Sekretaris Sang CEO

Sekretaris Sang CEO
Bunga Tidur sang Gadis


__ADS_3

Angin berhembus cukup kencang, langit sore yang cerah, dan matahari yang sudah mulai padam akan sinarnya yang menyengat di kulit membuat anak-anak di desa mulai berkeliaran diluar rumah untuk bermain dengan teman-teman sebayanya, melepas penat usai membantu para orang tua bekerja di sawah maupun di peternakan.


Namun tidak dengan Yuri, di usianya yang sudah menginjak usia 19 tahun ia lebih senang bermain dan menghabiskan waktu dengan anak-anak kecil di desanya, tingkah lakunya yang sangat manja dengan ibunya dan caranya ia bermain dengan anak-anak kecil yang itu tidak ada bedanya, dilihat dari segi fisik memanglah ia gadis remaja pada umumnya namun tingkah lakunya jauh berbeda dari anak remaja biasanya yang sibuk dengan gadgetnya masing-masing atau menghabiskan waktu nongkrong dan bergaul dengan anak-anak remaja lainnya.


Ia lebih memilih menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak kecil di desanya, langit yang sudah mulai gelap membuat ibu Yuri khawatir dengannya, sehingga ibunya memutuskan untuk menjemputnya di lapangan tempatnya bermain


"Yuriiiii, sudah selesai bermainnya hari sudah mulai gelap, ayo pulang" teriak ibu Yuri sambil melambaikan tangan kanannya dari kejauhan


Yuri yang menyadari teriakan ibunya menoleh kebelakang dan melontarkan senyumnya dengan lebar


"iya bu" jawabnya, ia pun berlari sekencang mungkin menghampiri ibunya.


"jangan lari nanti jatuh" Ibu Yuri yang khawatir, namun Yuri hanya bisa tersenyum


"hah kamu senang disini nak?" tanya ibunya sembari mengelus lembut kepala Yuri


"sangat bu, lain kali kalo aku liburan aku mau liburan di desa saja ya" Yuri yang memelas menatap ibunya dengan matanya yang berbinar-binar, Ibu Yuri yang melihatpun membuatnya ketawa terbahak-bahak


"tanpa dimintapun ibu akan mengajakmu Yuri" Ibu yang menoleh Yuri lalu mencubit pipinya dengan pelan, Yuri hanya bisa tersenyum sangat lebar, merekapun terus berjalan pulang ke rumah.


Senja yang sudah digantikan dengan malam, membuat suasana pedesaan semakin sejuk, Yuri dan ibunya memutuskan untuk makan malam bersama dengan keluarga kecil dari pihak ibunya, suasana makan malam yang begitu sederhana namun sangat menyenangkan. Disela makan anggota keluarga bersenda gurau dan berbincang-bincang, mungkin bagi anak kota ini tidaklah begitu sopan namun bagi mereka pada saat makan malamlah hal yang ditunggu-tunggu untuk melepas penat hari ini dengan canda dan tawa.


Untuk pertama kalinya lagi Yuri diajak berlibur ke desa ibunya, terakhir kali ia diajak berlibur ke desa pada saat usianya masih 4 tahun, sudah lama sekali bukan Yuri tidak berkunjung ke kampung halaman ibunya, kini ia sudah seminggu tinggal disana, suasana makan malam yang sangat menyenangkan inilah yang sangat dirindukan oleh gadis ini.


Malam yang gelap gulita kini telah berganti menjadi pagi yang cerah namun masih sejuk, Yuri dan juga ibunya kembali ke aktivitas mereka masing-masing, ibunya yang sudah berangkat dari tadi ke ladang untuk membantu mencari rumput segar untuk sapi-sapi mereka sedangkan Yuri sudah berada di ternak yang tidak jauh dari rumah untuk membantu sang nenek memberi makan ternak. Setelah memberi makan ternak seperti biasa ia selalu berkomunikasi dengan ternak-ternaknya, namun ia tidak pernah menyadari bahwa selama ia tinggal disana ada sepasang mata yang selalu memperhatikannya dari kejauhan.


