Sekali Lagi

Sekali Lagi
Bab. 22 Rapuh 2


__ADS_3

Jacob mempererat pelukannya pada Reina, duduk dipinggir tempat tidur dan mengusap lembut rambut Reina.


''Aku gak akan ninggalin kamu Reina, tenanglah, aku disini bersamamu''.


Reina masih menangis dan tubuhnya tak berhenti gemetar.


Jacob menilai kalau Reina pasti sangat takut dengan gelap, karena itu dia seperti ini.


Jacob terus berusaha menenangkan Reina dengan mengusap punggung gadis itu dengan lembut.


''Tenanglah Rei, tidak akan terjadi apa apa, tak ada yang perlu lau takuti. Sebentar lagi pasti listriknya menyala lgi'' ucap Jacob berusaha menenangkan Reina.


Reina tak menjawab,dia hanya bergumam lirih, matanya masih terpejam dan dia masih berada dalam pelukan Jacob.


Jacob tak beranjak sedikitpun dari sisi Reina, dia juga tak berusaha melerai pelukan Reina. Bahkan Jacob tak berhenti memberikan usapan di punggung Reina, dia merelaksasi Reina dengan usapan yang lembut.


Perlahan Reina mulai tenang. Tubuhnya tak gemetar lagi. Hanya sesekali masih terdengar isakan lirih dari mulutnya.


Kemudian semua hening, Jacob menangkap suara nafas Reina yang teratur. Dia yakin, saat ini Reina tertidur dan masih memeluknya.


Perlahan Jacob merebahkan tubuh Reina diatas tempat tidur. Dia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Reina, tapi sial, Reina tak melepaskannya sedikitpun. Seolah olah dia tau akan ditinggalkan.


Tak punya pilihan lain, akhirnya Jacob pun ikut berbaring disebelah Reina.


Pagi perlahan merangkak mendekati.


Reina terlelap seperti anak bayi. Dia merasa belum pernah tidur senyenyak ini. Rasanya sangat hangat dan nyaman.


Dia merasa menyentuh sesuatu yang beda. Bukan bantal guling seperti biasanya.


Perlahan, Reina membuka matanya. Memperhatikan dengan seksama apa yang sedang dipeluk nya. Dan bola matanya membulat sangat terkejut mendapati dia tidur diatas dada seseorang.. Dan dia menjerit sangat kencang.


''aaaaaaaaaaakh''... Reina langsung bangkit dan terduduk diujung kasur. Tiba tiba selimut ditubuhnya melorot sedikit dan matanya semakin terbelalak melihat dia tak mengenakan pakaian sehelai pun,kecuali pakain dalam yang masih menempel ditubuhnya.


Kembali Reina menjerit ketakutan.


''aaaaaaaaaaa...huaa..huaaa...'' dan langsung menangis sekuat kuatnya


Jacob yang mendengar suara jeritan dan tangisan pun terlonjak kaget dan segera bangun dari tidurnya.


Dia memandang Reina.


''Aaaahh..kau sudah bangun,baguslah'' ucapnya santai.


''Mengapa kau menangis Reina? Apakah masih takut? Lihatalah,listrik telah hidup kembali, jadi tak ada yang perlu kau takuti lagi'' ucap Jacob yang masih belum sadar dengan tatapan tajam dari Reina.


Napas Reina tercekat saat mendengar apa yang diucapkan oleh Jacob tadi.


''A..apa yang sudah kau lakukan, mengapa aku seperti ini? Dan kau..apa yang kau lakukan padaku!!'' ucap Reina dengan gemetar dan menjerit.


''Hah... ?!!!''

__ADS_1


''Apa maksudmu??'' Ucap Jacob kebingungan.


''Jangan berpura pura tidak tau brengsek, apa yang kalu lakukan padaku tadi malam? Kau mengambil keuntungan dari ku? Huh..? Jawab!!! Ucap Reina masih manangis


''Hei...kau bicara apa? Aku tak melakukan apapun padamu'' ucap Jacob berusaha menjelaskan. Dia paham sekarang. Sepertinya Reina telah salah paham setelah melihat dengan kondisi mereka saat ini.


''Kau dengarkan aku Reina. Aku tidak melakukan apapyn padamu, aku bersumpah!'' ucap Jacob.


''Kau bohong, kalau begitu mengapa aku seperti ini? Tidak ber.., arrgh!!'' tangis Reina kembali pecah.


''kau jahat Jacob,laki laki brengsek!!'' ucap Reina menggebu gebu tak air matanya tak kunjung berhenti.


''Apa kau sudah gila Reina? Kau yang semalam memelukku dan tak mau melepaskanku. Sekarang kau menuduhku yang tidak tidak? !'' ucap Jacob dengan suara sedikit naik.


''Jangn bilang kau lupa apa yang terjadi semalam? Yang pasti aku tidak MENYENTUHMU!! ucap Jacob dengan nada penuh tekanan.


''Dan kau bertanya kenapa kau seperti itu?''


''Kau lupa Reina? Baik, dengarkan aku baik baik, karena setelah ini aku tidak akan mengulangi penjelasanku lagi'' ! Ucap Jacob


''Pertama, kenapa kau seperti itu, ya karena kau sedang dikamar mandi ketika tiba tiba listrik padam yang diring dengan hujan dan petir. Kau berteriak sangat kuat. Aku khawatir, san bergegas mencari mu. Tapi aku tak menemukan mu Reina''


Ucap Jacob panjang lebar dan Reina masih mendengarkannya sambil mengingat ingat apa yang terjadi semalam.


