Sekali Lagi

Sekali Lagi
Bab. 24 Papa


__ADS_3

Dan hari ini akhirnya pun tiba. Pagi pagi Jacob datang menjemput Reina seperti rencana yqng sudah mereka bicarakan sebelumnya.


Jacob akan membawa Reina ketempat ayahnya selama ini melakukan pengobatan.


Selama perjalanan hening, Reina seperti memikirkan banyak hal. Jacob berkali kali melirik ke arah Reina.


Jacob memberanikan diri memulai obrolan untuk memutus ketegangan yang terlihat jelas diwajah Reina.


''Eheemm...'' Jacob berdehem pelan.


Reina menoleh padanya sekilas,lalu kembali membuang pandangannya ke arah jendela kaca disebelahnya.


''Hei..Reina, apa kau baik baik saja?'' tanya Jacob akhirnya.


Tak ada jawaban dari Reina. Hanya terdengar helaan nafas yang cukup kuat dari Reina.


Jacob meraih tangan kanan Reina dengan tangan kirinya.


Reina seketika tersentak dan mendelik kepada Jacob.


''Apa yang kau lakukan? Lepaskan !'' ucap Reina kesal atas sikap Jacob.


''Hei..tenanglah, aku tau kau sedang tidak baik baik saja. Aku hanya berusaha menenangkan mu, bukan berniat macam macam Reina'' ucao Jacob pelan dan sabar. Dia tak melepaskan genggamannya sedikitpun.


''Tenanglah Rei, semua akan baik baik saja. Bukankah saat saat seperti ini yang sudah kau tunggu tunggu? jadi, jangan khawatir. Semua akan baik baik saja''.


Jacob tetap memberikan keberanian untuk Reina. Dia tidak ingin gadis ini merasa gelisah dan khawatir berlebihan.


Pada akhirnya Reina pasrah dengan tangannya yang masih terpaut dengan tangan Jacob.


Dia merasakan kehangatan mengalir kedalam tubuhnya. Suatu perasaan yang belum pernah dia alami selama ini.


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, akhirnya mereka sampai di sebuah bungalow yang sangat besar dan mewah. Dengan dikelilingi oleh pagar tanaman yang tertata dengan sangat indah.


Reina bingung kenapa dia dibawa kesini. Bukannya papanya dirawat dirumah sakit? Tapi mengapa malah dibawa ke sini?


Untuk menghilangkan rasa penasarannya, akhirnya dia pun bersuara.

__ADS_1


''Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membawa ku kesini..? Katanya mau berjumpa dengan ayahku. Ucap Reina sedikit kesal.


''Tenanglah. Ayo kita turun, nanti kau akan tau semuanya'' ucap Jacob tenang.


Dia berjalan memutar kearah Reina, membuka pintu disamping Reina dan membawa gadis itu keluar dari mobil dan kembali menuntunnya.


Masih dengan menggenggam tangan Reina, mereka berjalan beriringan. Reina melangkah dengan ragu ragu, tapi Jacob tak berhenti memberinya semangat dan keberanian.


Perlahan mereka sampai didepan pintu besar bungalow itu. Seolah olah sudah ada yang menunggu kehadiran mereka, pintu besar itu terbuka lebar. Terlihat sepasang paruh baya menyambut kedatangan mereka.


''Selamat datang tuan Jacob dan Nona Reina'' ucap pria yang mungkin berumur lima puluh tahunan itu ramah.


''Ah..terima kasih Max, nyonya Ruth apa kabar ?'' ucap Jacob ramah dan bertanya pada wanita dibelakang pria yang dipanggil Jacob , Max.


''Saya baik tuan muda. Mari, saya antar, tuan besar sudah menunggu anda dari tadi'' ucap nyonya Ruth ramah sambil agak membungkukkan badannya.


Jacob dan Reina mengikuti nyonya Ruth. Mereka berjalan melewati ruang tamu yang wow...luas banget, Reina takjub.


Jacob berhenti sesaat. Dia ingin memberikan kekuatan dan waktu pada Reina.


''Ayo Reina, ayahmu sudah menunggu mu disana''. Ucap Jacob


Perlaham Reina melangkah masuk kedalam kamar yang luas itu.


Dia terlihat ragu ragu, Jacob memberikan sedikit dorongan dengan merangkul bahunya.


