
Alex yang telah ditelepon oleh Jordan pun langsung menuju lokasi, ia membanting stir kemudinya berbelok melawan arah menuju lokasi dimana Yuri berada.
Alex melaju sangat kencang, walau pikirannya sudah lega karena Yuri sudah di zona yang aman namun hati Alex masih gelisah, ia akan benar-benar tenang setelah melihat Yuri dengan mata kepalanya sendiri.
Sesampainya Alex di kost milik Cindy, ia sudah disambut oleh Jordan yang terus mengamati Yuri dari tadi. Yuri yang masih berbincang-bincang dengan girangnya bersama Cindy, walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 2.25 pagi, mereka bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang diawasi.
Jordan menundukkan kepalanya memberi hormat kepada tuan mudanya
"dimana dia?" tanya Alex tanpa basa-basi
"nona sedang berbincang-bincang bersama temannya bernama Cindy tuan" Jordan menunjuk ke arah halaman sebuah rumah di depan pintu-pintu kamar kost yang berjajar.
Tanpa membuang-buang waktu Alex segera menghampiri rumah tersebut, dibukanya pintu gerbang rumah itu dengan kasar, sontak membuat kedua gadis itu terkejut saking ributnya suara gerbang itu, mereka berdua terdiam dan berdiri dari duduk manis mereka secara bersamaan karena ternyata yang membuka gerbang dengan kasar yaitu atasan dari Yuri yaitu Alex.
Alex segera masuk dan berlari ke arah Cindy dan juga Yuri, Alex langsung memeluk Yuri tanpa aba-aba, Yuri yang tadinya hanya ternganga sekarang mereka berdua melototkan matanya saking kagetnya. Cindy pun menutup mulutnya yang ternganga tidak percaya dengan momen langka dan mengejutkan ini.
Beberapa detik Alex mengeratkan pelukannya membuat Yuri tersadar dan mengangkat suaranya
"Tu..tuan aku tidak bisa bernafas" sahut Yuri dengan terbata-bata.
Mendengar perkataan Yuri membuat telinga Alex tercengang, ia melepas pelukannya dan mulai mencengkram lengan Yuri.
"ah..apa kamu bilang tadi?
tuan?" tanya Alex yang menaikkan sebelah alisnya pertanda tak mempercayai ucapannya Yuri.
Yuri hanya mengkerutkan keningnya dan beberapa saat ia mengangguk pelan, ia nampak seperti orang kikuk.
"kenapa kau memanggilku tuan?" protes Alex kepada Yuri dengan melemparkan senyuman hangatnya sambil menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Yuri.
deg!!
__ADS_1
deg!!
jantung Yuri semakin merdegup sangat kencang, pikirannya kembali teralihkan ke kejadian tadi yang sangat memalukan.
Setelah beberapa menit ia ditatap oleh Alex, Yuri merasa risih dan langsung mendorong dengan sangat kencang sehingga Alex yang lengah terdorong ke belakang dan melepas cengkramannya.
"kamu bilang aku harus memanggilmu tuan muda" Yuri melirik ke arah Cindy
Cindy masih terpaku diam dengan mulut tertutup, tanpa disadari terdapat seorang pria berdiri disampingnya yaitu Jordan, ia berdiri dengan memasukkan kedua tangannya di dalam kantong celana panjang berwarna hitam yang ia kenakan.
"ooh jadi karena ada dia kamu memanggilku tuan" Alex tersenyum sinis sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal, sekali lagi Yuri mengangguk membenarkan semua ucapan Alex.
"hhhm baiklah terserah kamu saja, tapi kenapa kamu kesini kamu tau betapa khawatirnya aku" ucap Alex dengan tatapan serius dengan kembali mendekati Yuri, namun Yuri langsung melangkah mundur. Alex menyadari sikap dari Yuri dan berhenti mendekati Yuri.
"kau,,,hhm kamu tidak perlu khawatirkan aku, aku sudah menjadi gadis yang dewasa, buat apa kamu khawatir sama aku" sahut Yuri dengan nada tinggi, ia berhasil mengumpulkan keberaniannya berbicara dan membuang jauh-jauh semua pikirannya yang kotor itu.
"kumat lagi dia" ucap Alex dalam hati
"baiklah, sekarang aku tanya kenapa kamu tidak pulang ke rumah kakakmu?" tanya Alex kembali
Yuri melototi Cindy dan menggigit bibirnya yang dibawahsambil mengedip-ngedipkan matanya, seperti sebuah isyarat kepada Cindy.
