Secret of My Life

Secret of My Life
Chapter 22


__ADS_3

Pulang kuliah Naruto sekali lagi mengabaikan Kiba yang minta dikawal ke kampus utama untuk mencari keberadaan Shikamaru. Dia sudah ada janji dengan Sasuke untuk menemani pemuda itu mencari hadiah yang ingin diberikan pada Sei jadi ia menolak ajakan sang sahabat yang sedang ingin melihat gebetan.


Tadi saat Sasuke bilang ingin memberikan Sei sesuatu, Naruto bilang bahwa Sei tidak membutuhkan apapun namun pemuda itu tetap ingin membawa sesuatu saat makan malam nanti. Sang Uchiha bilang tidak bisa hanya datang dengan tangan kosong.


Naruto mengangkat bahu pasrah saat dia diwajibkan ikut menemani si pemuda tampan mencari barang.


"Kenapa lama sekali?" Gerutunya sekali lagi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Dia tidak boleh pulang telat untuk acara malam ini. Meski ada ibunya yang menyiapkan semua tapi dia juga harus cepat pulang karena kalau Kushina sibuk, Sei akan kurang perhatian. Dia berniat tidak lama-lama untuk mencari barang yang Sasuke inginkan.


Naruto menunggu tepat di tempat mereka janjian—di depan Yamate Ramen. Sebab Sasuke tadi pulang lebih awal dari Naruto jadi dia minta si pirang menunggu di sana setelah kegiatannya selesai. Namun entah kenapa sudah setengah jam lebih dari janji bertemu tapi pemuda yang membuat janji tidak datang.


Ponsel yang dipegang Naruto berbunyi menandakan panggilan masuk. Ia menatap layar ponsel yang menunjukkan nama Sasuke.


Dengan cepat dia menggeser tombol terima. "Halo."


"Naruto, kau masih di kampus?" Suara Sasuke terdengar tenang. Beda dengan Naruto yang sudah hampir hilang kesabaran.


"Aku menunggumu di depan yamete ramen dekat lintasan atlentik kampus seperti katamu. Kau dimana? Kenapa lama sekali?"


Mendengar suara si pirang yang agak tidak sabar membuat Sasuke terdiam sebentar sebelum meminta maaf. "Maaf, aku ada urusan tiba-tiba jadi jangan menungguku lagi dan pulanglah." Ujarnya menjelaskan dan berharap Naruto tidak marah.


"Oh, ok." Naruto berusaha mengontrol rasa kecewa yang mungkin terdengar dari nada bicaranya. "Kalau begitu aku pulang." Setelah itu dia langsung menutup telfon tanpa mendengar balasan dari pemuda di seberang.

__ADS_1


Si pirang memegang dadanya untuk meredam emosi yang tiba-tiba meluap. Entah kenapa dia merasa kecewa hanya karena Sasuke membatalkan janji. Sebaiknya dia cepat pulang dan memikirkan sesuatu yang lebih penting.


Naruto tidak mau berjalan lagi ke stasiun kereta dengan suasana hati kurang baik. Dia lebih memilih membuka aplikasi uber supaya cepat sampai rumah tanpa perlu desak-desakan di kereta.


***


Sasuke menatap ponsel dalam diam. Pesannya tidak dibalas oleh Naruto setelah pemuda itu memutuskan telfon sepihak tadi. Ia rasa si pirang marah padanya.


"Sasuke-kun."


Suara seorang gadis membuat Sasuke mendongak dengan ekspresi suram. "Kenapa kau masih di sini?" Tanyanya dengan nada datar. Ia kira gadis ini sudah pulang setelah ia masuk kamar untuk menelfon Naruto tadi. Ternyata masih ada di ruang tamu rumah.


"Tentu dia menunggumu mengantarnya pulang, Sasuke." Mikoto yang melihat tatapan tidak ramah anak bungsunya menjawab.


"Sibuk apa? Dari tadi kau hanya main ponsel dan entah telfon siapa." Bantah nyonya Uchiha itu.


"Karena tadi aku ada janji dengan seseorang tapi karena tertipu aku harus pulang dan membatalkan janji penting." Ujar Sasuke panjang lebar karena emosi.


Mood bungsu Uchiha semakin buruk. Sudah cukup dia ditipu supaya pulang ke kediaman Uchiha dengan alasan ibunya kecelakaan. Seharusnya dia tahu kalau Mikoto benar-benar mengalami kecelakaan serius, mereka tidak akan menyuruhnya pulang tapi menuju ke rumah sakit.


Saking paniknya dia yang sedang siap-siap di apartemen langsung tancap gas pulang sampai lupa mengabari Naruto, tapi sampainya di rumah yang ia dapati malah Mikoto yang sedang santai di meja makan tanpa memar atau luka berat seperti yang Sasuke bayangkan, hanya tangan yang diplester karena tergores pisau saat memasak bersama Hanabi. Saat itulah baru otak pintar Sasuke bekerja dengan benar. Dia ditipu.

__ADS_1


Kenapa juga ibunya bisa ada di dapur?


Biasanya juga selalu menyuruh pelayan. Apa karena adik dari menantu kesayangannya di sini?


"Aku pulang!" Sasuke tidak ingin lagi berlama-lama di sini. Dia bisa keriput seperti Itachi kalau terus emosi.


"Mau pulang ke mana? Ini rumahmu Sasuke." Ujar Mikoto seraya melipat tangan di depan dada.


"Aku pulang ke apartemenku sendiri."


"Kalau begitu sekalian antar Hanabi pulang."


"Kita tidak searah."


"Sasuke, kau ingin menolak permintaan Ibumu?" Mikoto menunjukkan wajah tegas, berharap Sasuke menyetujui apapun yang ia mau.


'Heh, apa benar dia Ibuku?' Batin Sasuke merasa kasihan pada dirinya sendiri. "Pelayan!" Panggilnya keras sampai semua pelayan yang ada di sekitar mendekat.


"Ya Tuan Muda."


"Panggil supir untuk mengantar wanita ini pulang!" Sasuke menunjuk Hanabi sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu keluar tanpa peduli apapun lagi. Bahkan panggilan berkali-kali dari ibunya.

__ADS_1


Hanabi yang dari tadi diam mengepalkan tangannya melihat bungsu Uchiha yang berjalan menjauh.


'Aku belum melakukan apapun dan kau sudah menjauhiku?'


__ADS_2