Sekali Lagi

Sekali Lagi
Sebelas


__ADS_3

Aku membuka dan membaca lagi surat dari ayahku. Semakin sering aku membacanya, semakin sering pula aku membayangkan ayahku, apakah dia berdebar bedar saat menulis surat ini untukku? ataukah dia ia terharu karena akhirnya bisa berkomunikasi dengan anakkya yg sudah belasan tahun tidak ditemuinya?


Aku sungguh tidak tau bagaimana rasanya menjadi orang tua dan tidak bisa menjumpai anaknya selama bertahun tahun. Yah, dan mungkin aku tidak akan pernah tau rasanya,karena sudah aku putuskan kalau aku tak ingin punya anak, setidaknya karena dua hal paling utama.


Pertama, anak anak sangat merepotkan. Ketika aku sedang berada dipusat perbelanjaan, sering kulihat pasangan suami istri dengan anak² kecil yang bergelayutan dikaki mereka, seperti anak kucing. Ah tidak, lebih tepatnya seperti monster monster kecil, mereka menendang, memukul,menjerit ,menangis bahkan berkelahi, ribut dengan ocehan ocehan yang tidak jelas dan yang paling aku tidak suka adalah kekacauan pada saat waktunya makan.


Aku seperti melihat ekspresi tersiksa dari wajah wakah orang tua anak anak itu.


Aku sangat tidak suka anak kecil.


Kedua, aku bukanlah orang yang mudah bergaul,jadi aku tidak tau bagaimana caranya bergaul dengan mereka. Gadis gadis seumurku, biasanya mereka terlihat sangat menyukai anak anak kecil, menganggap mereka lucu,imut, polos dan apapun itu, tapi bagiku mereka tak lebih dari makhluk mini berisik yang selalu basah dan berlendir.


Aku kembali fokus pada photo yang dikirim ayahku bersama dengan suratnya. Didalam photo itu aku melihat ayahku tidak terlihat seperti orang yang tidak suka anak kecil. Karena ia memelukku dengan penuh kasih dan kelihatan tidak terganggu dengan tanganku yang memegang erat erat bajunya.

__ADS_1


Bayangan aku pernah menjadi makhluk mini yang berisik yang selalu basah dan berlendir,membuatku sedikit malu. Aku mungkin saja pernah meneteskan air liur dilengannya, menangis menjerit jerit atau susah makan. Dan dipusat perbelanjaan bisa jadi ayahku berharap bumi menelanku . Oh tidak ! aku menutup kedua mataku berusaha mengusir pikiran pikiran itu.


Lambat laun aku, langit langit kamarku terlihat memudar dan aku terbuai dalam tidur yang nyaman.


Keesokan harinya, Anthony datang lagi dan dia memberikan sebuah kartu nama , ya tentu saja, itu kartu nama ayahku. Aku agak kecewa setelah membaca namanya, menurutku nama itu sangat tidak cocok dengan seorang pengusaha kaya yang seorang penulis dan pandai melukis. Karena itu, aku memutuskan memanggil ayahku dengan nama Steve. Menurutku, semua pria hebat dan keren bernama Steve.


Entah dari mana aku punya pikiran konyol seperti itu. Tapi setelah kupikir pikir ada benarnya. Siapa yang tidak kenal dengan Steve Jobs? Aku rasa hanya orang orang yang tinggal diperkampungan yang tak terjangkau, yang tak tau siapa itu Steve Jobs.


Ya, begitulah setidaknya menurut pandanganku.


Pria hebat, dia akan mejelaskan sesuatu yang dikuasainya dengan sangat jelas tapi dia tidak punya style sehingga membuat oeang mengantuk mendengar penjelasannya. Sedangkan pria hebat dan keren, dia akan menjelaskan ilmunya dengan cara yang keren, punya style khusus yang membuat orang tertarik dan akan terus mendengarkannya, tanpa bisa teralihkan untuk tidak memperhatikannya walaupun dia tak mengerti.


Aku percaya, bahwa bagiku setiap perempuan harus bertemu dengan pria keren, setidaknya sekali dalam hidup.

__ADS_1


Seminggu pertama aku berada dirumah Steve ,aku hidup dengan santai. Bangun pagi pada pukul delapan,sarapan roti dengan selai coklat atau strawberri dan segelas teh hangat ,lalu aku membaca buku buku yang tersusun rapi diruang televisi. Aku bahkan berhasil memyelesaikan membaca beberapa buku, salah satunya Novel yang sudah sangat tua sekali, yang diterbitak tahun 1955, 'sèèThe Talented Mr.Ripley karya seorang wanita bernama Patricia Highsmith.


Kisah ini sangat membuat penasaran dan deg deg an, yang bertema tentang Psikolog.


Menjelang jam satu sianh, aku memasak makanan siang sederahana ku atau memakai fasilitas jemput antar. Lalu aku duduk duduk diteras belakang, sambil menunggu kantuk datang. Kupandangi seluruh halaman yang luas,kebun yang dipenuhi oleh warna hijau.


Sorenya, setelah mandi aku membuat secangkir kopi panas, dan biasanya aku kembali membaca novel yang belum sempat kubaca, hingga senja datang.


Aku sangat suka senja, matahari memancarkan sinar oranye yang dapat menghipnotis siapa saja, warna lembut tapi penuh misteri, ditambah angin yang bertiup sejuk membuat dunia disekitarku seola olah berjalan dalam gerakan lambat. Disaat sepeti ini, aku merasakan nyaman dan aman, dan tidak ada satu orangpun didunia ini yang akan bisa menyakitiku.


Tetapi, senja pada akhirnya sama drngan semua hal yang ada didunia ini, suatu ketika harus berakhir. Dan seketika itu pula,kekosongan menggampiriku, hampa. Dan aku selalu akan menghibur diriku sendiri demgan berucap '' Selamat tinggal senja,kutunggu kedatanganmu kembali di esok hari''. Gilanya adalah, aku mengucapkan kata kata itu dengan suara yang sangat lantang. Aku tidak peduli kalau ada yang mendengarkannya.


Kurasa kehilangan senja tak sepahit kehilangan orang yang kita sayangi bukan? karena kita tahu bahwa dia akan selalu kembali.

__ADS_1


Ketika malam benar benar sempurna, dan langit menjadi gelap gulita,aku beranjak dari tempat dudukku, berjalan ke dapur dan memasak sedikit untuk makan malam ku yang sepi, yah...selalu sepi.


Setelah makan, aku lalu kembali membaca diruang televisi, sambil berbaring disofa dan berakhir dengan aku yang tertidur disana.


__ADS_2