
Yuri pun teringat akan perkataan Alex.
Ia harus ikut ke luar kota selama beberapa hari karena meeting dengan klien.
"Tunggu, kita pergi dengan rombongan bukan?" Pikir Yuri dalam hati.
"hhhm apa kita pergi dengan rombongan?"
Tanya Yuri dengan berpikir panjang terlebih dahulu. Namun, matanya masih tertuju ke layar komputer. Ia masih canggung dengan Alex.
"Iya" Sahut Alex cepat
Yuri pun menghembuskan nafas pelan. Kini pikirannya sudah sedikit tenang, karena mereka akan pergi dengan karyawan lainnya. Alex pun melihat Yuri sekilas yang nampaknya lega dengan jawaban darinya.
"tentu saja, kita akan pergi bedua." Alex menambahkan jawabannya.
"apa?"
Yuri yang mendengar pun langsung menatap Alex. Ia melototi Alex dengan mulut ternganga.
"Tidak sopan melototi atasanmu seperti itu." Alex yang masih sibuk memainkan pulpennya. Bahkan, ia tidak menatap Yuri. Namun, Alex mengetahui ekspresi Yuri dengan meliriknya sekilas.
Yuri pun menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus berbicara apa lagi. Oke! Rasa canggung kembali lagi menghampiri Yuri.
Yuri, yang sudah menyelesaikan tugas-tugasnya menyalin dokumen-dokumen yang tertera di atas meja. Akhirnya ia bisa bernafas dengan lega. Tugasnya yang menumpuk ia selesaikan beberapa hari saja.
Yuri pun meregangkan otot-ototnya sebentar. Lalu, tangannya beralih ke ponsel yang kakaknya letakkan di samping komputer meja kerjanya. Ditekannya tombol on pada ponsel miliknya hingga menyala. Baru beberapa detik ia mengaktifkan ponsel, sudah banyak pesan chat dan panggilan tak terjawab masuk ke ponselnya.
"Banyak sekali yang kangen denganku." Batin Yuri.
Yuri pun menggulir layar ponselnya keatas. Pesan chat dari banyak orang, dan dominan dari grup kampus. Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah pesan chat dari Candra. Dibukanya pesan yang Candra kirimkan kepada Yuri. Dilayar ponsel tertulis angka '19.35' dimana Candra mengirimkan pesan untuk pertama kalinya kemarin.
'Hai Yuri, besok kamu ada acara? Kalau tidak bagaimana kalau kita jalan-jalan ke tanam bermain?' Bagitu isi pesan dari Candra.
__ADS_1
Matanya Yuri yang membaca isi pesan dari candra pun tanpa disadari sudah membelalak. Iya akan pergi ke taman bermain itu lagi. Karena taman bermain itu, Yuri terlambat untuk pergi ke pesta ulang tahun atasannya. Dan, ia pun harus rela kehilangan ciuman pertamanya yang direbut paksa oleh Alex.
Namun, karena ini ajakan dari Candra. Si kakak kelas idolanya. Ia pun tidak bisa menolaknya. Jari-jarinya langsung menekan huruf-huruf pada keypadnya, sehingga membentuk kalimat yang akan dikirimkan kepada Candra.
'Maaf kak aku baru membalas pesan kakak. Kalau pesan itu masih berlaku aku menerima ajakan kakak dengan senang hati.'
Beberapa menit berlalu, Yuri yang masih berkutik pada ponselnya. Ia masih berkutik pada aplikasi chating diponselnya. Yuri menggulir kembali layar ponselnya ke atas. Matanya kembali membelalak, tertulis nama 'Bos rese' pada pesan chat diponselnya.
Ia pun menekan nama tersebut. Sudah ia duga, pesan yang memenuhi ponselnya adalah kiriman dari Alex. Bukan hanya pesan, namun terdapat beberapa panggilan dan juga video call.
"Dia memang sudah gila." Gerutu Yuri dalam hati.
Pasalnya, bagaimana mungkin seorang atasan memberi pesan chat sebanyak ini, bahkan dengan gilanya menelpon dan juga melakukan video call, padahal Yuri kan karyawan Alex. Bahkan, pada saat ia masih kuliah pun. Seberapa pun penting urusan Dosennya Yuri dengannya. Dosennya bahkan tidak pernah sampai nge'video call Yuri.
Beberapa menit setelah menggulir layar ponselnya, ke atas dan ke bawah. Masih didalam chat dari Alex. Ia membaca semua pesan yang Alex kirimkan kepadanya. Semua pesan yang Alex berikan, hanya berisi kecemasannya karena tidak datang ke pesta kemarin tepat waktu.
Yuri yang bosan membaca pesan Alex pun menutup pesan dari Alex, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bahkan, ia megutuk semua perbuatan Alex kemarin. Dan, menyesal kenapa ia harus pergi ke pesta tersebut.
Sebuah notif chat pun kembali didapatkan Yuri. Tertulis nama 'Kak Candra'. Dengan segera, Yuri membuka pesan dari mantan kakak kelasnya itu.
