
Aku terdiam sejenak, berfikir, 'kalau mama sakit,kenapa dia berobat ke dokter anak?' kan aneh. Seharusnya ibuku pergi ketempat koleganya yang lain, yang pastinya tidak sedikit dan tidak dokter spesialis anak tentunya. Kadang kadang aku takjub dengan cara berpikir orang dewasa, yang menurutku sangat tidak praktis dalam berpikir. Mereka cenderung mempersulit keadaan apabila terjadi masalah,padahal masalah itu hanya masalah yang sederhana.
Dokter Heru menjelaskan bahwa dia adalah sahabat ibuku, dan terkadang sebagai sesama dokter, ketika mereka sakit,mereka akan lebih nyaman didampingi oleh sahabatnya, dan pastinya mereka juga butuh sahabat untuk mencurahkan perasaannya. Dokter Heru meyakinkanku bahwa keberadaan sahabat akan mempermudah proses penyembuhan ibuku, dan aku harus bersabar menunggunya pulang kerumah.
''Baiklah, lalu berapa lama kira kira mama akan bersama anda?'' tanyaku setelah mendengar penjelasan yang panjang dari Dokter Heru.
''Kalau itu tidak ada yang bisa memastikannya Reina, mungkin beberapa bulan kedepan'' Jawabnya tak yakin.
''Apa kamu tidak apa apa sendirian beberapa bulan Reina? Tanya nya
''Atau kamu memerlukan sesuatu? bilang saja padaku'' ucapnya lagi.
''Ah, tidak..tidak..tidak perlu, terima kasih. Dan ya, aku akan baik baik saja'' jawabku
Kemudia Dokter Heru berdehem, menandakan dia kurang nyaman dengan apa yang akan diucapkannya selanjutnya.
''Hmm..jadi, apakah kamu akan ketempat ayahmu Reina? ucapnya pada akhirnya, walaupun terdengar sangat ragu ragu.
Sangat jelas bahwa dia bertanya atas permintaan orang lain, dan aku sangat yakin kalau itu adalah ibuku.
Karena menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi pada orang yang belum kita kenal, akan sangat aneh dan canggung bukan?!
''Aku belum tahu'' jawabku . Sebenarnya aku pun enggan menjawabnya, hanya saja aku menangkap Dokter Heru menarik nafas dengan berat beberapa kali. Aku jadi merasa kasihan kepadanya,karena aku yakin ibuku mendesaknya untuk menanyakan hal itu.
__ADS_1
Aneh saja, mengapa ibuku sepertinya menjadi ingin tahu keputusanku dan terlihat seperti orang yang peduli padaku, padahalkan selama ini dia tidak pernah ingin tau apapun tentang diriku? Aneh !?
'' O..begitu ya? baiklah tidak apa apa, tapi kalau kamu sudah mengambil keputusan, tolong kabari saya ya?!'' ucapnya
Hah?? apa pentingnya aku harus memberi kabar padanya? semakin aneh! Karena aku tidak ingin membahas itu lagi,maka cepat cepat ku jawab.
''Ya..!'' singkat
Dia menyuruhku mencatat nomor ponselnya, dan aku pun mencatatnya. Dia berjanji akan terus mengontakku dan memberi kabar tentang perkembangan kesehatan ibu ku.
Aku menjawab 'terima kasih'.
Dia sekali lagi bertanya apakah ada yang aku butuhkan, dan kujawab tidak ada, lalunia mengakhiri perbincangan kami dan menutup telepon.
Setelah telepon berakhir, aku segera menuju kamarku, aku duduk ditepi tempat tidurku, berpikir sejenak. Lalu aku berdiri, berjalan kearah meja belajarku, membuka lacinya dan meraih kembali surat dari ayah. Aku mengambil kartu nama yang dikirim ayah bersama suratnya. Mengamatinya sejenak,lalu melangkah yakin ke meja telepon dan memencet nomor yang tertera dikartu nama itu. Terdengar nada sambung, taknlama teleponku diangkat.
''Anthony?'' tanyaku ragu
''Ya..ini saya Anthony, ini pasti kau Reina'' jawabnya yakin.
''Bagaimana anda bisa tau kalau ini aku?'' tanyaku terheran heran.
''Tentu saja aku tau,karena aku sudah menunggu telepon dari mu'' jawabnya sangat riang.
__ADS_1
''Jadi bagaimana,apakah kau akan datang?'' tanya nya lagi.
''Ya,seperti nya aku akan datang'' jawabku yakin.
Aku pun terhipnotis suasana dengan keceriaan dari suara Anthony. Kami berbincang beberapa saat. Dia menjelaskan semua hal hal menyangkut rencana kepergianku mengunjungi ayahku dikota M. Sungguh aku menjadi tidak sabar lagi untuk memulai petualangan baru dalam hidupku. Ini adalah pengalaman pertamaku bepergian, apalagi pergi sejauh ini.
Hatiku terasa meletup letup, rasa takut yang bercampur dengan rasa penasaran dan gugup, itu rasanya seperti jantung mau meledak.
Seperti rencana tadi malam, hari ini semua berjalan dengan sangat sempurna. Persis seperti apa yang dijelaskan Anthony padaku tadi malam.
Aku tiba dibandara kota M, disana aku sudah ditunggu oleh seseorang yang aku yakin kalau itu adalah Anthony, dilihat dari perawakannya. Dia membawa kertas dengan tulisan namaku, tentu saja,karena kami belum pernah bertemu.
Aku berjalan mendekatinya, lalu menyapanya.
''Anthony?'' sapaku,lebih tepatnya bertanya.
''Aaahh kau pasti Reina'' Ucapnya dengan suara yang riang dan senyum yang sangat manis menurutku.
Aku jadi semakin yakin, kalau Anthony adalah pria yang menyenangkan. Badannya kurus, tidak terlalu tinggi, dengan rambut putih seperti kapas, dia mengenakan kemeja biru langit, sangat ceria dengan jaket Putih dan celana panjang hitam. Penampilannya sangat menarik. Tidak seperti orang orang tua pada umumnya, yang sering kali terlihat seperti capek,lesu dan penyakitan,hahaha, Anthony terlihat sangat kuat dan bersemangat. Dan yang paling menarik adalah sebuah topi ala cowboy, sungguh sangat energik sekali.
Dan mata Anthony yang bersinar dibalik kaca mata bermotif zebra, tampak sangat hangat, membuatku merasa aman, hal yang tidak pernah aku rasakan ketika bertemu dengan orang orang baru.
Dia masih tersenyum sangat manis didepanku.
__ADS_1
Dia tiba tiba memelukku, dengan tawa yang ceria dan bahagia. Tinggiku hanya sedadanya, dan ketika berada dalam pelukannya, aku mencium aroma parfum yang menyegarkan, perpaduan antara wangi lemon dan aroma hutan cemara, sungguh menenangkan.
Ketika dia menyentuh kulit lenganku, aku tesentak dan seketika badanku memgejang, aku baru sadar, seumur hidup aku belum pernah dipeluk siapapun, bahkan oleh ibuku sendiri...