
Anthony lalu mengajakku untuk berkeliling, melihat yang lainnya. Di dinding rumah ini penuh dengan lukisan lukisan pemandangan dan juga photo photo klasik berwarna hitam putih.
Anthony menggandeng lenganku, satu lagi kejutan tentang ayahku, dia sangat suka photography klasik hitam putih, kata Anthony hampir seluruh photo itu adalah hasil karya ayahku, hanya ada beberapa karya orang lain yang dibeli oleh ayahku.
Aku jadi semakin penasaran dan tak sabar ingin segera bertemu dengan ayahku. Menurutku dia adalah laki laki yang hebat dengan sejuta talenta.
Kami tetus berjalan, disebelah ruang keluarga terdapat dapur mungil berisi semua lebutihan yang aku butuhkan untuk memasak makanan sederhana.
''Kau bisa memasak disini, untuk makanan yang lain kau bisa memesannya saja'' ucap Anthony.
Didapur mungil ini terdapat Kulkas dua pintu yang besar, berisi penuh dengan kebutuhanku.
Pantrynya sangat minimalis, terdapat hanya sedikit piring, gelas dan alat memasak.
''Ayahmu memang jarang memasak sendiri, sebab itu disini dapurnya kecil dan sederhana'' ucap Anthony.
''Ya, aku maklum, aku pun berpikiran pasti ayah lebih sering makan diluar bukan?'' ucapku memakluminya.
''Ya, kau benar. Hanya sesekali saja dia memasak sesuatu yang sederhana kalau dia sedang mau'' ucap Anthony lagi.
Lalu dia mengajakku ke belakang, keluar dari dapur, ada halam belakang. Disana terdapat tempat khusus untuk mencuci dan menjemur diujung sebelah kiri.
Sedangkan bagian tengah dan kanan ada teras dengan meja dan kursi sofa serta sebuah ayunan dengan bantal bantal besar.
Lalu Anthony menunjukkan kamar tidur ku.
Dirumah besar ini, hanya terdapat 3 buah kamar.
Satu kamar tidur utama dan dua kamar tidur biasa.
Kamar tidur utama,pastilah punya ayahku. Lalu kamar tidur tamu dan kamar tidurku terdapat dilantai dua. Ruangannya dua kali ukuran kamarku, lemari dinding yang besar, ditengahnya terdapat tempat tidur berwarna putih gading size yang cukup besar untukku tidur sendiri.
Lalu ada mejal belajar dan meja rias yang terletak berseberangan. Disudut kamar terdapat sebuah kamar mandi yang cukup luas.
Lalu yang paling kusuka, sebuah pintu kaca besar yang menghadap ke halaman belakang, dengan teras kecil, disana terdapat dua buah kursi rotan dan meja kecil bundar berkaca tebal, aku tersenyum puas.
__ADS_1
Setelah meletakkan tas ranselku, Anthony mengajakku duduk diteras belakang, dia membuat dua cangkir teh untuk kami. Dia juga menyuguhkan roti yang memang sudah disediakan untukku. Lalu kami berbincang bincang sambil menikmati teh hangat.
Anthony membuka topinya, dia terlihat sangat lelah.
''Reina, apa kau masih ingat wajah ayahmu?'' tanya nya
Aku menggeleng sambil berkata '' Aku belum pernah melihatnya , kecuali diphoto yang dikirim padaku itu'' jawabku sedikit bernada kecewa, ya! kecewa pada ibu ku tentunya.
Anthony tertawa '' hahaha..jangan cemas, ayahmu sangat tampan'' ucapnya melerai kecewaku.
Aku ikut tertawa, tapi kemudiam wajah Anthony sedikit berubah.
Dia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan resah.
''Aku harap kedatanganmu bisa membuat ayahmu cepat sembuh'' ucapnya penuh harap.
''Sejak dia mulai sakit sakitan, semua menjadi terasa sulit, aku harap setelah kusampaikan kedatanganmu dia akan mempunyai semangat untuk segera sembuh!'' ucap Anthony lagi dengan semangat.
