
Naruto masih mengingat bagaimana rasanya saat Sei mau keluar dari perutnya. Jangan tanya bagaimana rasanya, karena saat itu dia amat ketakutan dengan apa yang ia bayangkan akan terjadi sampai semua rasa jadi satu.
Meskipun banyak orang berusaha membuatnya tenang, tetap saja dia yang notabene adalah laki-laki sangat panik saat memasuki ruang operasi.
Dia takut harus mempertaruhkan hidup dan matinya di dalam ruang penuh alat ini. Meski menahan sakit dan ketakutan, dia tidak bisa menjerit. Harga dirinya yang tersisa tidak mengizinkannya berteriak seperti orang kesetanan meskipun dia ingin.
Saat itu Naruto hanya memegang lemah tangan ayahnya karena sang ibu tidak bisa menemani. Meski rasa sakit setengah bagian tubuh bawahnya menghilang tapi dia bisa merasakan bagaimana pisau membelah perutnya, juga saat dokter memasukkan tangan mengambil bayi di dalam—Naruto merasakan semua itu dengan wajah pucat pasi.
Di saat seperti ini Naruto menyalahkan diri yang dulu termakan cinta buta. Dia juga menyesal menyerah untuk bicara terus terang pada orang itu yang bisa dibilang sumber utama pembuat bayi yang akan lahir ini ada.
***
Kushina tidak kuat menahan air mata saat tahu apa yang anaknya rasakan. dia tahu bagaimana rasanya melahirkan maka dari itu ia merasa kasihan. Dulu saat ia melahirkan, masih ada Minato yang menemani. Dia masih bisa berteriak menyalahkan sang suami yang sudah membuatnya begini, dia bisa menangis saat rasa sakit itu ia rasakan bertubi-tubi.
Saat ini melihat keadaan Naruto, dia hanya bisa menyalahkan diri sendiri yang tidak menjaga dengan benar buah hatinya. Dia tidak menemani Naruto di dalam karena dia akan menangis dan bukannya menguatkan sang anak.
Oek... Oek... Oek...
Suara tangisan lemah dari dalam ruang operasi menghentikan tangisan wanita bersurai merah yang duduk di kursi tunggu. Dia berdiri dan mendekati pintu operasi, mununggu pintu bercat putih itu terbuka.
.
.
.
Naruto memejamkan mata dan menarik napas pelan merasa lega saat mendengar tangisan pertama dari bayi yang baru dilahirkannya. Mata safirnya melirik sang Ayah yang ada di samping sedang menahan tangis melihat ke arah suara bayi itu berasal.
Tidak lama kemudian ucapan selamat dari dokter dan informasi mengenai bayinya yang lahir tanpa cacat ia dengar.
__ADS_1
Ia ingin berkata sesuatu tapi tenaganya seolah terkuras. Beberapa menit ia terdiam mengumpulkan tenaga untuk berkata, meski hanya suara parau seperti bisikan yang keluar, "aku... ingin me-melihatnya!"
Minato menoleh. Ia tersenyum pada Naruto. Sembari menghapus titik air di ujung mata ia berkata, "tunggulah sebentar, dia sedang dibersihkan."
Naruro mengangguk. Dia juga masih di tangani di bawah sana tapi rasanya matanya ingin tertutup. Dia tidak kuat melawan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang, entah karena apa.
...
Saat Naruto membuka mata lagi, ia sudah berada di ruang rawat VIP. Saat ia menggerakkan kepala ke samping, di sebelah ranjangnya ada box bayi mungil yang dari selanya ia melihat buntalan selimut biru yang bergerak-gerak.
Naruto ingin bangun tp rasa sakit membuatnya merintih. Suara rintihannya membangunkan orang yang tadinya tertidur di sofa dalam ruangan.
Melihat Naruto yang memegangi perut, Kushina dengan panik langsung bangun dan mendekati ranjang. "Kenapa? Lukanya terbuka? Berdarah? Sakit sekali?" Tanyanya bertubi-tubi tapi tidak berani memegang tubuh putranya karena takut menambah rasa sakit Naruto.
Naruto menarik dan menghembuskan napas pelan—menenangkan diri. Setelah rasa sakit berkurang dia menjawab, "tidak apa-apa, hanya sedikit kaget. Aku baik-baik saja."
Kushina mengembuskan napas lega.
"Mau ke kemar mandi?"
"Aku hanya ingin melihatnya."
Wanita bersurai merah itu langsung tahu maksud kalimat itu. Dia membantu menata bantal untuk tempat bersender dan menyamankan posisi duduk setengah berbaring sang anak, lalu mengambil bayi mungil yang terbalut selimut untuk didekatkan pada Naruto.
Naruto melihat bayi laki-laki dalam gendongan ibunya. Keningnya berkerut melihat betapa lebat rambut hitam si kecil.
"Ibu tidak salah bayi 'kan?"
"Tidak lah! Ayahmu sendiri yang melihat dia diambil dari perutmu."
__ADS_1
Naruto bernapas lega. Dia kira bayinya tertukar. "Oh, dia tidak mirip denganku."
"Dia mirip orang itu. Apa kau membencinya?" Kushina bertanya khawatir.
Pemuda pirang itu menggerakkan tangan dan menyetuh pipi merah si kecil dengan ujung jemarinya. "Aku tidak membencinya seperti dugaanku, meski dia tidak mirip denganku."
Bibir Kushina melengkung, sekali lagi merasa lega. Hidup Naruto akan lebih mudah jika menyayangi si kecil. "Apa kau sudah tahu akan memberi nama apa padanya?"
"Sei, Namikaze Sei." Seraya mengucapkan nama itu mata Naruto berkilat.
Kau tidak perlu mengenal siapa Ayahmu. Kalau kau tahu, kau pasti membencinya seperti aku benci padanya. Sei hanya punya satu orang tua yaitu aku. Kita akan hidup bersama.
"Nama yang bagus."
Naruto bersyukur semua berjalan lancar. "Terima kasih karena sudah mencegahku membuangnya dan menjadi pembunuh Ibu."
"Aku tahu kau akan menyesal kalau tidak melahirkannya." Kushina tersenyum. "Mau menggendongnya?"
Naruto tersenyum canggung. "Aku tidak tahu caranya."
"Belajar dari sekarang." Kushina menyerahkan tubuh bayi merah itu ke dalam gendongan sang anak. "Pertama angkat dia dengan posisi satu tangan di kepala dan tangan lain di bagian pantat. Secara perlahan, tempatkan kepalanya di lekuk lenganmu. Nah begitu."
"Ah Ibu, dia bergerak!"
"Tentu saja, dia mahkluk hidup seperti kita."
Kepala si kecil bergerak-gerak sampai kepalanya miring ke dada Naruto.
"Dia sepertinya lapar. Apa Ibu sudah menyiapkan susu?"
__ADS_1
"Sebenarnya Naru, kau harus menyusuinya."
Naruto yang masih tersenyum-senyum memandangi si kecil menikmati momen pertama menggendongnya langsung menoleh, "HAH?"