
"Itachi, aku tidak bisa melanjutkan urusan kita hari ini. Obito sepertinya terlalu banyak makan coklat jadi sakit perut. Aku serahkan sisanya padamu ya." Shisui yang tadi sudah memanggil supir jemputan langsung masuk mobil bersama sang anak menyisakan dua orang yang sedang saling tatap. Dia juga lupa tidak berterima kasih pada Naruto karena menemukan anaknya dan langsung pergi begitu saja.
Itachi tidak peduli ataupun mendengarkan apapun kata temannya tadi. Dia hanya memandangi pemuda pirang di pinggir jalan dengan serius.
"Naruto?"
Tubuh Naruto terlonjak. Dia langsung mengalihkan tatapannya ke ujung sepatu. Perasaannya tidak karuan. Apa dia berlebihan kalau mengatakan bahwa tubuhnya terasa menggigil sekarang?
"Naruto." Sekali lagi Itachi memanggil. Kali ini dia melangkah lebih dekat.
Naruto semakin terserang rasa panik berlebihan. Dia berlari menyebrang jalan sampai hampir menabrak sebuah mobil hitam yang melintas. Ia yang kaget langsung jatuh terduduk.
Kelopak mata Itachi melebar saat si pirang hampir saja menghantamkan diri. Untung saja mobil itu sepertinya memang ingin berhenti.
Mobil yang semula berjalan pelan itu berhenti di dekat Naruto. Pintu kemudinya terbuka, menunjukkan tubuh menjulang pemuda yang Itachi maupun Naruto kenal—Uchiha Sasuke.
Sasuke berjalan ke arah Naruto. Ia berjongkok di depan pemuda pirang yang masih duduk di aspal lalu melepas jaketnya dan syalnya kemudian melilitkannya ke tubuh Naruto sampai hanya mata safir yang terlihat.
"Sasuke apa yang kau lakukan?" Itachi bertanya dengan dahi berkerut.
Sasuke mengangkat tubuh Naruto ala bridal style sebelum menatap sang kakak yang berdiri tidak jauh darinya. "Aku ingin mengantar Naruto pulang." Jawabnya penuh penekanan.
"Kalian saling kenal?"
"Ya."
"Sasuke, pulang!" Bisik si pirang sembari menggenggam baju depan Sasuke erat. Mengisyaratkan pada sang Uchiha untuk tidak banyak bicara dan pergi saja dari sini.
"Ok." Sasuke memasukkan Naruto ke dalam mobil dan menutuo pintunya. Dia menatap sekali lagi pada sang kakak. "Sampai bertemu di rumah, Aniki." Ujarnya sebelum masuk ke kursi kemudi dan menyalakan mesin mobil.
Sulung Uchiha masih berdiri mematung. Sudah lama dia tidak melihat Naruto. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu dan pertama kali juga ia tahu sang adik dekat dengan mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
***
Sampai di rumah Namikaze Sasuke mengikuti Naruto sampai depan pintu. Saat pemuda di depannya berhenti berjalan, dia juga ikut berhenti.
Naruto membuka lilitan syal yang menutupi setengah wajahnya kemudian berbalik dan memberikan itu pada bungsu Uchiha. "Dia kakakmu Sasuke?" Dia menanyakan pertanyaan yang sudah mengganjal ingin keluar dari bibirnya sejak tadi.
Sang Uchiha menerima syalnya dan menatap mata safir itu dalam. "Iya." Jawabnya.
"Jadi kau tahu?"
"Setelah aku tahu umur Sei. Kurang lebih aku bisa menebak."
"Haha." Naruto tertawa miris. Kepalanya menunduk.
Sasuke melihat si pirang yang seolah ingin menangis dan dia tanpa ragu memeluk tubuh itu.
"Aku bingung Sasuke kenapa kau bilang menyukaiku. Kau kasihan padaku?"
"Bohong!"
Sasuke berdecak. "Jangan samakan aku dengannya meski kita bersaudara. Aku bukan pembohong!"
Tawa meremehkan Naruto terdengar. "Lalu apa yang kau lihat dariku yang sudah seperti serbet bekas yang terbuang?"
Sasuke mengeratkan tangan yang berada di pinggang si pirang lalu menyeringai. "Kau seperti krayon yang mewarnai hidupku."
"Kau bercanda 'kan? Mau buat aku muntah?" Naruto memandang tidak tahan pada seringai Sasuke. Dia ingin sekali mendorong tangan sang Uchiha yang melingkar di pinggangnya menjauh.
"Wajah ingin muntahmu lebih baik dari pada wajah jelekmu saat sedang putus asa." Bungsu Uchiha melepas satu tangannya untuk melepas topi rajut Naruto.
"Aku sedang bicara serius."
__ADS_1
"Aku juga." Saking seriusnya Sasuke sampai mencium kening Naruto.
"Bisa tidak bicaranya jangan sambil sentuh-sentuh? Aku sedang sedih dan air mataku ingin keluar." Setelah Naruto selesai bicara air matanya menetes.
"Aku bilang kau seperti krayon, kau tidak suka?"
"Apapun yang kau katakan air mataku tidak akan berhenti mengalir."
"Apa yang kau tangisi?" Sasuke menepuk punggung si pirang pelan. "Broken crayons still color."
Kepala pirang itu bersembunyi di dada sang Uchiha. Sesenggukannya terdengar. Mereka terus berpelukan sebelum dua buah suara terdengar.
"Tutu."
"Jangan berpelukan di depan pintu! Malu dilihat pelayan." Kushina menggendong Sei dengan sebelah tangan sementara tangan satu lagi menutup mata bayi delapan bulan itu.
"Ah!" Sei ingin sekali mengusir benda yang menutup pemandangan di depannya. "Baba."
"Anak bayi tidak boleh lihat!"
"Mama."
"Mamamu nakal!"
Naruto langsung melepas pelukan Sasuke dan mendorong sang Uchiha menjauh. Dia mengusap matanya yang basah dan berjalan mendekat pada Ibu dan anaknya. "Kenapa menutup mata Sei sih Bu?"
Kushina memutar bola mata. "Iseng." Jawabnya kalem. "Cepat ke dalam, jangan main di luar, dingin! Ayo masuk Sasuke-kun."
Sei mengulurkan tangan minta digendong Naruto.
"Nanti ya Sei-kun, setelah aku cuci tangan." Naruto mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
"Tutu." Si kecil yang dibawa masuk kedalam oleh sang nenek mulai merengek.