
"Kiba kau di mana sih? Aku tinggal berkedip sebentar sudah hilang. Jadi makan tidak sih?" Naruto menggerutu jengkel pada sahabatnya di seberang telfon.
"Maaf." Suara kikikan pemuda di telfon terdengar. "Aku di McD. Ke sini saja!"
"Kenapa tadi tidak menungguku sebentar saja?!" Si pirang menggerutu lagi.
"Em... itu... aku bertemu Shikamaru-Senpai."
"Hoes before bros!"
"Ya ampun sensitif sekali sih, dasar jones!"
Naruto memutar bola mata. Dia sudah kebal dikatai Kiba. "McD dekat pintu keluar barat?"
"Yup. Cepat kemari, aku yang traktir."
"Ok."
Naruto memasukkan ponsel dalam tas seraya memandang rintik-rintik air yang jatuh membasahi jalan. Dia merapikan mantel dan syalnya.
"Sudah dingin, hujan lagi." Si pirang menggerutu. Ia bergegas membuka payung yang baru ia beli dan mulai melangkahkan kaki berbalut converse hitam miliknya.
'Dingin-dingin begini enaknya tergulung dalam selimut bersama Sei, hehe.' Membayangkan memeluk si embul di rumah, Naruto ingin segera pulang tapi mengingat kata sang ibu yang menyuruhnya sesekali harus pergi keluar bersama teman setelah selesai dengan kegiatan kuliah, dia jadi harus bertahan dari rasa rindu pada sang buah hati.
Setelah berjalan sekitar dua menit, Naruto sampai di depan McDonald's. Seolah tahu sudah sampai tempat makan, rasa lapar mendesak lambungnya. Ia sudah lama tidak makan makanan cepat saji. Biasanya ke sini cuma lewat.
Naruto menutup payung dan bergegas mendorong pintu masuk. Setelah menaruh payung, kepala kuningnya langsung menoleh ke kiri, menemukan sang sahabat sedang mengobrol bersama pemuda bersurai panjang terikat seperti nanas.
__ADS_1
Melihat keakraban dua orang itu Naruto jadi ragu mau ikut makan di sini kalau harus jadi obat nyamuk.
Kiba menyadari keberadaan Naruto yang masih berdiri di dekat pintu masuk. Pemuda bertanda lahir di pipi itu melambai antusias pada si pirang.
Naruto balas melambai ringan kemudian berjalan mendekat.
Sudah ketahuan, pasrah saja.
Dia ingin duduk dekat Shikamaru tapi tempat duduknya sudah terisi. Sedangkan Kiba sudah di pojokan. Tempat duduk dekat dinding kaca ini berjejer, bukan melingkar atau berhadapan. Kalau duduk ada jarak satu orang asing, rasanya tidak asik. Apa ini karena Tuhan tahu dia tidak mau jadi orang ketiga makanya sekarang dia menjadi orang keempat?
"Duduk di sini." Suara bass terdengar.
Naruto sport jantung melihat pelaku yang telah menganiaya baby rattle milik Sei dengan santai menawarkan tempat duduk padanya.
Dia reflek menuding hidung mancung pemuda tampan di depannya dengan jari telunjuk. Ingin bersuara tapi tertahan di tenggorokan.
Si pirang menggeleng. Dia melunturkan wajah kaget bercampur gugupnya, berusaha terlihat biasa. "Aku tidak tahu siapa dia."
"Uchiha Sasuke. Kita kuliah di kampus yang sama tapi dia sudah tahun kedua." Kiba menjelaskan seraya mengaduk milkshake di tangannya dengan sedotan.
Shikamaru menyentil kening Kiba tiba-tiba. "Kau panggil aku Senpai tapi kenapa memanggil Sasuke tanpa embel-embel?" Protesnya.
Kiba cengengesan sembari mengusap dahinya pelan. "Sasuke 'kan masih tahun kedua sedangkan Shikamaru-Senpai sudah tahun ketiga. Dia juga umurnya sama denganku cuma jadi mahasiswa baru lebih dulu setahun."
Sasuke tidak peduli pada percakapan tidak penting Shika-Kiba. Dia lebih tertarik pada Naruto yang sedang melangkah perlahan mundur.
Mendengar nama lengkap Sasuke, ekspresi si pirang langsung memucat.
__ADS_1
Dia mau pulang saja. Please!
Grab!
Sasuke menangkap pergelangan tangan pemuda itu. "Kau tidak mau makan? Apa mau aku pesankan?" Wajahnya yang biasa datar tidak bisa berhenti menyeringai melihat wajah gugup yang tidak bisa disembunyikan oleh pemuda bersurai pirang ini.
"Aku tidak-"
"Tidak lapar?"
Naruto mengangguk cepat.
Sang Uchiha memperlihatkan senyum miring. "Atau kau buru-buru ingin pulang karena ada yang harus disus-"
Telapak tangan Naruto dengan secepat kilat membekap mulut Sasuke. Matanya melotot.
Brengsek. Umpat hatinya. Dia tidak tahu apa yang ada di pikiran si Uchiha satu ini. Apa dia tahu rahasianya hanya karena melihat chat di ponselnya semalam?
Sasuke tersenyum sampai matanya menyipit. Dia tidak bicara karena tangan si pirang masih mendekap mulutnya.
Naruto ingin menampar wajah menyebalkan itu dengan sepatu.
Sialan.
"Ikut aku!" Dia menarik lengan baju Sasuke.
Shikamaru memandangi dua makhluk bersurai kontras itu berjalan keluar. Di luar sedang gerimis, mereka mau kemana?
__ADS_1