
Naruto duduk di ruang tunggu rumah sakit di area khusus dokter spesialis anak bersama Kushina.
"Yah untung registrasi tepat waktu." Ujar si pirang seraya menghela napas lega.
"Uwa wu..." Tangan Sei menggapai-gapai minta diangkat dari stoller.
Naruto mengangkat si kecil dalam gendongan. "Capek ya duduk terus?"
Sei berdiri di atas paha ibunya dengan dipegangi di pinggang. Setelah diam beberapa detik dia mulai melonjak-lonjak lalu diam lagi dan bergerak tidak karuan lagi. Begitu terus sampai Naruto berdiri dan menggendongnya menghadap belakang supaya diam. Dia menepuk-menepuk bokong Sei pelan. Baru menampung energi dengan tidur jadi sekarang tenaga si kecil masih banyak.
Setelah Sei menyandarkan kepala di bahu, barulah Naruto kembali duduk.
"Aku akan menanyakan sesuatu dulu di bagian administrasi. Tunggu di sini ya!" Kushina berdiri dan meninggalkan kursi tunggu setelah mendapat anggukan dari sang anak.
Sei belum pernah sakit serius setelah mereka kembali ke Jepang. Naruto selalu membawa Sei cek rutin setiap bulan. Dia ingin memastikan Sei tidak punya kelainan seperti dirinya. Sedikit orang mungkin menyebutnya spesial tapi baginya dia cacat.
***
Kalau tidak ada jadwal kuliah, sang ayah pasti mencari-cari cara menjadikan Sasuke babu eksklusifnya. Tapi hari ini ayahnya masuk Rumah Sakit. Penyebabnya sangat sepele, dikarenakan Fugaku terlalu bersemangat merangkak bersama Ryuuto dan membuat pinggangnya sakit sampai harus dibawa ke rumah sakit.
Sasuke sebenarnya hanya berniat menjenguk sebentar tapi karena Ibunya harus pulang dulu, dia jadi harus menjadi penjaga ruangan. Tidak lupa sang Ayah memberinya beberapa tugas perusahaan yang membuatnya menggeram malas.
Bungsu Uchiha melihat-lihat isi map yang Fugaku berikan padanya untuk diperiksa dengan teliti. Dia hanya membaca sekilas saja.
Sasuke menutup dokumen yang menurutnya tidak begitu penting itu. Sang Ayah masih sibuk berbicara dengan Dokter yang baru saja datang mengecek kondisinya. Uchiha bungsu memutuskan mengalihkan kejenuhannya ke jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dan taman di area Rumah Sakit. Lalu matanya tertumbuk pada surai merah di bawah sana sedang berjalan menjauh.
Sudut bibir Sasuke tertarik ke atas. Sepertinya dia punya sesuatu yang bisa membuatnya kabur dari kebosanan ini. Sasuke menoleh pada Ayahnya yang masih sibuk mencari teman ngobrol—karena kalau mengobrol dengan Sasuke bawaannya emosi.
__ADS_1
Sasuke mendapat ide untuk menyelinap keluar ruangan dan turun ke lantai bawah.
'Bibi Kushina ada di daerah dokter spesialis anak, pasti bersama Naruto.'
"Mau ke mana kau?"
Baru saja Sasuke ingin membuka pintu. Ayahnya sudah menginterupsi terlebih dulu.
Wajah datar Sasuke menoleh pada Fugaku. "Aku melihat kenalanku di bawah. Dokumen tadi sudah aku periksa dan pelajari. Kurasa tidak ada masalah, jadi... apa aku boleh pergi?"
"Jangan kelayapan jauh dari rumah sakit nanti Ibumu marah saat dia kembali dan melihatmu tidak ada."
"Hm."
Sasuke langsung melenyapkan diri di balik pintu. Dia menuju bagian gedung lain dari Rumah Sakit. Ia pernah mengantar Hinata bersama Ryuuto ke sana kalau sang kakak sedang sibuk jadi lumayan tahu tempatnya.
"Ada Ibu muda di sini!" Seru Sasuke yang sengaja berdiri di belakang Naruto.
Naruto yang mendengar suara itu, menengok ke kiri dan ke kanan lalu menatap anaknya. "Sei-kun dengar sesuatu tidak? Seperti ada suara dari orang menyebalkan. Apa jangan-jangan hantu atau setan? Hiiy Sasuke 'kan memang sejenis setan." Si pirang bergidik—bertingkah seolah Sasuke mahkluk tak kasat mata. Dia tidak peduli orang yang dibicarakan ada di belakangnya dengan dahi berkedut menahan emosi.
Emosi antara ingin menjitak atau mencium.
Bayi delapan bulan itu mengintip dibalik bahu Naruto. Dia terlalu peka dengan aura negatif dari belakang Ibunya. Si bayi melihat Sasuke yang sudah berdiri di belakang Ibunya dengan ekspresi datar. Aura dominannya menguar membuat Sei tertawa dan bertepuk tangan.
"Sei-kun jangan banyak bergerak nanti tenagamu habis." Naruto mengangkat si mungil tinggi ke atas. "Hayo!" Sei tambah girang.
Ibu-ibu di dekat Naruto tertawa kecil. Dia mengira Naruto itu kakaknya Sei. Wajah kekanakan begitu mana bisa meyakinkan kalau bisa mengurus anak. Apalagi jadi bapak.
__ADS_1
Kushina datang setelah urusannya di bagian administrasi selesai, dia juga sudah mampir ke toilet. Dia melihat Sasuke yang masih berdiri di belakang anaknya. "Sasuke-kun kenapa bisa ada di sini?" Tanyanya.
"Ada yang yang sakit Bibi." Jawab Sasuke.
"Kau sakit?" Naruto spontan berdiri dan membalikkan badan. Apa tulang Sasuke ada yang patah karena menggendongnya waktu itu?
"Atit?" Sei memiringkan kepala dan berkedip bingung.
Sasuke bisa menebak apa yang dipikirkan si pirang dari tatapannya. Di menutup mulut menahan tawa. "Ada kerabatku yang sakit."
"Oh~" Naruto langsung memutar kembali tubuhnya. Tidak mungkin juga dia seberat itu sampai mematahkan tulang.
Sasuke menatap bayi yang mengulurkan tangan ke arahnya. "Gendong?"
Si kecil tersenyum manis seraya membuka tutup genggaman tangannya.
"Kau baru bertemu dengannya sekali Sei-kun, kenapa sudah memperlakukannya seperti babysitter-mu?" Naruto berujar heran.
"Bababa." Sei mengoceh tidak peduli.
Sang Uchiha mengambil Sei dari gendongan Naruto. "Papa?" tanya Sasuke pada bayi delapan bulan itu.
"Baba."
"Apanya yang Papa? Aku Papa?" Naruto juga ikut menatap Sei minta penjelasan. Sekali lagi, pada bayi berusia delapan bulan.
Kushina geleng-geleng melihat dua pemuda dan satu bayi yang sudah tenggelam dalam percakapan tidak jelas mereka.
__ADS_1