
Seminggu ini Sasuke sibuk mencari apartemen. Dia berdebat dengan ayahnya untuk memilih tempat yang layak ia huni dan sesuai keinginannya.
Fugaku menentang rencana sang anak karena semua sudah diatur. Tempat sudah ada, tinggal menghuninya. Bahkan tetangga apartemen sudah ia siapkan tapi anak bungsunya tidak mau. Bahkan meski ia mengancam untuk berhenti memberi uang saku, Sasuke tetap pada pendiriannya.
Untuk sementara Fugaku memilih mengalah dan membiarkan si bungsu semaunya.
***
Sasuke memilih apartemen dekat kampus. Meski ia ingin mencari tempat yang dekat daerah rumah Naruto tapi dia takut membuat keluarganya tahu keberadaan si pirang disaat hubungan mereka belum resmi. Dia juga tidak mau Itachi tahu dan mengganggu usaha mendapatkan kembali cinta pertamanya.
Mengenai ia yang tinggal di apartemen, Sasuke belum memberitahu Naruto. Dia ingin merapikan dan membersihkan tempat ini supaya layak untuk didatangi pemuda itu bersama bayinya.
Sasuke mengerjakan semua sendiri dari membeli perabotan, menata dan bersih-bersih. Setelah lebih dari seminggu semua akhirnya selesai sesuai yang ia inginkan.
Hari ini dia akan berkunjung ke kediaman Namikaze. Dia bertanya dulu apakah Naruto berada di rumah sebelum berangkat ke sana. Saat ia menelfon nomor Naruto, yang mengangkat bukannya si pemuda pirang tapi malah Kushina.
"Sasuke-kun? Naruto melupakan ponsel dan dompetnya di rumah sebelum pergi ke swalayan tadi."
"Swalayan mana?"
"Katanya dia tadi mau ke Precce Premium." Jawab Kushina. "Kau mau ke sana juga? Kalau iya, bisa mampir sebentar ke sini mengambil dompetnya?"
"Tentu." Jawab Sasuke singkat sebeoum menutup telfon.
Dia mengambil mantel dan kunci mobil. Tidak lupa dompet ia masukkan ke dalam saku sebelum berangkat.
***
__ADS_1
Naruto turun dari mobil. Ia membenahi baby carrier yang baru ia pasang di depan dan menyamankan posisi Sei yang ada di gendongannya. Dia memosisikan si kecil menghadap depan supaya pandangan Sei jelas. Setelah merasa nyaman dengan posisi mereka, barulah ia memberi tahu supir untuk meninggalkan mereka dan mencari tempat parkir.
Suara menyedot kuat terdengar. Sei sedang sibuk menguras isi botol yang ia pegang dengan kedua tangannya.
"Sei-kun pegang botolnya yang kuat ya, jangan sampai jatuh!" Ujar Naruti seraya membenahi topi rajut yang dipakai putranya. Tangan kirinya sudah siap dengan nota belanjaan.
Besok adalah tanggal sembilan Januari yang artinya Sei sudah sembilan bulan. Mereka akan makan-makan dengan semua orang di rumah untuk menambah kenangan pada perkembangan si kecil di tanggal kelahirannya. Dari pelayan senior sampai tukang kebun pun ikut. Kali ini acara makannya sedikit spesial karena sepupu dari keluarga Uzumaki akan datang.
Naruto ingin membagikan kebahagiaannya karena perkembangan bayinya yang sekarang sudah bisa berdiri di usia ke sembilan bulan. Meski Sei belum bisa melangkah tapi dia sudah bisa berdiri sampai beberapa detik tanpa pegangan dan itu adalah hal luar biasa bagi Naruto. Artinya dia membesarkan putranya dengan baik sejauh ini.
"Sei-kun sudah siap belanja?" Tanyanya sembari memperhatikan ekspresi si kecil yang baru pertama kali berada di tempat ramai.
Ini adalah pertama kalinya Sei ikut berbelanja. Dia terlihat antusias melihat ke sana ke mari. Mata hitam pualamnya menyapu seluruh pemandangan yang menurutnya asing dan menarik. Saat mata itu menangkap objek menarik dan familiar di matanya, botol yang dipegangnya langsung ia lepas.
Untung Naruto dengan sigap menangkap botol itu sebelum jatuh menghantam lantai dan menyia-nyiakan isi di dalamnya.
"Tatata..." Mulut Sei mengoceh terus dengan tangan menjulur ke depan--tidak peduli pada Ibunya yang berusaha menahan tubuh gembul yang semakin condong ke depan.
"Tatatatatatata."
"Berhenti menggerakkan bokongmu! Beratmu hampil 10 kilo loh Sei-kun. Kita bisa menabrak orang kalau banyak tingkah begini, nak."
Objek incaran Sei mendekat. Bayi gembul itu tertawa riang saat berhasil menggenggam jari telunjuk yang Sasuke ulurkan.
Sang Uchiha tersenyum melihat anak Naruto begitu familiar dengannya. "Merindukanku?" pertanyaan itu untuk Sei juga Ibunya---kalau saja Naruto sadar tatapan Sasuke ke arahnya.
Naruto menatap pemuda di depannya tanpa berkedip sebelum keningnya berkerut. "Ini kebetulan lagi?" Tanyanya tidak percaya mereka bisa tidak sengaja terus bertemu.
__ADS_1
"Ini!" Sasuke memberikan dompet pada Naruto. "Ibumu bilang kau lupa." Jelasnya.
"Ah iya, kenapa bisa aku sampai kelupaan." Naruto menepuk jidatnya.
Tangan mungil Sei tidak mau melepas jemari Sasuke, ia malah menariknya semakin kuat.
"Biar aku yang menggendongnya." Sasuke melepas baby carrier yang dipakai Naruto dan mengambil Sei dari gendongan pemuda itu.
"Ngomong-ngomong kenapa Ibu bisa bilang padamu kalau aku lupa?"
"Tadi aku telfon ponselmu dan yang mengangkat Bibi Kushina. Dia bilang kalau aku menyusul sekalian membawakan dompetmu."
"Ibu kenapa tidak minta supir saja mengambilnya."
"Ada aku kenapa harus minta supir?"
"Terserah lah." Naruto mengibaskan tangannya. Tidak ada gunanya meributkan hal yang sudah terjadi.
Sasuke mengambil botol susu Sei dari Naruto dan memberikannya pada si kecil. "Nanti aku antar pulang."
"Tapi supirku sudah di tempat parkir."
"Sudah kusuruh pulang tadi waktu bertemu di tempat parkir."
Naruto menatap Sasuke dengan aura suram.
"Ayo masuk!" Tangan kanan Sasuke menggendong Sei dan tangan satunya lagi untuk menggeret si pirang yang sekarang ekspresi cemberutnya lebih menggemaskan dari Sei.
__ADS_1