
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Yuri, Ciko, Candra, dan juga kekasih Candra memutuskan untuk mengakhiri malam di taman bermain dengan bermain komedi putar. Ya, walau sudah pada dewasa, namun kelakuan mereka masih seperti anak-anak. Dilihat dari ekspresi lucu mereka saat menunggangi berbagai patung hewan dipermainan komedi putar itu.
Yuri sudah tidak merasa canggung lagi dengan mereka. Bahkan ia yang merekomendasikan kepada mereka untuk menaiki komedi putar tersebut. Walau Candra awalnya terlihat menolak karena gengsi dengan ajakan darinya. Namun, dengan sedikit paksaan, dan juga rayuan dari Ciko dan kekasihnya, ia pun menuruti kemauan mereka. Akan tetapi, ia yang paling heboh pada saat menaiki komedi putar tersebut, layaknya anak kecil yang baru diperbolehkan bermain oleh ibunya. Setelah selesai bermain, mereka berkeliling di taman bermain untuk melihat-lihat.
"Berhenti kalian semua!!" ucap Yuri, yang berhenti tiba-tiba.
Mereka bertiga pun berhenti secara tiba-tiba mengikuti arahan Yuri. Lalu, dengan kompak mereka menatap Yuri yang telah berdiam diri ditempat lebih dahulu.
"Kamu kenapa, dik?" tanya Candra.
"Ini sudah larut malam, apa kalian yakin mau melanjutkan bermain?" tanya Yuri dengan mengambil ponsel miliknya, untuk melihat jam di ponselnya.
"Ah, iya bisa-bisa besok aku telat," ucap Candra.
"Hhm oke!! Besok kita lanjutin mainnya. Sekarang kita pulang dulu," Ciko melanjutkan perkataan Candra.
Sesampainya di parkiran motor mereka berpisah. Candra dan kekasihnya pergi duluan untuk membeli jagung bakar didepan. Sedangkan Yuri dan Ciko masih berjalan sembari menuju ke motor mereka masing-masing.
"Kamu masih menggunakan liontin itu?" Melirik sekilas liontin Yuri.
"Iya" jawab Yuri singkat.
"Ternyata sahabatku ini masih sama ya! Kamu masih mengharapkan dia datang. Ingat Yuri, jangan sampai kamu mengingatnya terlalu jauh, atau kamu akan masuk kedalam kesedihan yang lebih dalam lagi," Ciko tersenyum tipis.
Ciko melepas jaketnya lalu memakaikan jaketnya di pundak Yuri.
"Dari dulu kamu tidak berubah ya," ucap Yuri tersenyum kepada Ciko.
"Kamu juga tidak pernah berubah, selalu saja tidak membawa jaket kalau bepergian," ucap Ciko sambil mengelus kepala Yuri dengan lembut.
"Maaf," Yuri melontarkan senyum yang dibuat-buat.
"Aku yang seharusnya minta maaf," ucap Ciko dengan nada penuh penyesalan.
"Sudah, jangan diteruskan. Itu tidak ada hubungannya denganmu, yang penting sekarang kamu sudah berada di sisiku lagi," Yuri tersenyum sekali lagi kepada Ciko. Lalu, dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi terkejut.
"Gawat!! Kenapa aku berbicara seperti itu? Dia pasti datang ke Indonesia hanya untuk liburan."
Melihat ekspresi Yuri yang tiba-tiba berubah. Ia tersadar akan ucapannya yang seharusnya tidak ia ucapkan. Ciko pun mengerti apa yang Yuri pikirkan tentangnya.
"Tenanglah. Aku disini cukup lama Yuri, aku akan menjagamu sampai kamu menemukannya. Disini juga aku tidak nganggur, aku mengurus perusahaan ayahku. Kebetulan perusahaan itu dekat dengan perusahaan Destiny Grup tempatmu bekerja," ucap Ciko.
Yuri pun menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Lalu, menoleh Ciko yang berada satu langkah di depannya.
__ADS_1
"Apa kamu serius? Itu artinya aku ada teman disini selain kak Cindy?" Dengan antusiasnya Yuri bertanya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya itu.
"Kak Cindy?" tanya Ciko sembari menoleh ke belakang.
"Iya. Kak Cindy! Dia kakak tingkatku di kampus. Dia orangnya baik, ramah, pekerja keras dan cantik," ucap Yuri dengan antusias.
Ciko menganggukkan kepalanya. Yuri pun menyamakan langkahnya kembali dengan Ciko hingga sampai menemukan motor mereka masing-masing.
(Di tempat lain)
Alex menarik nafas sangat panjang, menenangkan pikirannya yang terus dipenuhi tanda tanya.
"Siapa yang memberikan liontin itu? Apa yang membuatnya sedih selain ibunya?"
Dan yang bikin Alex lebih kesal, kenapa Yuri sangat senang Ciko tinggal disini? Terlebih lagi ia akan mengurus perusahaan milik ayahnya dekat dengan Destyni Grup, perusahaan miliknya. Ia tidak akan bisa membiarkannya begitu saja apa lagi melihat Yuri dengan laki-laki lain.
Semua pertanyaan dan kekhawatirannya membuat Alex akan segera menjadi pria gila karena cintanya yang bodoh itu. Apa yang akan Alex lakukan setelah ini? Entah, hanya ia yang mengetahuinya.
****
(Keesokan harinya)
(Di ruang kerja Alex)
"Dia selalu bekerja dengan sangat keras," batin Alex.
Drrrtt...drrtt!!
Ponsel Yuri pun berdering. Dengan segera ia mengambil ponselnya disamping komputer.
