
Setelah melamun terlalu lama. Yuri dikagetkan, dengan Alex yang melemparkan map berwarna biru berisikan kotrak kerjanya.
“Di kantorku dilarang melamun,” ujar Alex dengan senyum sinisnya mengagetkan Yuri.
Seperti biasa, Yuri tidak menghiraukan perkataan Alex. Kemudian, dengan sigap Yuri mengambil map tersebut, dan membaca isi kotrak kerja yang tertera pada lembar demi lembar kertas dalam map itu.
"Dia hanya menghiraukanku saja? Atau kepada semua orang juga, ya?" Alex bertanya-tanya dalam hati.
Alex senyum-senyum sendiri. Memandangi Yuri, yang dengan seriusnya membaca isi dari kontrak kerja tersebut.
“Hmm...nggak nyangka!! Ternyata, ada orang seimut dia. Walau udah dari dulu sih, aku tau kalau dia imut. Tapi, makin dewasa makin imut dan cantik saja anak ini. Ingin rasanya mencubit pipinya sekalii saja." Batin Alex.
Refleks, tangan Alex menyentuh pipinya Yuri yang putih itu. “Apaan sih sentuh-sentuh!! Sudahku bilang, jangan sok kenal dan sok akrab denganku. Satu hal lagi, jangan sentuh aku kalau aku masih sadar. Paham!!” Ujar Yuri dengan tatapan membunuhnya.
Alex menatap Yuri dengan mengkerutkan dahinya, heran. Lalu, pandangannya beralih kesecangkir kopi yang disediakan oleh Office Girl. Diambilnya kopi tersebut, lalu, ia menyeruputnya hingga tersisa setengah cangkir kopi. Yuri langsung tak memperdulika sikap Alex. Ia mengalihkan kembali pandangannya ke map yang ia bawa. Kemudian, melanjutkan kembali membaca kotrak kerjanya itu.
Setelah selesai membaca kontrak kerja tersebut. Pandangan Yuri langsung tertuju pada Alex. Yang tanpa ia sadari, Alex terus memandangi Yuri dengan senyum khasnya.
“Aku sudah baca kontrak kerjanya. Persyaratannya juga tidak sulit untuk menjadi sekretaris CEO.” Yuri berbicara kepada Alex.
"Oke....Itu artinya kamu setuju bekerja disini. Ingat, panggil aku tuan muda kalau kamu bertemu dengan klienku ataupun karyawan disini, mengerti?” Dengan tatapan tajamnya. Alex memperingatkan Yuri.
“Iya, aku tahu itu. Jadi, jangan khawatirkanku karena aku tahu batasan. Tidak seperti kamu.” Yuri menjawab dengan santai. Membuat Alex tertawa kecil.
Yuri yang melihatnya mulai terbiasa, karena memang begitulah sifat Alex. Apa yang dikatakan Yuri, membuat tuan muda itu tertawa. Walaupun menurut Yuri, itu tidak lucu sama sekali.
“Jadi, mulai hari ini, dan detik ini juga. Kamu bekerja di perusahaanku. Tugas kamu hari ini, yaitu, kerjakan laporan yang ada di meja itu. Dan, meja itu akan menjadi meja kerjamu sekarang dan seterusnya. Tentunya, masih satu ruangan denganku.” Alex menunjuk tumpukan map berwarna kuning berisikan dokumen-dokumen perusahaan.
Yuri pun terkejut dengan meja yang berisikan tumpukan map diatas meja. Kemudian, ia melangkahkan kakinya, berjalan mendekati meja itu.
“Ya Tuhan. ini'kah kerjaan sekretaris yang sesungguhnya? Dia mau mengusirku dari sini secara halus? Atau, dia ingin balas dendam denganku?” Gerutu Yuri dalam hati melihat tumpukan map itu. Alex tersenyum senang, melihat Yuri terkejut dan melototi dokumen-dokumen itu. Sepertinya, ini akan menjadi hobi barunya setelah memandangi gadis itu.
__ADS_1
“Inget ya, dikerjakan dengan benar. Jangan diliatin aja. Dan satu lagi, kalau ada yang sulit dalam mengerjakan tugasmu. Beri tahu saja aku, jangan sungkan-sungkan denganku. Oke!!" Seru Alex.
Alex pun langsung melontarkan senyuman lebar, yang membuat Yuri ketakutan melihat senyuman itu. Senyuman Alex terlihat seperti Joker, sungguh mengerikan dan penuh akan makna.
”Oke!! Mari kita kerjakan semua laporan ini. Yuri, kamu pasti bisa. Masa di hari pertama kamu kerja, kamu langsung menyerah? Kan nggak lucu?” Yuri yang menyemangati diri sendiri.
Alex yang sibuk berkutik didepan laptopnya. Senang melihat Yuri yang berbicara sendiri dengan penuh semangat. Melihat ketekunan Yuri bekerja, membuat Alex semakin kagum dan membuat jantungnya semakin berdegup kencang, bila dekat-dekat dengan Yuri.
"Heh, kamu pandai dalam membuat desain, ya." Alex memuji Yuri.
"Itu memuji apa bertanya? Sudahlah abaikan saja, pura-pura saja tidak mendengar." Yuri pun mengabaikan perkataan Alex.
Alex yang sudah menunggu jawaban dari gadis itu tidak heran sama sekali. Karena, sudah beberapa kali ia diabaikan olehnya. Ia hanya bisa menghela napas panjang, dan menghembuskannya dengan pelan.
"Kenapa sih kamu selalu mengabaikanku?" Akhirnya, Alex bertanya dengan serius kepada Yuri.
Yuri menghentikan aktivitasnya bekerja. Seketika, jari-jemari Yuri berhenti mengetik huruf-huruf pada Keyboard Komputer, dan mulai menatap Alex.
