Secret of My Life

Secret of My Life
Chapter 18


__ADS_3

Tengah malam Hinata tidak sengaja melihat Sasuke berdiam diri di depan pintu kamar yang terbuka. "Ada apa Sasuke-kun?" Ia bertanya seraya tersenyum seperti biasa.


"Barang-barangku tidak ada." Ujar bungsu Uchiha yang tidak melihat satupun barangnya dalam kamar. Semua lenyap seolah ia tidak pernah menghuni kamar itu sebelumnya.


"Ayah meminta orang memindahkan barang-barangmu ke apartemen." Jelas Hinata yang disambut tatapan tajam dari Sasuke. "Ayah atau Itachi-kun tidak bilang?"


Sasuke mengumpat. 'Mereka tadi membuat ponselku hampir meledak karena ini?' Batinnya kesal.


Bungsu Uchiha berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan tempat ia semula berdiri merenung.


"Mau kemana malam-malam Sasuke-kun? Kau belum punya kunci apartemen 'kan?"


"Tidak butuh." Jawab Sasuke singkat sebelum membanting pintu.


Hinata mengangkat bahu melihat tingkah adik iparnya yang semena-mena. Ia melanjutkan langkah untuk melihat sang suami yang masih betah mendekam di ruang kerja sedari mereka pulang dari acara barbeku tadi.


Pintu ruang kerja Itachi terbuka. Sepertinya pemilik ruangan tidak menyadari hal itu. Biasanya bila ada orang di dalam, pintu akan tertutup rapat. Kalau ruang kerja tidak dipakai maka sulung Uchiha akan menguncinya. Tidak ada yang bisa masuk ke dalam kalau tidak ada pemilik yang mengizinkan.

__ADS_1


Hinata penasaran kenapa pintu itu malam ini terbuka begitu saja. Saat ia masuk, bau alkohol menguar sampai membuatnya menutup hidung.


"Itachi-kun?" Panggil wanita itu.


Tidak ada jawaban. Lampu dalam ruangan yang seharusnya bisa menerangi tidak dinyalakan. Hinata meraba dinding untuk menemukan sakelar lampu.


Lampu sudah menyala memperlihatkan kekacauan isi ruangan dengan kaleng dan botol beer yang berserakan. Kulkas di pojok ruangan tebuka mengeluarkan hawa dingin.


Hinata mendekati Itachi yang terlihat sudah kehilangan kesadaran dengan kepala bersandar di meja.


Ia menepuk pelan pundak pria itu untuk membangunkannya.


Tidak ada tanggapan. Sepertinya sang Uchiha benar-benar menghabiskan semua bir ini sendirian. Pantas saja kalau tepar.


"Itachi!"


Tetap nihil respon.

__ADS_1


"Itachi-Nii."


Kepala bersurai hitam itu terangkat, wajahnya yang kuyu terlihat. Mata onyx itu memandang tidak fokus.


"Naru?" Panggilnya dengan suara seperti bisikan.


Mendengar nama itu untuk pertama kali disebut secara live oleh bibir sang suami berhasil membuat rasa cemburu yang sudah terpendam dalam diri Hinata kembali ke permukaan.


'Butuh berapa lama lagi sampai kau lupa? Masa lalumu tidak akan kembali berapa kalipun kau mengingatnya.'


***


Sasuke mengemudikan mobilnya melewati jalanan yang dipenuhi lampu kerlap-kerlip natal. Matanya memandang ke jalan di depan tapi pikirannya berkelana ke tempat lain. Sekarang dia tidak bisa lagi tinggal dengan kakaknya untuk bersembunyi dari sang ayah.


Dia memang ingin tinggal sendiri tapi tidak di tempat yang sudah ditentukan Fugaku. Ia tahu tempat yang ayahnya pilih tidak akan sesuai dengan yang ia mau. Sasuke juga ingin tahu kenapa tiba-tiba sang ayah mengambil keputusan untuk mengizinkannya tinggal di apartemen sedangkan dulu saat dia meminta, dirinya malah diungsikan ke rumah Itachi.


Bapak-bapak Uchiha satu itu sepertinya perlu kopi sianida.

__ADS_1


Sasuke harus minta penjelasan dari ayahnya sekarang juga. Lagi, kenapa tadi kakak, ayah dan ibunya membombardirnya dengan panggilan dan chat tidak penting saat dia sedang menikmati pemandangan dimana Naruto memberi susu Sei—meski dia tidak melihat langsung sumber ASInya.


Gara-gara ponselnya terus bergetar, Kushina jadi menyuruh ia untuk cepat pulang. Padahal Sasuke baru merasa bahwa jarak antara dirinya dan Naruto menyepit. Dia juga ingin melihat tingkah lucu Sei. Meski bayi itu memiliki gen si keriput tapi sifatnya sangat menggemaskan dan tidak ada mirip-miripnya dengan Itachi—hanya fisiknya yang persis.


__ADS_2