Yuri pun tersenyum tipis. Sebuah notif chat, lagi lagi masuk ke ponsel Yuri.
'Aku juga akan membawa teman dan pacarku. Jadi, kita akan pergi bersama-sama.' Candra memberi pesan tambahan kepada Yuri.
Yuri hanya bisa mengerutkan dahinya. Ia nampak malas, namun ia juga harus menghargai ajakan dari kakaknya itu.
Alex hanya mengernyitkan dahinya melihat ekspresi Yuri yang begitu tiba-tiba. Ia juga memicingkan sebelah matanya, karena heran dengan gadis di sebelahnya ini.
/---^~^---
Langit yang panas karena terik matahari, kini telah berganti dengan indahnya langin berwarna jingga. Matahari pun sudah berada di ufuk barat, yang akan terbenam sebentar lagi.
Waktu telah menunjukkan pukul 6.15 sore. Yuri telah berada di taman bermain. Yuri yang sudah sampai 12 menit yang lalu. Dan tentunya selama 12 menit itu, ia menunggu Candra di Air mancur. Yuri menoleh ke kanan dan ke kiri. Sesekali, ia melihat ponselnya. Berharap notif chat dari Candra masuk ke ponselnya.
__ADS_1
Yuri sangat berbeda sore ini. Ia mengenakan pakaian santai dengan flat shoesnya. Ia juga menggerai rambutnya dengan sentuhan jepit bintang untuk mempercantik rambutnya.
Nihil, tidak ada sama sekali tanda-tanda kemunculan Candra. Yuri pun memutuskan bermain air di kolam air mancur itu. Untuk menghilangkan rasa bosannya karena menunggu Candra. Diambilnya air kolam itu, lalu dilemparkannya ke arah air mancur. Sungguh seperti anak kecil bukan?
Sungguh asik Yuri bermain air kolam itu. Tanpa ia sadari, ada beberapa pasang mata yang melihatnya. Beberapa orang dibelakang Yuri pun menghampirinya. Pundak Yuri ditepuknya beberapa kali oleh orang itu.
Yuri terkejut, membuatnya langsung membalikkan badannya dan melemparkan air kolam yang memenuhi tangannya. Orang yang menepuk Yuri pun memejamkan matanya, karena kemasukan air dan wajah orang itu penuh akan air kolam yang dilemparkan oleh Yuri.
Yuri membelalakkan matanya dan menutup mulutnya yang menganga. Ia sangat terkejut. Orang yang ia siram adalah Candra. Bukan hanya Yuri saja yang terkejut, namun 2 orang yang bersama Candra juga tidak kalah terkejutnya.
"Apa yang kamu lakukan YURI." Ucap Candra dengan penuh penekanan, menahan emosi karena ulah Yuri.
Rahang Yuri mengeras, matanya masih membelalak. Dengan cepat, Yuri mengambil tisu di dalam tas selempang kecil yang ia bawa.
"I..ini kak maafkan aku." Sahut Yuri dengan gelagapan. Rasanya, saat ini Yuri ingin menghilang saja dari hadapan Candra.
Candra pun mengambil tisu yang Yuri sodorkan kepadanya, setelah ia mengelap terlebih dahulu wajahnya yang basah menggunakan tangannya sendiri.
"Kamu tidak kenapa-kenapa kan." Ucap seorang gadis yang berada disamping Candra. Gadis itu nampak menahan tawanya.
Yuri melirik gadis yang berada di samping Candra, sepertinya dia pacarnya Candra. Sedangkan, Candra menarik nafas panjang, lalu menghembuskan dengan pelan.
"Aku tidak apa-apa yank." Ucap Candra sembari mengelap wajahnya kembali menggunakan tisu yang diberikan oleh Yuri.
"Hahaha, nasibmu sial hari ini bro." Ucap seseorang yang beradi dibalik punggung Candra. Orang itu tertawa terbahak-bahak, sambil menepuk pundak Candra sekuat tenaga. Dan Candra, ia nampak melirik orang itu dengan tatapan kesalnya. Dengan wajah masam yang ditunjukkan Candra dengan sangat jelas.
Yuri tidak bisa melihatnya, karena minimnya penerangan, terlebih lagi orang itu berada di belakang Candra yang tubuhnya cukup tinggi. Yuri saja, harus mendogak sedikit untuk bertatapan dengan Candra. Yang jelas, Yuri mendengar suara pria. Ya, sudah pasti teman yang Candra ajak adalah seorang pria.
Pria itu pun melangkah kesamping Candra. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum kepada Yuri.
"Hai, gadis kecilku. Lama tidak bertemu." Ucap pria itu.
Yuri membelalakkan matanya, dan kembali menutup mulutnya karena menganga. Ia tidak percaya. Dia bertemu dengan orang itu sekali lagi.
__ADS_1
"Oh my god." Batin Yuri dalam hati.