Alex terkejut. Pasalnya, itu bukanlah jawaban yang Alex inginkan. Setelah beberapa detik terdiam. Alex pun tersenyum sinis. Ia terlihat geram dengan perkataan dari Yuri. Namun, ia harus menahan emosinya.
"Itu bukanlah sebuah jawaban Yuri!! Lalu, apa kamu bilang tadi? Apakah ada ruang kerja lain buatmu? Hhmmm... tentu saja, TIDAK. Kau sekretarisku, dan sudah seharusnya kau berada didekatku. Tugasmu untuk membantuku menyelesaikan pekerjaanku. Bukan hanya itu, kamu juga harus pandai-pandai mengatur jadwalku, untuk bertemu dengan klien-klienku." Ucap Alex, dengan tatapan mengarah daun pintu dengan wajah datarnya.
Yuri menundukkan kepalanya. Menatap huruf-huruf keyboard komputer. Ia mengetahui, bahwa kini, Alex sedang marah. Lalu, ia pun mulai kembali dengan aktivitasnya yang tadi sempat ia tunda. Jangan sampai, karena ucapannya tadi, ini menjadi hari pertama, dan terakhirnya ia bekerja ditempat itu.
"Kenapa Yuri? kenapa kau seperti ini? Kenapa kau menjadi gadis yang dingin. Apa begitu sulitnya kau melupakan masa lalu, dan memulai hidup baru lagi? Apakah kau tidak mengetahui, betapa sedihnya aku melihatmu saat ini? Walau semua orang pun tahu, kau tidak suka dikasihani. Tapi, dengan keadaanmu sekarang, bagaimana aku tidak kasihan padamu?" Alex yang terus menatap Yuri dengan tatapan hangatnya
Drrrtt...drrrt!!
Ponsel Yuri berdering dan terlihat notifikasi chat dari sang kakak, Kiran. Yuri pun membuka chat tersebut.
"Yuri... apakah kau baik-baik saja? Kenapa tidak keluar dari ruangan CEO?" Kakaknya mulai mengkhawatir akan keadaan Yuri.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa kak. Aku langsung bekerja disini. Tepatnya, aku sudah mulai bekerja di ruang kerja tuan mudamu ini." balas Yuri dengan cepat.
Kakaknya yang melihat balasan dari Yuri pun terkejut. Ia membaca balasan dari Yuri berulang kali, dengan harapan ia tidak salah membacanya.
"Apa? Oh iya, aku lupa. Kau'kan sekretaris tuan muda sekarang. Wah kau beruntung sekali adikku, pasti kau selalu memandangi tuan muda nan tampan itu'kan?" Dengan sigap kakaknya membalas chat dari adiknya dengan sedikit menggoda sang adik.
Yuri yang membaca chat dari kakaknya pun mengerutkan dahinya "Apanya yang memandangi? Aku sibuk mengetik ulang dokumen-dokumen ini. Malah, dia yang terus memandangiku." Dengan tatapan sinis, dan berniat untuj tidak ingin membalas chat dari kakaknya.
Namun, akhirnya ia kembali memainkan keypad pada ponselnya. Untuk membalas chat Kiran dengan topik yang berbeda. "Kakak. Apakah benar tuan muda ini adalah anak pemilik perusahaan Destiny Grup?"
"Iya tentu saja. Dia CEO disini, dan memang dia adalah anak sekaligus penerus perusahaan ini, Yuri. Aku kira kamu sudah tahu. Memangnya kenapa?" Kiran balik bertanya.
"Tidak, aku hanya memastikan dia tidak berbohong. Dan, aku pikir dia yang membangun tempat ini." Jawab Yuri.
"Kenapa? Jangan bilang kau suka dengan tuan muda pada pandangan pertama, ya." Sekali lagi, Kiran menggoda Yuri.
"Aku membenci semua pria yang ada di dunia kecuali ayah. Jangan berharap aku menyukai tuan mudamu, Kak." Kini Yuri kesal dan wajahnya mulai cemberut.
Kiran mengetahui. Kini, Yuri pasti sangat kesal, dengan membaca chat saja, Kiran sudah mengetahui ekspresi dari adiknya itu. Membuat Kiran tertawa cekikikan. Setelah puas tertawa. Jari-jari Kiran kembali menari-nari diatas keypad ponselnya. Lalu, dengan cepat mengirimkan pesan kembali kepada Yuri.
"Ooh aku kira. Awas ya, nanti, kau suka dengan tuan muda. Karena, sekarang kau selalu berada didekatnya." Kiran terlihat tertawa puas menggoda adiknya.
"Nyebelin banget. Aku tidak akan suka, dan selamanya tidak akan suka dengan tuan mudamu ini," Gumam Yuri.
Tanpa ia sadari, Alex sudah berada di depan meja kerjanya. Alex mengetuk meja kerja Yuri beberapa kali. Alhasil, membuat Yuri terkejut, dan refleks menaruh ponselnya diatas meja.
"Sudah selesai dengan pekerjaanmu? Aku rasa chat itu lebih penting dari pekerjaanmu disini, ya?" Tanya Alex dengan nada bicara penuh penekanan. Alex pura-pura marah.
"Apaan sih, ini chat dari kakakku. Tugasku masih banyak. Jadi, jangan mengangguku." Jawab Yuri, kesal.
"Sudah tau kerjaan banyak. Tapi, kamu malah sibuk chatingan. Bagaimana pekerjaanmu bisa selesai?" Ucap Alex dengan santainya.
__ADS_1
Yuri pun menyibukkan dirinya dengan keyboard yang berada diatas meja, tanpa memperdulikan Alex.