Secret of My Life

Secret of My Life
Chapter 10


__ADS_3

Naruto menerima pesan dari Sasuke bahwa dia ditunggu di Bon Art cafe depan *L*ibrary of Economics. Sekarang dia sedang menuju ke sana, tinggal menyebrang jalan.


Warna lampu untuk menyebrang pejalan kaki masih merah yang menyala. Naruto mengecek ponsel sekali lagi untuk melihat apakah Sasuke sudah membalas pesan terakhirnya sembari menunggu lampu untuk pejalan kaki berganti warna hijau. Belum ada balasan ternyata. Malah ada satu pesan dari Ibunya—seperti biasa—yang menyuruhnya cepat pulang.


Dia tersenyum. Dengan suasana hati bagus membalas pesan itu dengan kalimat singkat lalu mengecek apakah lampunya sudah berganti, ternyata sudah. Naruto melihat beberapa mobil berhenti tidak jauh darinya. Dia tidak terlalu peduli sebelum irisnya menangkap pemandangan mengejutkan. Ia hampir berhenti di tengah jalan.


"Aku salah lihat." Yakinnya pada diri sendiri sembari menggenggam erat ponselnya.


"Hanya dua orang dewasa dan satu bayi. Apa yang mengejutkan Naruto?" Dia bergumam seraya terus berjalan ke seberang jalan. "Keluarga kecil bahagia." Naruto tertawa mengejek—entah untuk mereka yang baru ia lihat atau untuk dirinya sendiri.


Dia baik-baik saja dan bahagia. Sedangkan aku masih menata kembali apa yang sudah ia tinggal dan buang. Haha, semua memang salahku. Salahmu Naruto, salahmu.


Naruto ingin memaki. Setetes air mata keluar dan dengan cepat berusaha ia hapus.


Dia sedang berusaha bangkit, kenapa harus diingatkan dengan orang itu? Belum puaskah bayang-bayangnya selalu ada di wajah Sei?


.


.


.

__ADS_1


.


Sasuke tidak tahu kenapa Naruto terlihat sangat lesu. Padahal tadi si pirang sudah mulai terbuka. Mereka bisa bercanda di email ataupun telfon dalam waktu singkat tapi, sesingkat itu pula suasana hatinya berubas drastis.


"Apapun yang terjadi jangan lupa makan." Sasuke menyodorkan segulung pasta ke depan mulut Naruto.


Naruto membuka mulutnya secara otomatis. Dia tidak punya niat menolak ataupun punya tenaga tambahan untuk melakukan itu. Jadi sampai sepiring pasta di depannya habis disuapkan Sasuke ke dalam mulutnya dan berpindah ke dalam perut, Naruto tidak begitu menyadari meski banyak orang di cafe yang menjadikan mereka tontonan gratis.


Setelah selesai membayar, Sasuke menggandeng Naruto keluar menuju tempat di mana mobilnya terparkir.


Naruto berjalan seolah sedang menyeret kakinya. Sasuke yang gemas alias tidak sabar mengangkat tubuhnya seperti karung beras. Membawanya segera ke mobil dan memasukkannya ke dalam.


Naruto seperti anak yang patuh melakukan apa yang di perintahkan tanpa mengeluarkan suara. Setengah nyawanya seolah hilang hanya karena melihat sekilas seseorang yang satu setengah tahun ia hindari.


"Ada apa denganmu?" Sasuke bertanya setelah mobil berjalan. "Apa kadar kebodohmu bertambah?"


Mulut itu kadang perlu dislepet sendal refleksi.


"Iya, kadar kebodohanku bertambah jadi 200%." Kali ini Naruto menjawab ketus. Dia tahu tidak baik kalau melampiaskan emosi pada Sasuke tapi dia butuh pelampiasan. Siapa suruh bersikap menyebalkan.


Sasuke tahu si pirang emosi dan mungkin lebih baik diam saja, tapi Naruto yang galak begini sangat lucu di matanya. Dia tidak tahan kalau harus membiarkan ini lewat begitu saja. "Aku kira setelah makan kepintaranmu bertambah, apalagi disuapi olehku. Seharusnya kau jadi seorang genius." Sindirnya.

__ADS_1


Naruto mencubit lengat Sasuke dengan kuat. "Kekuatanku yang bertambah."


"Begini balasanmu setelah aku menjadi babysitter-mu beberapa menit yang lalu? Menyuapi dan menggendongmu masuk mobil tapi akhirnya dianiaya?"


Naruto menutup wajahnya. "Aku tidak mau mengingatnya."


"Beratmu berapa sih? Punggungku sakit."


"Berhenti Sasuke! Atau kita akan kecelakaan."


"Penyebab kecelakaan: bocah galau dengan bokong penuh lemak."


Naruto benar-benar ingin mencekik Sasuke. Kenapa bokongnya dibawa-bawa dan bagaimana bisa sang Uchiha tahu bahwa bokongnya penuh lemak?


Matanya melebar dan menatap ke samping curiga.


Sasuke menyeringai. "Tadi, kau tidak sadar?" Dia menggerakkan tangan kiri yang melepas setir dengan gerakan ***.


Kalau saja tidak takut mengganggu bungsu Uchiha menyetir, Naruto sudah pasti bergulat dengannya saat ini.


"Dasar mesum! Hentai! Brengsek!" Dan seterusnya Naruto mengeluarkan semua kata-kata buruk dari bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2