''Kuharap kau tak keberatan menunggu ayahmu disini '' harap Anthony.
Sebenarnya aku ingin bertanya ayah sakit apa, tapi kupikir ini bukan waktu yang tepat.
''Lalu, apa kabar ibumu?'' tanya Anthony
''Ibu sedang sakit waktu aku pergi, dia tinggal bersama temannya, namanya Dokter Heru'' kawabku.
''Sakit apa?'' tanya Anthony
''Entahlah, aku pun tak yakin ibu sakit apa,karena Dokter Heru tidak mengatakan secara jelas padaku, hanya mengatakan ibu sedang sakit kepala '' jawabku sejujur jujurnya.
''Tapi kamu sudah izinkan mau kesini?'' tanya Anthony lagi
''Tentu saja sudah'' jawabku sambil mengaggukkan kepala ku
''Baiklah, kalau begitu'' ucapnya puas.
__ADS_1
Lalu Anthony bangkit dan berkata harus menjemput istri yang bekerja di sebuah rumah sakit.
''Apakah tidak apa apa kau tinggal sendirian Reina?'' tanya Anthony padaku.
''Tentu , aku akan baik baik saja'' jawabku
''Jika ada apa apa atau kau butuh sesuatu, jangan ragu untuk menghubungiku'' pesannya lagi
''Baiklah, anda tidak perlu khawatir Tuan'' jawabku formal.
Lalu aku mengantarnya kedepan, sampai kemobil, membukakan pagar, Anthony melambaikan tangannya padaku dan aku pun balas melambaikan tangan padanya.
Lalu aku bergegas menutup pagar dan menguncinya, betjalan terburu buru,masuk kedalam rumah dan segera mengunci pintu dari dalam.
Kemudian aku bergegas menuju kamarku dilantai dua. Aku meraih tas ranselku, mengeluarkan pakaian yang bisa ku bawa, dan menyusunnya didalam lemari yang besar itu.
menaruh laptop ku dimeja belajar, menaruh alat alat mandi dirak kecil diatas wastafel,lalu menaruh bedak,lip balm dan sebuah parfum kecil dimeja rias. Yah, hanya itu yang aku punya,kalau itu bisa dikategorikan sebagai alat rias.
Aku merasa lelah, aku memutuskan untuk mandi dan mungkin berendam sebentar.
Aku menaruh pakaian gantiku di tepi tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi dengan handuk yang kubawa.
Aku menghidupkan air kran bathtub, menunggunya sebentar. Disisi bathtub aku melihat sebuah kotak berukuran sedang dari rotan, aku meraihnya dan melihat isinya. Ternyata isinya adalah bola bola sabun untuk bathtub dan pewangi.
Aku menghirup aroma pewangi itu, baunya sangat lembut, seperti bau hutan pinus, aku suka. Hmm..aku rasa Anthony yang sudah menyediakannya disana.
Tanpa ragu aku memasukkan sebuah bola bola sabun dan menuangkan sedikit pewangi.
Setelah airnya cukup, aku bergegas membuka pakaianku dan segera masuk berendam, sebelum airnya menjadi dingin.
Aahhhh...baru kali ini aku merasakan nikmatnya berendam di air hangat. Kehangatannya seperti memijat mijat tubuhku yang terasa lelah. Tak terasa aku sudah berendam hampir lima belas menit, aku hampir saja tertidur,kalau saja airnya sudah mulai membuatku memggigil. Ternyata airnya sudah mulai dingin.
Lalu aku keluar dari bathtub dan membilas tubuhku dengan air shower, lau meraih handuk dan keluar dari kamar mandi.
Cepat cepat ku pakai pakaianku,karen hawa dingin mulai terasa.
__ADS_1
Lalu aku mengambil surat dari ayahku, membawanya ketempat tidur, duduk dengan nyaman dan menarik selimut menutupi tubuhku.