
Berkali kali pria tua itu mengucapkan maafnya pada Reina.
''Maafkan papa sayang. Andai saja saat itu papa punya keberanian untuk menjumpai kamu dan mamamu. Hhhh..maafkan papa sayang'' ucapanya dengan suara serak dan tangis yang tiba tiba terdengar sangat memilukan hati.
Aahhh seperti itukah laki laki kalau memangis. Sangat memilukan hati siapa saja yang mendengarnya..
Setelah menumpahkan perasaan yang tersimpan selama ini, membuat Reina merasa lebih rileks. Dia tak setegang awal bertemu.
Mereka berbincang santai. Reina menanyakan bagaimana kesehatan ayahnya.
''Bagaimana perkembangan dengan kesehatan papa?, apa semua berjalan dengan baik?'' tanya Reina pada papa nya.
''Seperti yang kau lihat sayang, papa semakin baik'' ucap nya penuh dusta.
karena kenyataannya bertolak belakang dengan apa yang disampaikannya pada Reina.
''Benarkah? Kalau begitu kita sudah bisa tinggal bersama, tak perlu terpisah lagi? Ucap Reina penuh harap memandang sang ayah.
Papanya sungguh tak bisa berkata kata. Dia terlihat gugup memandang pias pada Anthony yang duduk tak jauh dari mereka.
Anthony lalu berdiri mendekati Reina.
''Sabarlah Rei, tunggu sampai papa mu benar benar kuat dan bisa beraktifitas dengan baik, setelah itu kalian bisa bersama'' ucap Anthony sambil memegang pundak Reina.
Reina kecewa, wajah cerahnya berubah sedikit mendung.
''hhhh..baiklah, sepertinya aku harus lebih bersabar lagi. Tapi bolehkah hari ini aku disini? Ucapnya berharap.
''Hmm.. Baiklah, hari ini saja, oke?! Ucap Anthony.
Sementara papa Reina memandang Anthony gamang. Karena sebenarnya dia tak setuju. Dia sangat takut kalau tiba tiba saja keadaannya memburuk dan diketahui Reina.
Tapi Anthony memandangnya dan memberikan kode dengan menganggukkan kepalanya seperti mengatakan ''tenang, tidak apa apa''
Memdengar itu Reina sangat bahagia sekali, dia langsung memeluk ayahnya.
''Aku ingin menghabiskan hari ini berdua dengan papa, aku senang sekali. Terima kasih papa.
Sang papa membelai rambut Reina dengan perasaan yang campur aduk. Bahagia dan sedih menjadi satu.
Dia mengurai pelukannya dan memandamg wajah Reina lamat lamat. Dia ingin mengingat wakah itu dan memyimpan dalam ingatannya.
__ADS_1
Tiba tiba dia merasakan napasnya nya menjadi sesak, dan sakit yang luar biasa diperutnya. Wajahnya tiba tiba memucat dan keringat bwrmunculan dipelipisnya.
Anthony dan Jacob yang memyadari itu segera mengambil tindakan.
''Ah Reim sebaiknya biarkan papamu istirahat sejenak dan lagi pula kau dan Jacob tadi tidak sempat sarapan bukan? Pergilah sarapan, semua sudah disediakan. Jack, tolong bawa Reina untuk sarapan!? ucap Anthony terburu buru.
''Kau betul ayah. Kami belum makan dari pqgi dan perutku pun sudah mulai kelaparan. Ayo Rei,kita makan dulu, dan beristirahat sebentar. Nanti kau bisa kembali memjumpai papa mu'' Ajak Jacib tergesa gesa sambil menarik tangan Reina tanpa menunggu jawaban dari nya.
Bergegas Jacob membawa Reina keluar dari kamar itu, dan Anthony segera menekan tombol yang terhubung ke kamar dokter yang ada di rumah itu.
Semua berjalan dengan tidak mencurigakan.
Dokter datang ke kamar papa Reina dengam berpakaian biasa, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan Reina.
Jacob membawa Reina keruang makan. Disana sudah tersedia bermacam masakan.
Ada dua orang pelayan sudah menunggu. Dan tentu saja ada nyonya Ruth disana.
''Silahkan tuan muda, nona'' ucapanya sangat ramah.
''Terima kasih bu'' ucap Reina sopan.
Sejenak nyonya Ruth tertegun, karena baru pertama kali ada orang yang memanggilnya dengan sebutan ''ibu'', hatinya pun memghangat. Semyum bajagia terpancar diwajahnya.
''Hmm masakannya enak sekali'' ucap Reina.