''Aku tak menemukanmu dikamar Reina'' ucap Jacob pelan.


''Tapi aku menemukanmu dikamar mandi, terduduk gemetar disudut kamar mandi dalam keadaan..' Jacob berhenti sebentar dan menarik nafasnya dalam dalam.


''Dan kau tak mau melepaskan pelukanmu sedikitpun padaku, itulah sebabnya aku tidur disamping mu. Kau Lihat, kau yang memelukku bukan? Jacob sudah menjelaskan semuanya.


Sekaramg terserah Reina, apa dia akan percaya atau tidak, Jacob pun sudah pasrah.


Tiba tiba mata Reina kembali membulat, dia berusaha mengingat kejadian sebelumnya.


Dia menutup mulutnya yang ternganga dengan kedua tangannya.


''Oh Tuhan.. Astaga,apa yang sudah aku lakukan''? Lirih Reina, tapi masih dapat didengar oleh Jacob.


Mata Reina bergerak dengan liar, dia benar benar malu sekarang.


''Kenapa? Apa kau sudah ingat?'' tanya Jacob dengan senyum iblisnya.


Reina tak menjawab, hanya saja wajahnya sekarang sangatlah panas, dia sangat malu.


''Ha..ha..ha..ha..'' tawa Jacob menggelegar didalam kamar Reina .


''Baguslah kalau kau sudah ingat, jadi kau tak perlu marah marah dan menyalahkanku lagi'' ucap Jacob santai.


Tak ada jawaban dari Reina, dia masih berusaha menenangkan dirinya dari rasa malu.


Karena tak mendapat jawaban dari Reina, akhirnya Jacob berjalan ke arah kamar mandi. Dia mencuci mukanya agar sedikit segar.

__ADS_1


Setelah dia merasa cukup segar, dia pun keluar dari kamar mandi, dan mendapati Reina menatapnya dengan pandangan yang menurut Jacob agak berbeda.


Jacob berhenti dan tertegun melihat kedalam mata Reina yang sangat menghipnotis.


Tak ada lagi tatapan tajam dan sinis itu. Sekarang berubah menjadi tatapan yang sedikit lembut...aahh entahlah.


''Aku..aku minta maaf'' ucap Reina tiba tiba.


Semenit..lima menit.. Tak kunjung ada tanggapan dari Jacob.


''Jack...Jacob.. ! Apa kau mendengarku?? Panggil Reina sedikit kuat.


Menyadarkan Jacob dari lamunannnya dan sedikit terjengkit karena kaget denga panggilan Reina yang cukup kuat.


''Ahh..apa? Kau mengagetkan ku saja Reina'' kilahnya menghilang rasa gugupnya.


''Apa kau mendengarkanku? Aku minta maaf padamu, tapi kau tak menjawabku'' ucap Reina sedikit kesal.


''Oohh.. itu..hehehe..tentu saja aku memaakan mu, tapi ada syaratnya'' ucap Jacob jahil dengan sedikit menggoda Reina.


''Haah? Syarat? apa ? Jangan aneh aneh Jacob..'' ucap Reina sedikit ketus.


''Tidak...tidak aneh.. Tapi aku yakin kau akan sangat menyukainya'' ucap Jacob lagi penuh dengan misteri dan jangan lupakan smirk devil yang terpancar dibibir nya itu.


Reina bergeming,masih duduk diujung tenpat tidurnya.


''Mandi dan bersihkan dirimu,lalu turunlah, aku akan menyiapkan sarapan'' ucap Jacob tegas.


Ahh..bukan..lebih tepatnya PERINTAH, ya..perintah.


Reina tercenung.


''apa apaan itu, apa dia barusan memerintahku? Yang benar saja, memangnya siapa dia, berani sekali memerintahkan apa yang harus aku kerjakan. Dasar manusia aneh, jangan pikir aku akan menurutimu!!'' monolog Reina dengan tingkat kekesalan yang sudah diambang batas.


Dia melupakan bahwa baru saja dia bersyukur adanya Jacob disaat traumanya muncul, lalu sekarang dia lupa akan hal itu, yang ada hanya perasaan kesal dan sakit hati yang luar biasa.


Tapi Reina tetap melangkah kekamar mandi,lalu membersihkan dirinya. Dan setelah selesai, Reina berjalan ke arah dapur kecilnya.


Dia mengumpat kesal,karna hatinya tak sesuai dengan otaknya. Padahal Reina sudah beretekad tidak akan mengiikuti perintah laki laki aneh itu.


''huff..akhirnya selesai juga'' ucap Jacob dengan wajah penuh kepuasan dan mata yang tak henti memancarkan cahaya berbinar binar.


Dia berbalik dan meletakkan nasi goreng spesial.


''Eh Rei, kemarilah, jangan hanya berdiri disana'' panggil Jacob ketika dia menyadari bahwa Reina telah memperhatikannya sejak tadi,


Dengan langkah yang malu malu, Reina berjalan menuju meja makan kecilnya.


Lalu Reina duduk disalah satu meja makan. Jacob dengan sigap mengambilkan makanan untuk segera di hidangkan.


Reina merasa sangat diistimewakan karena sepanjang hidupnya, dia tak pernah diperdulikan.

__ADS_1


Bahkan mamanya sendiri sekalipun.


__ADS_2