
Masih di dalam mobil yang sama, Yuri yang masih berpikir keras mengenai kejadian tadi membuat Alex bosan menatap Yuri dari tadi, ia nampak kebingungan apa yang dipikirkan gadis ini dengan mencari tahu melalui sorot pandang Yuri.
"hai kamu tidak mau turun dari mobil, atau kamu ingin ikut pulang bersama ke rumahku?" Alex nampak puas menggoda Yuri dengan tertawa terbahak-bahak membuat buyarnya lamunan.
"bisa tidak sehari saja tidak membuatku kesal?" ucap Yuri ketus sambil membuka pintu mobil, dibantingnya pintu mobil mewah berwarna hitam tersebut dengan sangat kencang oleh Yuri saking kesalnya, membuat pintu mobil itu rasanya mau lepas.
Baru Yuri menginjakkan kakinya ke tanah, yang hendak turun dari mobil, Alex refleks memegang lengan Yuri dan menariknya ke dalam mobilnya, membuat wajah mereka berdua saling berdekatan, saking dekatnya membuat Yuri dengan cepat menjauhkan wajahnya dari Alex.
"kamu suka kan aku duduk di sebelahmu?" tanya Yuri
"tidak juga"
"lalu kenapa kamu seenak jidatmu manarik lenganku dengan sangat kencang aku hampir saja jatuh di pangkuanmu?" tanya Yuri dengan nada meninggi, sambil melepaskan lengannya dari genggaman Alex. Lalu Yuri pun keluar dari mobil itu dengan kasar ia menutup pintu mobil itu dengan sangat keras.
"hahaha iya maaf, manaku tahu kalau kamu tidak memiliki tenaga, aku hanya mau bilang besok jangan telat ya" dengan senyum sinisnya Alex pun memutar balik mobilnya, lalu melambaikan tangannya kepada Yuri.
Yuri pun melambaikan tangannya kepada Alex dan tidak lupa ia mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarkannya sampai ke rumahnya. Mobil Alex kini sudah melaju cepat meninggalkan Yuri yang masih berdiri di depan rumah kakaknya.
Kini perasaan Yuri bercampur aduk, antara senang, sedih, kesal dan juga bingung. Ia mematung beberapa menit hingga akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke rumahnya.
" kenapa mimpi itu selalu muncul disaat aku lelah" gerutunya sambil berjalan tidak seimbang akibat rasa ngantuknya.
Pagi hari yang cerah, burung-burung sudah berkicauan, seperti biasa Yuri dan kakaknya kembali ke rutinitasnya mereka masing-masing. Namun tidak seperti biasanya, hari ini mereka pergi bersama dengan mengendarai motor yang sama, dengan posisi dimana Kiran mengendarai motor dan Yuri di belakang memegangi tas ransel yang super berat milik kakaknya.
" kakak bawa bom apa? tasnya berat banget" celetuk Yuri
" masak sih berat? kamu kali yang lembek" Gurau Kiran dengan tertawa terbahak-bahak
"terserahmu lah kak" jawab Yuri tak acuh, ia tidak mau berdebat dengan kakaknya, tas itu berat itu urusan kakaknya bukan urusannya.
__ADS_1
Sesampainya di kantor dari loby hingga lantai 10 sudah banyak pasang mata yang melirik mereka, suasana itu membuat Kiran risih ia merasa kantor itu sangat seram dan menakutkan, karena banyak staf karyawan melihat mereka. Kiran pun melirik Yuri, ia melihat adiknya itu berjalan dengan santainya seperti tidak terjadi apa-apa, Kiran pun menaikkan satu alisnya menandakan dirinya kebingungan, lalu ia menarik Yuri ke arah toilet, Yuri pun tidak bisa melawan akibat pergerakan kakaknya yang tiba-tiba itu.
"iss ada apa sih kak?" tanya Yuri dengan nada tinggi
"aku hanya penasaran, kenapa jalanmu santai sekali?" tanya Kiran sambil membenarkan rambut sang adik yang berantakan
Yuri pun hanya bengong dengan mulut ternganga mendengar ucapan dari kakaknya beberapa detik.
"jadi hanya karna itu kakak membawaku kemari?
hei kak kakak tahu aku sudah setiap hari melihat hal seperti itu, itu sudah menjadi santapan pagiku" ketus Yuri dengan melipatkan kedua tangannya di dada.
"apa mereka menyakitimu? apa mereka tidak menyukaimu?" tanya Kiran yang setengah khawatir akan adiknya.
Yuri hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu mengelus pundak kakaknya yang nampak khawatir pelan sambil melontarkan senyumannya yang menenangkan hati, seakan-akan memberi tahu kakaknya bahwa menyuruh kakaknya agar jangan terlalu khawatir kepadanya. Mereka terdiam beberapa saat hingga akhirnya suara ponsel dari dalam tas Kiran berbunyi.
*Wakil manager* begitu nama yang tertera di ponsel mmebuat Kiran segera mengangkat ponsel itu, namun sesaat sebelum kiran mengangkat ponsel ia berpesan kepada adiknya agar jangan dengarkan perkataan orang lain dan percayalah kepada kinerja dirinya sendiri, Kiran pun berlalu meninggalkan adik bungsunya itu sendirian.