''Masakan Nyonya Ruth selalu enak, tak pernah gagal kau tau'' ucap Jacob
''Ow ya? Sepertinya kau sering kesini ya?'' tanya Teina penuh selidik.
'' Eh..tidak sering, hanya beberapa kali'' ucap Jacob was was.
''Lalu kenapa kau bisa bilang masakan ibu Ruth selalu enak?'' tanya Reina curiga.
''Ah ya..karena sebelum pindah kesini, mereka semua tinggal dikota, jadi aku sering berkunjung kesana, untuk bertemu ayahku'' ucap Jacob mencari alasan yang paling tepat.
''Owh begitu'' uca Reina.
Lalu hening dan mereka melanjutkan makan sampai selesai.
Setelah selesai, Reina bergegas ingin kembali ke kamar ayahnya. Tapi Jacob yang melihat itu segera menghentikannya.
__ADS_1
''Kau mau kemana Rei?'' tanya Jacob
''Aku mau ketempat papaku'' ucap nya santai
''Hmm..aku rasa paman sekarang sedang istirahat, lebih baik biarkan saja dulu, agar kesehatannya cepat pulih, bukankah kau ingin tinggal bersama papamu secepatnya? Jadi mari, sebaiknya jangan ganggu waktu istirahatny'' ucap Jacob berusaha meyakinkan Reina.
Karena dia tau sebenarnya apa yang terjadi. Terlebih dari tadi, dua orang perawat yang dirugaskan bolak balik kesana tanpa disadari oleh Reina.
Reina nampak berfikir sebentar, lalu menganggukkan kepalanya.
''Kau benar, baiklah! biarkan papa istirahat dulu, nanti aku akan kesana lagi'' ucap Reina.
''Bagus, kalau begitu ikut aku, aku ingin menunjukka sesuatu padamu'' ucap Jacob meraih tangan Reina dan membawanya kedalam genggamannya.
Jacob membawa Reina berjalan kebelakamg bungalow itu, teryata dibelakangnya ada halaman yang sangat luas, kolam renang dan taman bunga yang indah.
Reina sangat terpesona dengan keindahan didepan matanya. Dan yang lebih membuat Reina tak berhenti memandang adalah apa yang tersajikan dibelakang tembok pembatas halaman luas itu, dari kejauhan bungalow yang terletak lebih tinggi ini, bisa memandang indahnya hamparan laut yang sangat biru terletak dibawah sana.
Reina baru menyadari kalau mereka berada diketinggian dekat laut. Laut adalah tempat yang paling Reina impikan.
Dari kecil dia sudah berkali kali meminta pada ibu nya untuk diajak pergi bermain kepantai, tapi sampai dia sebesar ini, belum sekalipun dia pernah pergi kesana.
Selain dikotanya letak pantai cukup jauh dan yang paling utama adalah mamanya tidak akan sudi membuang buang waktunya untuk dekat dengan Reina apalagi dengan membawanya pergi kepantai, itu hal yang sangat tidak mungkin terjadi.
Mata Reina berkaca kaca, dia sangat terharu. Jacob menyadari Reina yang tidak bergerak dari tadi. Dia melirik kearah Reina dan terkejut melihat Reina yang tiba tiba saja berurai air mata tanpa suara.
''Heeii..kau kenapa? Apa ada yang sakit?'' ucap Jacob khawatir.
Tak ada jawaban dari Reina, hanya tangisan tanpa suara dan itu sangat menyakitkan.
Tanpa kata kata, Jacob meraih Reina dan membawanya kedalam pelukannya. Dia membelai pelan punggung Reina, berusaha memberikan ketenangan pada Reina.
''Kenapa Rei? Kau bisa bercerita padaku,jangan simpan sendiri masalahmu. Kau bisa percaya padaku Reina'' ucap Jacob lirih tapi masih bisa didengar oleh Reina.
''Sekarang menangislah, lepaskan semuanya dengan tangisan ini, agar kau tenang. Kalau kau sudah siap bercerita, aku akan selalu ada untukmu, kau mengerti'' ucap Jacob lagi sambil mengusap pelan kepala Reina.
Reina hanya mengangguk didalam dekapan hangat Jacob. Perlahan tangisa Reina reda. Wajahnya memerah karena malu.
Reina berusaha mengurai pelukan Jacob. Tapi Jacob tak melepaskannya.
''Biarkan seperti ini dulu sebentar Rei, sebentar saja'' ucap Jacob pelan.
__ADS_1
Dia merasa enggan melepaskan pelukannya pada Reina. Perasaannya bergejolak saat ini. Dia tak ingin semuanya berakhir.