Diujung kamar, didepan pintu kaca yang cukup besar, duduk diatas kursi rodanya, seorang laki laki paruh baya. Wajahnya tidak begitu terlihat dengan jelas karena sinar matahari yang menerpa dari belakangnya.


Reina berjalan semakin mendekat. Perlahan dia melihat wajah pria itu dengan jelas.


Dia sedang tersenyum penuh haru memandang Reina.


Tiba tiba pria itu merentangkan tangannya.


''Rere sayang..princess papa, akhirnya kau datang nak'' ucap pria itu tergugu menahan tangis bahagia yang sudah mendesak dikedua sudut mata tuanya..


Mendengar itu Reina tergugu dan berjalan dengan cepat menghambur kedalam pelukan pria rapuh itu.

__ADS_1


''Papaaaa...hik..hik..hiks..'' tangis Reina pecah seketika. Dia menangis sejadi jadinya didalam pelukan pria yang untuk pertama kalinya dipanggil papa itu.


''Maafkan papa sayang..maafkan papa'' ucap pria tua itu berkali kali sambil mencium puncak kepala Reina.


Reina tak berkata apapun, hanya menangisa dan menangis. Seolah olah semua sesak dan sebak didada termuntahkan hari ini. Rasa yang sudah menetap dihatinya sejak dia masih kecil.


Menumpahkan segala rasa didalam pelukan pria yang bergelar 'papa' itu.


Perlahan tangis Reina mereda, dia perlahan mengurai pelukannya. Memandang wajah ayahnya sepuasnya, tanpa berpaling sedikitpun.


Tangannya terjulur menyentuh wajah sang ayah.


'' Ternyata aku sangat mirip dengan papa'' ucapnya tersenyum bahagia.


''Selama ini aku pikir aku anak pungut, karena aku sama sekali tak mirip dengan mama. Anak yang dibuang karena tidak ada kerabat yang memiliki kemiripan dengan ku. Tapi sekarang aku sangat bahagia, ternyata aku bukan anak yang tak diinginkan. Melihat seseorang yang wajahnya mirip denganku membuat aku merasa hidup. Terima kasih papa, sudah mau bertemu denganku'' ucap Reina dengan segala rasa yang bercampur aduk. Sedih, terluka, kecewa dan bahagia. Semua berkecamuk didalam otak kecil Reina.


Mendengar kata kata Reina, papa nya, Anthony dan juga Jacob terdiam dan merasa sangat terenyuh. Terutama sang papa, rasa bersalah mendera,menusuk ke ulu hatinya. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan Reina.


''Ma..maafkan papa sayang. Papa menyesal tidak menjemputmu lebih cepat, sehingga kau tidak perlu mengalami hal hal yang tidak memyenangkan''. Ucap papa Reina pilu. Kembali air matanya keluar begitu saia diaudut matanya.


''Tidak papa, papa tidak salah. Mungkin Takdir Reina yang kurang beruntung''. Lalu dia terdiam beberapa saat. Beberapa kejadian terlintas didalam otak nya.


''aaahhh..sekarang Reina tau kenapa mama sangat membenci Reina dan selalu ngabaikan keberadaan Reina, tetu saja semua karena wajah ini yang sangat mirip dengan papa'' ucap Reina sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


Kembali hati papa Reina seperti tercabik cabik. Begitu dalam dan membekas dihati putri satu satunya. Reina.


Jacob berjalan perlaham mendekati kedua orang ayah dan anak itu.


''Jangan bicara seperti itu Reina. Itu tidak benar. Ayahmu tidak pernah menginginkan untuk meninggalkamu, tapi keadaanlah yang memaksanya'' ucap Jacob tiba tiba.


Bukan karena dia ingin ikut campur, hanya saja dia sungguh tidak tega melihat keadaan pria yang sudah dianggapnya paman sendiri itu. Rasa pedih dan penyesalan terpancar sangat jelas diwajahnya.


Berkali kali pria tua itu mengucapkan maafnya pada Reina.


''Maafkan papa sayang. Andai saja saat itu papa punya keberanian untuk menjumpai kamu dan mamamu. Hhhh..maafkan papa sayang'' ucapanya dengan suara serak dan tangis yang tiba tiba terdengar sangat memilukan hati.


Aahhh seperti itukah laki laki kalau memangis. Sangat memilukan hati siapa saja yang mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2