
Uang dan kebahagiaan, merupakan dua hal yang tidak lepas dari hidup manusia.
Dengan adanya uang. Manusia bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dimana, uang sebagai alat tukar yang sah, menggantikan sistem barter atau tukar menukar barang. Dengan uang, kita bisa membeli barang-barang keperluan kita sehari-hari. Uang juga bisa disalah gunakan, misalnya membeli kekuasaan, atau menjatuhkan sesama manusia. Terkadang, karena uang manusia bisa gelap mata.
Namun, uang tidak ada gunanya, jika manusia tak bahagia. Seperti kata pepatah.
Uang membeli kesenangan, tetapi mustahil untuk membeli sebuah kebahagiaan.
Akan tetapi, apa jadinya jika ada orang yang bekerja mati-matian mencari uang, hanya untuk sebuah kebahagiaan? Apakah, ia akan mendapatkan kebahagiaan selamanya? Atau, ia hanya akan mendapatkan kebahagiaan sementara?
Begitulah yang dialami oleh mahasiswi, bernama Yuri. Ia rela kuliah sambil kerja, hanya ingin memperoleh sebuah kebahagiaan semata. Ia sibuk akan dunianya sendiri, hingga akhirnya, orang terkasih meninggalkannya untuk selama-lamanya. Kini, uang tidak berguna lagi baginya. Hatinya hampa, tanpa kasih sayang dari seorang ibu. Ia pun harus mencari sebuah kebahagiaan lain, bukan hanya sebuah kebahagiaan dan kesenangan semata, berupa materi. Untuk memenuhi kehampaan, dan rasa sedihnya saat ini.
Namun, bagaimana caranya? Akan sulit mencari kebahagiaan yang mutlak. Terlebih lagi, untuk mengisi kehampaan hatinya yang perlahan mulai membeku.
*****
Yuri Anastasia. Nama yang melekat dengan indah disaku almamater dari seorang mahasiswi, jurusan Teknik di sebuah Universitas Swasta, yang terletak di Kota kecil nan indah, bernama Amlapura.
Yuri, begitulah teman-teman memanggilnya.
Ia seorang gadis yang cantik, ceria, sangat ramah dan murah senyum. Namun, semenjak ibunya meninggal dunia. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menjadi sosok gadis pendiam, dingin, dan suka menutup diri. Bahkan, ia juga menjadikan dirinya bak gadis sebatang kara, walaupun ia masih memiliki keluarga. Yuri yang selalu sabar. Kini, ia bisa naik pitam karena masalah sepele. Ia juga sering mengurung diri dikamarnya.
***
Di Pagi hari yang cerah. Motor dan mobil berjajar rapi di parkiran. Suasana kampus yang sunyi dan sepi, membuat kesan yang menyeramkan. Mungkin, karena hari ini, beberapa program study lebih memilih mengambil jam kuliah sore. Yuri berjalan dengan santai dari arah parkiran menuju kelasnya. Rambutnya yang acak-acakan, dengan mengenakan kaca mata minus, namun tak dapat menutupi matanya yang sembab. Wajahnya yang datar dengan tatapan yang kosong, sudah seperti tak ada harapan hidup lagi. Sudah beberapa hari, ia ke kampus dengan wajah yang menyedihkan seperti ini.
Sesampainya didepan kelas, ia membuka knop pintu dengan pelan. Semua teman yang berada didalam kelas, dengan spontan menoleh kearahnya. Lalu, mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Tak ada satu pun orang yang bertanya kepadanya. Karena, percuma saja mereka bertanya. Yuri pasti akan diam seribu bahasa, mengabaikan semua pertanyaan dari mereka.
Yuri sangat senang mendesain, baik animasi maupun desain grafis. Ia juga pintar menggambar. Maka dari itu, ia beberapa bulan terakhir ini, mencoba untuk menekuni dunia desain. Dan, diam-diam ia membuat rancangan desain, yang rencananya akan ia jual ke perusahaan ternama, tanpa sepengetahuan keluarganya.
Setelah selesai kuliah, Yuri pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, ia langsung menuju ke kamarnya. Tak ada salam ataupun ocehan basa-basi yang dilontarkan oleh Yuri kepada ayah, maupun adiknya. Dikamarnya, Yuri langsung mengambil laptop dari atas meja, lalu menjatuhkan badannya keatas kasur. Dibukanya laptop itu, Lalu, dengan cekatan tangannya menggeser mouse untuk mencari file desain buatannya sendiri. Lagi lima belas persen, rancangannya akan segera selesai. Ia terus berkutik didepan laptop. Sesekali, ia menyeka air matanya yang keluar perlahan. Dibenaknya, kini terlintas kembali senyuman hangat dari sang ibu, yang membuatnya kembali menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
****
Beberapa hari berlalu. Akhirnya rancangan desain miliknya selesai. Karena hari libur, ia langsung bergegas pergi ke Ibu Kota. Ia mencoba untuk menjual desain rancangan miliknya sendiri. Ia akan menjual rancangan desainnya, disalah satu perusahaan ternama, dan terbesar di Ibu Kota itu. Destiny Grup, merupakan sebuah perusahaan yang bernaung dibidang properti dan juga game online.
