Sekali Lagi

Sekali Lagi
Delapan


__ADS_3

Aku bersandar pada jok, berusaha menenangkan pikiranku yang saat ini sedang kusut.


Aku memandang keluar jendela.


Jalanan kota ini tampak sepi, hanya sekali kali berpapasan dengan kendaraan lain dari arah yang berlawanan. Sangat jauh berbeda dengan kota tempatku tinggal. Jalanannya selalu macet, setiap sore, mobil mobil berjejer dengan klakson para pengendara yang putus asa, yang memekakkan telinga.


Sebenarnya, aku menerima tawaran ayah karena aku benar benar belum pernah pergi kemanapun. Aku terkurung dikotaku sendiri, tidak hanya dikotaku tapi bahkan aku terkurung dirumahku sendiri. Sangat menyedihkan bukan?!


Disaat remaja remaja seusiaku sudah melanglang buana kesegala tempat destinasi wisata dengan sahabat atau bahkan dengan kekasih tercintanya, aku hanya mempunyai rumah dan kamarku sebagai tempat destinasi wisataku..


Ah Reina...betapa menyedihkannya hidupmu ternyata.


Sebab itulah akhirnya aku menerima tawqran ayah untuk datang kekotanya.


Dan lihatlah, sekarang aku berada jauh dari kotaku. Ternyata semua tak seperti yang aku bayangkan. Kota ku bahkan jauh lebih baik, hingar bingar, gemerlapan lampu lampu mall yang berdiri setiap 500meter, hiruk pikuk para manusia yang kasak kusuk dengan kehidupan mereka masing masing. Kota ku terasa lebih hidup.


Sudah diputuskan selama aku berada disini, aku akan tinggal dirumah peristirahatan ayahku. Dan apabila semuanya lancar, dalam waktu dekat aku akan bertemu dengan ayahku untuk pertama kalinya. Aku agak berdebar debar sekaligus senang. Aku berandai andai seperti apa rupa wajah ayahku sekarang? Apakah dia masih sama seperti yang kulihat diphoto waktu itu? ataukah rambutnya sudah dipenuhi uban? Ataukah dia berambut panjang? Ah, akan terlihat sangat keren rasanya kalau benar dia berambut panjang. Aku tiba tiba bergidik membayangkan kalau kalau ayahku akan sama seperti ayah teman temanku dulu, ayah mereka rata rata berkepala sedikit botak dengan perut yang membuncit, iiuuhh sungguh menggelikan.

__ADS_1


''Kamu akan suka tinggal disini, udaranya sejuk dan bersih'' ucap Anthony tiba tiba memecah keheningan.


Tak lama berkendara, Anthony membelokkan mobilnya ke kanan, setelah lampu merah, memasuki komplek perumahan yang cukup mewah. Kami melewati sebuah gapura yang sangat besar bercat krem dan bertuliskan nama perumahan, dengan sebuah palang dan gardu satpam.


Anthony membunyikan klakson dan menurunkan kaca jendela mobil, segera satpam membukakan palang untuk kami, kemudian kami berlalu setelah satpam itu sedikit membungkuk tanda dia memberi hormat pada Anthony dan melambaikan tangannya.


Kemudian mobil Anthony melaju lurus, menuju jalan yang sedikit menanjak. Aku memperhatikan kiri dan kanan. Rumah rumah yang cukup besar berjejer dengan rapi dengan halaman yang luas dan bersih. Sepi....


Tak terlihat seorang anak kecilpun yang sedang bermain. Ku pikir pasti yang tinggal disini orang orang tua semua. karena anak muda tidak akan peduli rumah mereka punya halaman atau tidak. Hanya orang tua yang punya waktu untuk duduk duduk ditetas rumah sambil memandangi halaman nya yang beraih dan rapi.


Anthony menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah bernomor 102. Rumah yang terletak paling ujung, tampak besar dengan halaman dan teras yang cukup luas. Pagarnya tinggi dan besar, seperti sebuah kastil kalau aku boleh bilang, cukup menakutkan dan membuat penasaran. Ditengah kebun aku melihat sebatang pohon berdiri kokoh, yang setelah kuperhatikan, itu adalah pohon mangga. Dirumah ku, kami juga punya pohon mangga. Tiba tiba kesamaan ini membuatku sedikit gelisah, aku tidak suka!.


Anthony memandangiku, lalu mengamati seluruh ruangan.


''Ayahmu membeli rumah ini kira kira sepuluh tahun yang lalu, dan kadang aku tak percaya bahwa kondisinya masih sama seperti pertama kali kami melihatnya'' ucap Anthony


''Ayo, ku antar kau melihat lihat, dan kuharap kau tak bosan disini Reina'' ucap Anthony sambil tersenyum lembut padaku.

__ADS_1


''Hmm..semoga saja Anthony..semoga saja'' jawabku asal.


Rumah ini sangat luas, Disebelah ruang tamu terdapat ruangan yang cukup besar, kurasa ini adalah ruang keluarga, karena ada TV besar berkuran sembilan puluh inch lengkap dengan stereonya dan satu set sofa bed yang empuk dan lebih modern dibandingakan dengan sofa yang berada diruang tamu. Dibelakang sofa terdapat lemari dinding yang penuh dengan buku buku, aku setengah berlari menghampiri lemari itu dan membaca judul judul buku secara acak.


Aku senyum penuh semangat melihat lemari buku itu.


Anthony menghampiri ku.


''Senang?'' tanya nya antusias


''Sangat, karena aku suka sekali membaca'' jawabku penuh semangat dan mata yang berbjnar binar.


''Sudah kuduga, buah memang jatuh tak jaih dari pohonnya'' ucap Anthony riang sambil menganggukkan kepalanya.


''Ayahmu sangat suka drngan sastra, meski sehari harinya dia berkutat dengan bisnisnya, tapi dia akan menghabiskan waktu luanganya dengan membaca sebanyak yang dia bisa'' ucap Anthony menjelaskan.


''Bahkan, ayahmu punya sebuah buku yang dia tulis sendiri, hanya saja dia tidak mau mempublikasikannya, karena dia tidak percaya diri'' ucap Anthony lagi.

__ADS_1


Aku mendengarkan Anthony dengan perasaan bangga, bahwa aku mempunya kegemaran yang sama dengan ayahku dan bahkan dia juga seorang penulis, dan pastinya seorang pebisnis yang sukses.


__ADS_2