Secret of My Life

Secret of My Life
Chapter 19


__ADS_3

Setelah natal lewat sampai tahun baru, Naruto tidak mendapat kunjungan dari Sasuke meski sang Uchiha tidak lupa mengirimi pesan setiap hari atau telfon. Dia tidak berharap pemuda itu akan datang setiap hari menemuinya karena ia tahu hari-hari itu adalah hari berkumpul bersama keluarga. Lagipula mereka tidak memiliki hubungan spesial sampai harus dia yang diprioritaskan oleh Sasuke.


Hubungan mereka memang lebih dekat dan lebih baik tapi bukan berarti bisa dianggap sepasang kekasih. Naruto memang berharap sekali lagi mendapat sinyal untuk memperjelas hubungan mereka tapi dia tidak mau membebani Sasuke dengan statusnya yang sudah memiliki satu putra.


Kalau memikirkan bahwa Sasuke adalah adik Itachi, dia memiliki keraguan jika harus menerima bungsu Uchiha sebagai pacar karena orang tua dua Uchiha itu tentu sama dengan orang yang tidak bisa menerimanya.


...


Sei merangkak mendekati Naruto yang tertidur melamun di atas karpet. Ia berhenti tepat di dekat kepala pirang itu dengan posisi tengkurap—istirahat karena lelah merangkan ke sana kemari. Si kecil memegang perut gembulnya yang mau susu.


"Mama." Panggilnya dengan tubuh miring ke arah Naruto seraya menyender kepala ke karpet di bawahnya.


Naruto masih diam di posisi semula dengan mata fokus ke langit-langit—tidak menyadari bayi kelaparan di dekatnya.


Sebab tidak mendapat sahutan, Sei kembali bangun dan menjulurkan tangan ke arah pipi sang mama dan menepuknya beberapa kali. "Tei... tutu."

__ADS_1


"Hmmm." Respon Naruto hanya bergumam tidak peduli.


Sei tidak suka kalau mamanya tidak menaruh perhatian padanya jadi dia dengan kesal mendudukkan bokong berpempersnya tepat di atas wajah Naruto.


Naruto kaget mendapati si kecil yang tiba-tiba nongkrong di wajahnya. "Sei-kun jauhkan bokongmu!" Serunya dengan tangan yang sudah mengangkat sang anak dan memindahkannya ke sisi lain, sedangkan dia bangun terduduk dengan hati agak emosi. Dia nyaris jadi korban pampers hampir penuh milik Sei karena tidak bisa bernapas.


Si kecil menunjukkan ekspresi bingung. Dia hanya ingin mama sadar bahwa dirinya butuh perhatian. Ia tidak tahu kenapa wajah yang baru saja ia duduki itu memerah seperti tomat matang.


Sei menatap Naruto dengan jempol di mulutnya. "Hehe." Tawanya tanpa dosa.


Bayi yang sebentar lagi berumur sembilan bulan itu menatap ibunya, kali ini ia meringis memamerkan dua gigi susunya yang lucu. "Mama.. mamam... Tutu!" Ocehnya semangat.


"Lapar?" tanya Naruto. Dia mengangkat Sei ke pangkuannya. Si kecil mulai menarik-narik bajunya. Naruto menahan diri dan pura-pura tidak mengerti. "Apa sih?" sekali lagi dia bertanya seolah tidak tahu maksud dari tanda yang putranya berikan.


Mata Sei mula berkaca-kaca. Dia mengusap-usap kepala ke dada Naruto. "Tutu."

__ADS_1


"Apa?"


"Mamam."


"Hm?" Si pirang masih menahan diri dan menunjukkan wajah tidak mengerti miliknya.


"Uwaaaaaa." Sei mulai menangis. Dia mulai menutup wajah dengan kedua tangan mungilnya. "Tutu."


"Hahaha Sei marah. Cup cup, maaf sayang! Sei-kun tidak diberi makan ya?!" Naruto menciumi wajah sang anak gemas.


"Mama." Sei mengangkat tangan yang menempel di wajahnya. Kedua telapak tangan itu belepotan ingus. Bibir kecilnya mengerucut.


Naruto mengambil tisu dan membersihkan wajah serta tangan mungil putranya. "Coba panggil Papa dulu."


"Mammmam...."

__ADS_1


"Ok ok makan."


__ADS_2