Jika ia berhasil menjual desain miliknya, uang hasil menjual desainnya, akan ia tabung untuk masa depannya yang sama sekali belum ia pikirkan. Siapa tahu, kedepannya ia mengalami kesulitan. Dan, uang itu yang akan menyelamatkannya. Yuri juga sudah memiliki tabungan, yang sudah ia kumpulkan semenjak semester awal perkuliahan.
Butuh waktu satu Jam perjalanan, untuk menempuh ramainya Ibu Kota. Demi menjual hasil karya yang dibuatnya selama berbulan-bulan lamanya, Ia rela menempuh perjalanan yang cukup panjang, dengan menggunakan angkutan umum. Sebelum pergi, ia sudah berpamitan terlebih dahulu dengan ayahnya. Dan, mengingatkan sang ayah, agar tidak memberitahu kakaknya yang tinggal di Ibu Kota. Walau begitu, ia masih menjadi gadis baik yang berbakti kepada orang tuanya.
Sebelum menjual Desain rancangan miliknya, Yuri haruslah mempresentasikan hasil kerjanya terlebih dahulu. Seluruh staf karyawan penting, sudah berada satu ruangan dengannya. Mungkin, saat itu adalah hari sialnya Yuri. Tanpa ia sadari, ia bertemu dengan kakaknya diperusahaan yang sama. Kakak perempuan Yuri bernama Kiran. Wanita cantik, berambut panjang, dan usianya 5 tahun lebih tua darinya.
"Katanya dia libur hari ini, kenapa sekarang disini?" Gerutu Yuri, dengan memasang muka masamnya.
"Yuri? Oh, jadi ini yang membuat kamu menelponku kemarin, gara-gara anak ini hari liburku menjadi ditunda."
Dengan ekspresi wajah yang terkejut, Kiran melihat adiknya. Ternyata adiknya merupakan tamu penting, yang akan menjual rancangan desain kepada perusahaan itu. Yuri mengabaikan keberadaan kakaknya, yang mungkin dari tadi telah memperhatikannya dibelakang.
Sebelum CEO dari perusahaan itu hadir, ia mengutak atik laptop yang sudah tersedia. Ia juga tak hentinya menghafal setiap detail isi power point, yang dibuatnya kemarin malam. Setelah sekian lama menunggu, seorang pria membuka daun pintu ruangan tersebut. Ia berpakaian rapi layaknya anak kantoran pada umumnya. Pria itu sangat tampan, berwibawa, dan postur tubuhnya yang lumayan tinggi. Ia merupakan CEO dari perusahaan tersebut. Bisa dilihat dari kedatangannya, yang disambut dengan hormat oleh staf karyawan di ruangan itu. Mereka membungkukkan badan ke hadapan pria itu secara bersamaan.
Sedangkan Yuri, ia hanya bisa diam dan memalingkan pandangannya, ke layar monitor. Sebenarnya, Yuri tidak kalah terkejutnya dengan pria itu. Pria yang kini, berhadapan dengan Yuri merupakan sosok yang ia kenal. Namun, ia membenci pria itu. Bukan tanpa alasan, pria itu sangatlah menyebalkan. Sampai detik ini, ia masih tidak percaya bahwa ternyata pria itu merupakan CEO dari Destiny Grup. Tuan muda Alex, begitulah para karyawan dan anak buahnya memanggil pria itu.
“Aarrgh ketemu dengan kakakku saja sudah bikin aku tak nyaman. Kenapa nambah satu orang lagi? Sepertinya hari ini adalah hari sialku.” Gerutu Yuri dalam hati.
Keringat dingin terus keluar dari tangannya, jantungnya pun berdebar sangat kencang. Setelah selesai presentasi, seluruh staf karyawan, serta kakaknya tersenyum dan bertuk tangan. Membuat perasaan Yuri sedikit lega. Akan tetapi CEO itu tak bergeming, ia terus menatap kearah Yuri, dengan tatapan yang sangat tajam. Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya Alex angkat bicara.
“Coba jelaskan. Kenapa perusahaan ini harus membeli desain rancanganmu?”
