
Naruto mulai curiga Sasuke menempelkan GPS dalam tubuhnya karena entah bagaimana dan dimanapun, mereka selalu bertemu.
Awalnya dia tadi hanya berniat jalan-jalan sebentar sambil mencari jajanan yang ada di Tokyo Midtown. Ia berjalan dari sini sampai rumah untuk sedikit menikmati suasana jalan sebelum malam natal. Intinya single jalan-jalan, cuci mata, sendirian. Tidak mungkin juga membawa Sei dengan hawa dingin di luar yang mungkin bisa membuat si kecil tidak enak badan.
Saat sedang melihat-lihat di daerah makanan, ada yang menepuk bahunya dan ternyata itu sang Uchiha. Naruto tidak tahu bahwa dunia ini begitu sempit atau kota ini yang kurang luas membuat mereka jadi sering bertemu. Mungkin dia kurang beruntung.
"Temani aku beli makan." Sasuke tidak meminta tapi dia langsung menggeret tangan Naruto menuju tempat yang dituju.
Sesampainya di depan counter makan—yang menampilkan banyak jenis makanan ditusuk seperti sate dan berbau harum—Naruto merasa merinding dengan banyak tatapan mata yang seolah bisa menembusnya sampai ke dalam-dalam. Kesalahan jika si pirang lupa bahwa orang di sampingnya ini magnet manusia. Seharusnya dia membelikan Sasuke masker untuk menyembunyikan wajah playboy-nya.
"Cepat pesan!" Desak si pirang.
"Tunggu, aku masih bingung mau yang mana."
"Kalau begitu aku tunggu di depan saja." Naruto nyelonong berniat meninggalkan Sasuke yang sedang memasang tameng agar hawa-hawa memuja di sekitarnya tidak membuatnya infeksi mata dan kulit.
Jemari seputih porselin itu menarik bagian belakang sweater si pirang, supaya tidak kabur. "Jangan coba-coba kabur. Aku tidak tahu apa yang kau suka jadi kau pilih sendiri." Ujar Sasuke dengan entengnya mengalungkan lengan di bahu Naruto dan menariknya mendekat.
"Aku juga harus pesan?"
"Iya. Kau lapar 'kan?"
Dalam hati Naruto mengiyakan, tapi apakah dia bisa mengisi perut dengan tenang bersama orang ini?
Dia diseret Sasuke ke sana ke mari melihat menu yang berjejer.
"Aku bisa jalan sendiri. Tidak perlu menyeretku begini 'kan?" Naruto berusaha menyingkirkan tangan sang Uchiha darinya. "Lepaskan!" Naruto memukul tangan besar itu kesal karena kuat sekali melingkar di bahunya.
Tatapan dari para pengunjung seolah mengeluarkan laser. Naruto harus menahan diri untuk tidak berteriak minta tolong.
"Tidak mau." Sasuke menjawab datar.
"Aku tidak akan kabur. Sungguh!"
__ADS_1
Sasuke menghentikan langkah dan melepaskan si pirang.
Naruto menghela napas lega. Namun hal selanjutnya yang dilakukan bungsu Uchiha membuatnya tidak bisa berkata-kata. Sasuke memasukkan kelima jarinya disela ruas jemari tidak berdosa Naruto.
"????"
Ini lebih berbahaya dari sekedar menggenggam pergelangan tanganku, brengsek!
***
Keluar dari midtown tenaga Naruto sudah terkuras. Terima kasih pada Sasuke, dia sudah punya kekebalan baru pada kerumunan orang.
"Kau tunggu di sini atau ikut aku?" Tanya Sasuke.
"Tidak bisakah aku langsung berjalan saja pulang?"
"Tidak."
"Kalau naik mobil hanya 3 menit. Kau tidak kasihan pada Sei yang menunggumu terlalu lama?"
Bagaimanapun Naruto tidak akan bisa menolak Sasuke karena dia selalu kalah kalau adu alasan dengannya. "Baiklah, aku menunggu di sini saja."
"Tunggu di dekat tanda Public Parking dan bawakan ponselku." Sasuke melempar ponselnya ke arah Naruto dan meninggalkan si pirang dengan langkah lebar.
Naruto menatap punggung lebar pemuda yang sudah menjauh itu dengan tatapan kesal. Kalau dititipi barang begini dia mana bisa kabur. "Tenangkan dirimu Naruto! Tarik napas—huuu—keluarkan—haaah—yang waras harus tenang!" Dia menenangkan diri supaya tidak meledak sendirian seperti orang gila.
Setelah Naruto tenang, dia mengantongi ponsel Sasuke kemudian menyadari keberadaan bocah yang sedang sesenggukan di bawah tiang lampu.
Dengan langkah pelan ia mendekati anak kecil yang ia perkirakan berumur sekitar tujuh tahun itu sebelum membungkuk di depannya.
"Hai!" Naruto memanggil dengan hati-hati.
Anak kecil itu mendongak, memperlihatkan mata hitam berhias linangan air mata yang mengingatkan Naruto pada putranya di rumah saat menangis. "Kau tersesat?" Tanyanya.
__ADS_1
Kepala kecil itu mengangguk.
"Jangan menangis lagi! Aku akan membantumu." Si pirang mengusap air mata anak bersurai hitam itu dan menepuk kepalanya pelan. "Ayo berdiri! Coba ingat terakhir kali kau bersama orang tuamu, aku akan membawamu ke sana." Naruto menggenggam peegelangan tangan si kecil berniat membantunya bangun tapi bocah bersurai kelam itu menggeleng lalu menarik kembali tangannya dan memegang perut.
"Sakit." Suaranya lirih.
Mendengar itu Naruto langsung panik. Dia merasa kasihan pada anak ini. Sudah sakit tersesat pula. Malang sekali.
"OBITO! OBITO!"
Naruto baru saja ingin menelfon ambulan saat mendengar teriakan seorang pria berjas armani keluar dari gedung Hotel Oakwood Premier dengan ekspresi cemas.
"Dia Ayahmu?" Naruto langsung bertanya.
Sekali lagi Obito mengangguk.
Naruto menganggkat Obito dalam gendongan dan buru-buru menyeberang jalan. "Tuan tunggu! Anakmu di sini!" Teriaknya saat baru sampai tengah jalan.
Pria itu langsung berhenti berteriak dan berlari menunggu pemuda pirang yang menggendong putranya di pinggir jalan.
Setelah Naruto berhasil menyebrang dia menyerahkan bocah yang semakin pucat itu pada Ayahnya.
"Obito-kun bilang perutnya sakit. Aku tidak tahu sudah berapa lama tapi sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit."
Pria itu langsung menatap anaknya. "Ini pasti karena kau terlalu banyak makan coklat. Dasar bandel!"
Naruto sweatdrop. Anak sakit bukannya cepat-cepat dicarikan dokter malah diceramahi.
"Shisui!" Suara lain terdengar. Satu lagi pria berjas armani datang mendekat.
"Obito sudah ketemu?"
Jantung Naruto hampir tergelincir melihat orang itu melihat ke arahnya.
__ADS_1