Sepasang mata dari laki-laki yang terlihat sebaya dengan Yuri selalu memperhatikannya terutama pada saat ia bermain dengan ternaknya, namun hari ini laki-laki sepertinya mulai memberanikan diri untuk mendekati Yuri, ia berjalan menghampiri Yuri dan menepuk pundak Yuri dari belakang. Yuri yang kelihatan kaget langsung membalikkan badannya.


"siapa kamu?" tanya Yuri sambil mengelus-elus dadanya berulang kali karena terkejut, laki-laki itu tersenyum kepada Yuri


Senyum laki-laki itu sangat manis, matanya yang sipit, bulu matanya yang lentik, wajahnya putih mulus bahkan penampilannya sangat jauh dari anak remaja desa ini.


"hai, aku devan" katanya


"kenapa kamu mengagetkanku?" Yuri kembali bertanya


"hahaha maaf kamu kaget ya, aku sudah lama memperhatikanmu, aku pikir kamu anak kota yang sombong" katanya meledek

__ADS_1


"kamu siapa sih, dateng-dateng ngagetin trus bilang aku sombong lagi" Yuri nampak jengkel dengannya


"oke maaf-maaf, maunya sih pada saat pertama kali aku menemuimu ingin berkenalan denganmu tapi karena kamu seperti orang yang sombong aku mengurungkan niatku, dan selama ini aku selalu memperhatikan gerak-gerikmu dan melihat kamu cepat sekali akrab dengan anak-anak kecil disini membuatku yakin kalau aku bisa berkenalan denganmu dan menjadi temanmu" Devan kembali tersenyum kepada Yuri.


"ooh jadi begitu, panjang juga ceritamu, namun membosankan" kata Yuri sinis


"hhm aku tarik kata-kataku tadi, cara bicaramu itu tidak menyenangkan untukku dengar" Devan yang tidak kalah sinisnya dengan Yuri


Yuri pun tertawa terbahak-bahak, baru pertama kali ada laki-laki yang begitu menggemaskan pada saat kesal dengannya.


"kenapa kamu tertawa, apa ada yang lucu?" tanya Devan


"ah habisnya kamu lucu pada saat kesal" Yuri melanjutkan tertawanya, membuat Devanpun ikutan tertawa lepas


"sudah-sudah, hai Devan kenalin namaku Yuri, senang berkenalan denganmu" merekapun berjabat tangan, dan mulai hari itu juga Yuri dan Devan menjadi akrab.


Setiap hari mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama-sama, mulai dari bermain layangan, melihat-lihat sawah bermain air di sungai dan masih banyak hal yang mereka lakukan.


Yuri mulai merasa sangat bahagia dan nyaman berada di dekat Devan, ia merupakan laki-laki pertama yang membuat Yuri selalu tersenyum dengan lepas. Namun kebahagiaan Yuri tidak begitu lama, setelah Devan bilang bahwa ia akan ke luar negeri untuk meneruskan perusahaan ayahnya disana.


Akhirnya Devan memberi tahu semuanya, bahwa ia memang lahir di desa itu, namun ayahnya yang bekerja di perusahaan properti ke desa ini dan bertemu dengan ibunya lalu menikah, ia sebenarnya tinggal di ibu kota namun karena rindu dengan suasana pedesaan Devan memutuskan berlibur dari aktivitasnya dan tinggal untuk beberapa lama disana.


Yuri yang mendengarnya pun merasa sedih, dadanya terasa sesak, ia tidak mau ditinggal oleh Devan, namun ia juga tidak bisa melarang devan untuk pergi.


"jadi begitu, hhhm kenapa baru sekarang kamu cerita?" tanya Yuri


"aku pikir kamu tidak suka dengan urusan orang lain" jawabnya singkat


"iya juga sih, baiklah ingat kalau sudah sampai hubungi aku ya" Yuri tersenyum tipis, sedangkan Devan pun ikut tersenyum walaupun ia mengetahui bahwa hatinya Yuri sangat sedih.