Kata-kata yang dilontarkan oleh Alex, sontak membuat seluruh karyawan yang mengikuti meeting, bungkam dan menundukkan kepala. Seketika, ruangan itu kembali sunyi. Bahkan, Kiran terkejut dan kebingungan dengan perkataan yang dilontarkan oleh Alex, hingga tanpa ia sadari, Kiran melototi Alex.
"Yuri sepertinya kau salah memilih perusahaan untuk menjual desain rancanganmu." Ucap kakak Yuri dalam hati.
Melihat Kiran yang melototi Alex, karyawan disebelah duduk Kiran, langsung menyenggol badan Kiran dengan sikunya. Kiran menyadari isyarat rekan kerjanya pun, dengan segera menundukkan kepalanya, layaknya staf karyawan lainnya. Berbeda dengan Yuri, yang menatap Alex dengan tatapan heran.
__ADS_1
“Hah, harus ya aku jawab pertanyaanmu yang tidak berguna itu?" Yuri nampak kebingungan. Pertanyaan yang Alex lontarkan kepadanya, jauh berbeda dari dugaannya. Alhasil, Yuri hanya menjawab apa yang ia pikirkan.
“Menurut saya terserah tuan saja. Yang jelas saya sudah membuat rancangan ini dengan sebaik mungkin. Keputusan ada di tangan tuan sekarang!!”
Ucapan Yuri, membuat karyawan lain terkejut. Yuri tidak mengetahui, bahwa yang berada dihadapannya adalah CEO perusahaan ternama dan terbesar di Ibu Kota ini. Tentu, apapun akan ia lakukan demi kemajuan perusahaan ini. Bahkan, ia tidak segan-segan memerintahkan bodyguardnya, untuk menyeret orang-orang yang tidak bekerja dengan benar, keluar dari perusahaan ini. Para karyawan tak kalah terkejutnya, karena mendengar perkataan Alex.
“Baiklah kalau begitu, saya suka dengan rancangan kamu. Presentasi kamu juga sangat baik. Saya sangat menyukainya.”
Alex menatap Yuri dengan senyum hangatnya. Namun, menurut Yuri, senyuman Alex memiliki segudang arti yang mengerikan. Yuri pun terlihat kesal dan ketakutan dibuatnya. lalu dengan secepat kilat, ia menyingkirkan rasa takut itu dari benaknya.
“Baiklah. Saya beli rancangan kamu, Yuri Anastasia.”
Kata-kata yang sudah ditunggu oleh Yuri dari tadi. Sungguh berbeda dari ekspetasi Alex. Ternyata, Yuri tak terlihat senang, bahkan tak senyum sedikitpun. Hanya ada ekspresi datar yang diperlihatkan oleh Yuri.
Semua staf karyawan yang berada di ruangan tersebut bertepuk tangan sekali lagi dan mengucapkan selamat. Walaupun, mereka terlihat terkejut dengan perkataan Alex, begitu juga dengan Kiran. Kiran bahkan tidak menyangka, bahwa CEO yang tegas dan berwibawa itu, bersikap sedemikian baiknya terhadap Yuri.
“Selamat atas pencapaianmu kali ini Yuri. Saya sangat senang dan juga puas akan karyamu.”
"Terima kasih, karena sudah mau menerima rancangan desain milik saya, Pak."
Alex pun memberikan sebuah cheque, yang tertera nominal uang yang diberikan perusahaan kepada Yuri, sambil menjabat tangan Yuri. Yuri pun membalas senyuman itu dengan senang hati. Tak lama kemudian, Yuri pun berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan itu, dengan membawa seutas kertas berupa cheque yang diberikan oleh Alex.
Kini, Alex nampak senang, dan masih tidak percaya bahwa gadis dihadapannya adalah Yuri, calon kekasihnya. Membayangkan saja, sudah membuat ia bahagia. Saking senangnya, ia tidak memperdulikan karyawan lain yang sedang berbincang-bincang dengan sesama karyawan lainnya.
"Tuan muda, apakah ada hal lain yang akan tuan muda sampaikan setelah meeting ini?" tanya salah satu staf karyawan.
"Ehem...emm tidak, kalian silahkan keluar dan lanjutkan pekerjaan kalian."
"Baiklah, Tuan. Selamat siang, Tuan muda." ucap salah satu karyawan, yang disusul oleh karyawan lainnya. Satu per satu staf karyawan keluar dari ruang meeting tersebut.
"Aku suka dengan kinerjanya dalam menyampaikan presentasi yang cukup bagus. Dia cocok kalau aku jadikan sekretaris pribadiku. Hhhm ... menarik juga." Batin Alex
__ADS_1