(Sedangkan di pihak Alex)
di rumah mewah milik keluarga Alex, Adik kecil Alex bernama kecil Alida Rosselia sering dipanggil Alida dan juga Ayahnya sesang mempersiapkan undangan untuk merayakan ulang tahun Alex yang ke 26 tahun. Tentunya yang akan diundang adalah pejabat tinggi dan juga pengusaha sukses kenalan Ayahnya dan juga Alex. Sebelum berangkat ke kantor Alex sudah dicegat di ruang tamu oleh Ayahnya.
"firasatku tidak enak" gumam Alex dalam hati, sambil melirik Ayahnya
"Alex sebentar lagi umurmu sudah menginjak 26 tahun" kata Ayahnya
"aku tahu itu, aku pergi kerja dulu ya yah" sahut Alex dengan tidak memandang Ayahnya.
Belum Alex melangkahkan kakinya adik manjanya sudah berada di sampingnya lalu menahan lengan Alex yang kekar itu.
__ADS_1
"kak, harusnya kakak mengetahui maksud pembicaraan ayah" sahut Alida dengan nada manjanya.
Walaupun di rumah Alida sangatlah manja namun siapa sangka ia merupakan gadis cantik nan pintar yang melanjutkan studynya di Universitas ternama di Belanda, ia mengambil jurusan kedokteran dan bukan hanya itu walaupun dari keluarga kaya, Alida kuliah dengan beasiswa yang ia dapatkan karena kepintarannya dan ketekunannya dalam belajar. Ia sangat mengidolakan sang kakak, pria tampan yang sukses, karena ia mengambil alih perusahaan ayahnya 2 tahun lalu, kini perusahaan itu sangat maju dan pemasukan dari perusahaan itu melambung tinggi karena cekatannya Alex dalam mengambil tindakan untuk perusahaan dan untuk keluarganya.
"Aku tahu kemana arah pembicaraan Ayah, sudahku bilang berulang kali aku akan mencari pasangan hidup, aku sudah menemukannya, untuk saat ini hanya masalah waktu saja" jawab Alex sambil menatap Alida lalu mengusap rambut Alida dengan lembut dan penuh kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.
Mendengar perkataan Alex membuat Alida dan ayahnya senang, mereka berdua saling pandang
"siapa calon kakakku kak, kapan kakak membawanya pulang, apakah dia cantik dan apakah dia menyukai fashion?" banyak pertanyaan yang dilontarkan saking penasarannya kepada seseorang yang dikatakan oelh Alex
"ssstt kamu banyak bicara dik, tunggu ya sebentar lagi aku akan membawanya menemuimu, tapi tidak untuk saat ini, sudah ya kakak harus pergi kerja" Alex menutup mulut Alida dengan jari telunjuknya agar adiknya berhenti mengoceh lagi, sikap adiknya sama persis seperti kakaknya Alida sangat suka bicara pada saat ia senang.
Alexpun berjalan menuju mobil yang telah parkir di depan pintu rumahnya, lalu ia pergi menuju kantornya.
"hati-hati di jalan aku menyayangimu kak" Alida dan ayahnya melambaikan tangan mereka ke arah mobil yang sudah melaju menjauh dari rumah megah itu.
"ayah rasa sebentar lagi rumah ini akan ramai" Alida dan ayahnya pun saling pandang tersenyum lebar dan mereka masuk ke ruang tengah bersama-sama.
Di dalam mobil Alex yang dengan lihai memainkan ponselnya, ia membuka galeri smarthpohone miliknya lalu melihat foto gadis menggunakan kemerja warna merah marun sedang asik duduk di meja kerjanya, dengan riasan wajah yang tipis membuat gadis itu nampak manis, siapa lagi kalau bukan Yuri sekretaris kesayangan Alex, ia memang suka memfoto Yuri diam-diam namun foto satu itulah yang menjadi favoritnya saat ini.
"sepertinya dia harus datang ke pestaku mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, bukan begitu Jordan?" tanya Alex dengan bodyguard pribadinya itu
"benar tuan, agar nona juga bisa mengakrabkan diri dengan nona Alida dan tuan besar" Jordan tersenyum tipis
"apa aku perlu membelikan dress yang senada denganku?" Alex kembali bertanya namun pandangannya masih terpaut pada ponselnya.
"ide bagus tuan, itu akan memberikan kesan baik dan kode untuk nona Yuri"
"dan aku tidak yakin kalau nona mengerti akan kode anda tuan" Jordan hanya tersenyum tipis
__ADS_1
Mendengarkan ucapan Jordan membuat Alex salah tingkah sendiri, ia tersenyum tidak karuan membayangkannya saja membuat ia salah tingkah apa lagi pada saat Yuri menyadari bahwa ia merupakan gadis yang sangat dicintainya, sudah pasti jantung Alex mulai meronta-ronta ingin keluar.
" cinta memang tidak kenal waktu, situasi ataupun kondisi, disaat terpuruk pun kita bisa mengenal yang namanya cinta, hati tidak bisa ditebak dan mata tidak bisa berbohong, siapapun akan merasakannya namun ingat di dalam cinta kita tidak boleh egois dan serakah, hargailah cintamu dan yang memberikan cinta padamu apapun bentuknya kita harus menerimanya"