.......


Sudah dua hari Yuri menanti kabar dari Devan, tiap menit ia selalu mengecek ponselnya, bahkan ia terus berdiam diri di rumah saja.


Setelah beberapa hari ia menunggu dan menunggu, terdapat kenyataan pahit yang harus ia hadapi, pesawat yang ditumpangi oleh devan jatuh, dan dinyatakan semua penumpang dan awak pesawat tewas ditempat.


Hal ini membuat Yuri sedih, ia tidak bisa menerima kenyataan, ia menganggapnya hanyalah kabar angin, karena jasad Devan tidak ditemukan, ia percaya suatu saat nanti ia akan bertemu lagi dengannya, namun ia tidak mengerti kenapa air matanya terus membanjiri pipinya, hatinya terasa sangat sesak hingga sulit bernafas.

__ADS_1


Yuri membuka matanya dengan cepat, Yuri mengelus pipinya yang basah, ternyata ia menangis iapun menghapus air mata yang ada di pipi dan juga matanya, lalu melihat disekelilingnya, yang ternyata ia berada didalam mobil yang terparkir di depan rumah kakaknya dan yang membuat ia malu yaitu ia berada di mobilnya Alex. Alex terlihat heran dengan keadaan Yuri saat ini, tanpa Yuri sadari Alex terus menatapnya pada saat ia tidur dengan lelapnya.


"kenapa kamu ada disini?


dan kenapa aku ada di mobil?


ini mobil siapa?


apa aku ketiduran di mobilmu?" Yuri memberikan beberapa pertanyaan kepada Alex.


Alex nampak menghembuskan nafas dengan panjang


"banyak sekali pertanyaanmu, dengar ya Yuri ini mobilku, apa kamu tidak ingat apa yang terjadi padamu?" Alex bertanya balik


Yuri pun memutar kembali kejadian hari ini.


Karena banyak sekali tugas yang belum ia kerjakan, yang membuat Yuri terus berkutik di depan komputer, tanpa ia sadari ternyata senja telah berganti malam, begitu juga dengan Alex. Setelah menyadari hal itu Yuri dan Alex memutuskan untuk pulang, namun mereka berpisah di parkir mobil dan juga motor. Namun nasibnya tidak berpihak kepada Yuri, sudah beberapa kali ia menghidupkan motornya namun tidak bisa, setelah dicek ternyata Yuri lupa membeli bensin, Ia nampak kebibgungan hingga akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan parkir motor, dan kaca mobil itu diturunkan oleh seseorang yang berada di dalam mobil itu, ia melihat Yuri kebingungan setengah mati.


"kamu betah berada di kantor ya, sampai-sampai tidak kunjung oulang juga?" ledek Alex


"iss..enak saja, motorku kehabisan bensin, karena buru-buru tadi lupa cek bensin" jawab Yuri dengan kesal


"hahaha dasar kamu ceroboh, hhhmm naiklah aku akan mengantarmu pulang"


Tanpa basa basi Yuri pun menganggukkan kepalanya, ia mengambil kunci motornya dan langsung berlari kecil menuju mobil yang dikendarai Alex.


Ditengah perjalanan pulang mereka hanya diam, tidak ada suara sedikitpun, dan dikeheningan itu Yuri mulai merasakan kantuk yang teramat sangat, ia ingin melawan rasa kantuknya namun karena tubuhnya yang sudah kelelahan iapun tanpa sadar tertidur.


"berapa menit aku tidur?" tanya Yuri


Alex yang mendengarnya tertawa, membuat Yuri kebingungan


"menit? kurasa kamu tidur hampir satu jam"


Yuri kaget mendengarnya, ia hanya bengong tidak bisa berkata-kata


" demi tuhan, selelap itu aku tidur? dan bermimpi buruk dan menangis di depannya? Yuri seharusnya kau mati saja sekarang" batin Yuri

__ADS_1


__ADS_2