yang biasa-biasa saja.
"Selamat datang Tuan Muda!" Salah seorang pelayan membukakan pintu depan untuknya.
"Terima kasih Paman." Naruto tersenyum dan mengangguk singkat.
__ADS_1
Suara tangisan terdengar setelah Naruto masuk. Reflek, kakinya melangkah semakin cepat ke dalam.
Mungkin si kecil merasa lapar. Beberapa botol susu yang ia tinggalkan sepertinya tidak cukup untuk si gembul.
"Aku pulang Bu, Sei-kun!" Teriak Naruto kencang. Seketika itu juga suara tangis Sei terhenti. Tak lama kemudian Naruto melihat wanita bersurai merah turun dari tangga lantai dua membawa bayi bersurai gelap dalam gendongan.
Semakin mereka mendekat semakin jelas Naruto melihat si kecil melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Rupanya ia ingin cepat digendong. Wajah bayi tampan dan manis itu merona.
Sei masih mengeluarkan suara bekas menangisnya.
Tentu saja sang anak tidak akan mendengarkan ocehan Ibunya yang panjangnya mengalahkan sungai Nil.
Sei menatap Naruto dengan mata berbinar bekas air mata. Tangan mungilnya menarik-narik kerah baju Naruto. Bayi delapan bulan itu tidak sabar untuk minum ASI yang masih segar.
Naruto membawa bayinya duduk di sofa terdekat. menyamankan diri dan mulai membuka kancing kemeja.
__ADS_1
Aneh ya laki-laki bisa menyusui? Tapi Naruto tidak punya pilihan lain. Sei alergi susu lain selain yang ada pada Naruto. Awalnya dia tidak bisa mengeluarkan air susu sampai harus suntik hormon dan minum obat-obatan supaya ASI-nya keluar. Aneh ya? Ya, dia juga berpikir kenapa hidupnya aneh sekali.
Laki-laki tapi punya rahim. Untuk apa? Pajangan? Inikah cacat fisik yang tidak terlihat?
Awalnya Naruto pikir tidak apa-apa karena dia tidak akan dibuahi tapi membuahi. Itu sebelum negara api menyerang, sebelum dia sadar bahwa dia menyukai laki-laki dan mengenal orang itu.
"Tutu...tu..tu."
Naruto memandangi Sei yang bergumam tidak jelas. Bayi gembulnya selalu hyperactif setelah minum susu. "Kenyang?"
Si kecil tersenyum lebar memperlihatkan dua gigi baru tumbuh miliknya.
"Sekarang giliranku yang makan ya!?"
Seolah tahu apa yang diucapkan Naruto, Sei menggenggam erat baju bagian depannya.Si kecil tidak mau ditinggal bersama neneknya lagi.
__ADS_1
Naruto mencium kening Sei. "Sei-kun mau temani Papa makan? Ayo!" Ia menggendong putranya ke arah meja makan. Di sana sudah disiapkan beberapa hidangan.