"Hai chingu, nanti kita makan siang bareng yuk!" Begitu isi pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
"Chingu? Itu bahasa korea kan?" Pikir Yuri
"Ini siapa?" Jari-jari Yuri dengan lincah menari-nari diatas keypad ponselnya. Lalu, mengirim pesan yang sudah ia ketik tadi.
"Sudahku duga! Kamu tidak menyimpan nomorku, dan kamu tidak ada inisiatif bertukar nomor ponsel denganku? Teganya kamu," begitu isi pesan dari orang yang tidak dikenal itu mendramatisir.
Yuri yang membaca pesan tersebut mengernyit, mencari tahu siapa orang itu. Lalu, terlintas satu nama dibenaknya 'Ciko'. Mengingat ia adalah mahasiswa dari Universitas Yonsei University, Korea Selatan.
"Ini Ciko kan? Tidak heran kamu menggunakan bahasa korea untuk menyapaku," balasan pesan Yuri untuk Ciko.
"Haha... Iya ini aku Ciko! Aku pikir kamu tidak mengetahuinya. Baru mau aku jahili," Yuri yang membaca pun langsung tertawa kecil.
__ADS_1
"Nanti makan siang denganku Ya! Ups, tidak ada penolakan! Ini perintah dari orang ganteng," jawab Ciko.
Yuri semakin tidak bisa menahan tawanya kegelian. Ia pun langsung menyetujui ajakan dari sahabat karibnya itu.
Sehingga ia tidak menyadari atasannya yang duduk sebelahannya yang hanya beda meja itu memperhatikannya dari tadi. Tentu, dengan tatapan sinisnya karena cemburu dengan orang yang ia ajak chatingan. Bahkan, ia meninggalkan pekerjaannya itu hanya untuk berbalas pesan dengan orang itu.
Terlintas dua nama yang bisa membuat Yuri tersenyum manis seperti ini. Kalau bukan Candra pasti Ciko. Hati Alex sudah dibakar api cemburu. Kemungkinan, sebentar lagi akan ada seseorang yang akan dipecat atau perusahaan bangkrut karena Hatinya yang sudah buta akan cinta.
Alex manarik nafas sangat panjang, ia menjernihkan kembali pikirannya dan menenangkan hatinya yang cemburu.
"Yuri. Besok kita sudah berangkat ke luar kota!"
Yuri terkejut mendengar ucapan Alex. Matanya membelalak menoleh ke hadapan Alex, lalu menutup ponselnya dengan kasar. Kini, tidak ada rasa canggung lagi. Dibenaknya hanya ada rasa heran, kecewa dan khawatir.
"Besok? Aku pikir beberapa hari lagi kita akan berangkat!" wajah Yuri terus cemberut, mengungkapkan rasa kecewanya secara tidak langsung.
Bahkan setelah Alex menganggukkan dan membenarkan perkataannya pun, Yuri tidak bergeming dan terus memasang muka masamnya.
Selama ia bekerja, Yuri tidak berbicara kembali dengan Alex sampai akhirnya jam istirahat tiba. Namun, Yuri langsung pergi meninggalkan ruangan begitu saja tanpa permisi atau meminta izin terlebih dahulu kepada Alex.
Alex tersenyum puas. Memang, rapat diluar kota lagi beberapa hari. Namun, ini satu-satunya alasan yang dapat ia katakan kepada Yuri agar ia dapat terus bersama Yuri, tanpa gangguan dari kedua orang itu. Siapa lagi kalau bukan Candra dan Ciko. Para pria pengganggu yang selalu bikin Yuri tersenyum. Sungguh rencana gila yang hanya bisa dibuat oleh Alex.
Alex tidak akan rela, gadisnya dibuat tersenyum oleh pria manapun kecuali dia sendiri yang harus membuatnya tersenyum. Apalagi pria lain membuat gadisnya menangis. Bisa-bisa pria itu akan dibuat menyesal karena perbuatannya sendiri.
****
(Di kantin perusahaan)
Di meja makan, Yuri duduk termenung dengan membolak-balikkan makanan di mejanya. Ia tidak selera makan, karena terus menerus memikirkan dirinya sendiri. Bisa-bisanya Alex menyuruh ia pergi keluar kota secepat itu. Terlebih lagi, hanya mereka berdua. Ia tidak bisa membayangkannya sama sekali.
Bagaimana kalau di hotel tempatnya akan menginap hanya ada satu kamar saja? Sama seperti yang ia baca di novel ataupun di film-film. Pikiran Yuri sudah kemana-mana, hingga ia tidak menyadari ada seorang pria telah duduk di hadapannya.
Brak..!!
"Hai manis melamun aja! Nanti jodohnya kabur lo," ucap Ciko menggoda Yuri yang sedang melamun sembari memukul meja dengan keras, agar Yuri tersadar dari lamunannya.
"Adeeh, mulai deh jahilnya," Yuri tersadar lalu melemparkan senyuman manis yang dipaksakan.
"Senyum itu yang ikhlas dong! Nanti pemilik liontin enggak balik-balik baru tau rasa," sekali lagi Ciko menggoda Yuri dengan tersenyum jahil.
"Apaan sih, dia pasti akan kembali. Aku yakin!" Ucap Yuri dengan memegangi liontin yang melingkar di lehernya.
Yuri dan Ciko pun bersenda gurau disela makan siang mereka. Tanpa mereka sadari ada banyak pasang mata melirik ke arah mereka. Walaupun mereka sadar pun mereka tidak akan memperdulikan orang-orang itu. Sifat mereka hampir mirip, mereka tidak pernah memperdulikan orang lain yang mereka tidak kenal. Walaupun berbicara buruk sekali pun.
__ADS_1