"ups sorry" Cindy kembali menutup mulutnya dengan kedua tangannya, membuat Jordan melirik sambil menggelengkan kepalanya dengan tingkah Cindy, Jordan pun sempat berdecak.
"arrghh sudahlah itu bukan urusanmu sekarang kamu harus pergi dari sini, kalau tidak aku akan berteriak bahwa kamu itu maling" ketus Yuri dengan nada lebih meninggi lagi.
Alex hanya bisa tertawa mendengar suara Yuri yang cempreng itu, membuat Yuri semakin kesal.
"jadi kamu mau main-main denganku, Oke"
Yuri menarik nafas dalam-dalam, agar ia bisa berteriak sekencang-kencangnya, Alex membulatkan matanya lalu dengan cepat ia mendekati Yuri lalu menutup mulut Yuri dengan tangannya dengan sangat rapat, sehingga Yuri tidak bisa teriak.
__ADS_1
"sssttt diam kamubakan membangunkan tetangga yang sedang bermimpi indah" Alex menempelkan jari telunjuknya ke mulutnya.
Yuri berusaha keras dengan sekuat tenaganya melepaskan bekapan dari Alex, namun tangan Alex yang besar tidak bisa dilepas begitu saja. Alex hanya tersenyum sinis, ia meremehkan kemampuan Yuri.
Setelah tenaganya Yuri habis, akhirnya Yuri pun memilih untuk mengalah, ia akhirnya menganggukkan kepalanya dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya sehingga membentuk huruf V, pertanda ia berjanji tidak akan teriak.
"kamu mau membunuhku" ucap Yuri dengan nafas yang tidak beraturan.
"sudah hampir pagi, kamu harus kerja jam setengah sembilan bukan?
tidurlah, aku tidak mau kamu telah, dan satu hal lagi jangan pernah tinggalkan ponselmu di rumah dan jangan biarkan ponselmu mati oke" Ucap Alex sambil mengedipkan sebelah matanya ke Yuri, ia pun berjalan menuju mobil disusul oleh Jordan bodyguard Alex yang setia.
"oh iya ada satu hal lagi yang lebih penting, kalau aku meneleponmu segera angkat, jangan kamu abaikan telepon dari atasanmu yang tampan ini" ucap Alex dengan percaya dirinya, membuat Yuri memutar bola matanya malas, sedangkan Cindy menopang dagunya dengan kedua tangannya lalu tersenyum kagum akan ketampanan Alex.
Yuri dan Cindy pun mengantar kedua pria tersebut sampai di depan gerbang, sebelum pergi Alex menitip pesan kepada Yuri bahwa jangan mengulangi kesalahan yang bisa saja berdampak buruk padanya sendiri. Yuri yang mendengarnya hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Setelah mobil itu pergi menjauh, Yuri pun melampiaskan kekesalannya dengan mengguncang-guncangkan tubuh Cindy.
"aargh aku kira besok hari libur, kenapa bos rese itu tidak membiarkan aku libur sehari saja sih" Yuri masih sangat kesal, namun orang disebelahnya jauh lebih kesal darinya.
"hei anak muda, kamu pikir cari kerja itu gampang? masih untung kamu dapat pekerjaan yang baik dan tentunya dapat liat pria tampan itu setiap hari" Cindy tersenyum genit, dengan apa yang ia ucapkan tadi, membuat Yuri kembali memutar bola matanya malas.
"tampan sih, tapii dia itu homo tau" bisik Yuri kepada Cindy
"ha yang benar?" Cindy membulatkan matanya tidak percaya
Yuri hanya mengangguk dengan senyum jahilnya, Cindy masih menatap dengan lekat ke arah Yuri dengan mengerutkan keningnya beberapa menit.
"Sudahlah, ayo kita tidur jam setengah sembilan pagi aku sudah harus di kantor" Yuri menarik lengan Cindy ke kamar, Cindy menuruti tanpa berbicara. ia masih berpikir keras apakah Alex yang kaya raya dan tampan itu memang benar-benar suka sama sejenis.
Sedangkan Yuri tersenyum licik, melihat Cindy yang masih kebingungan. Sesampainya di kamar Yuri tidur dengan Cindy di atas kasur.
__ADS_1
Karena Cindy akan tinggal beberapa bulan di Ibu Kota karena masalah pekerjaannya, Cindy pun memiliki tempat ke-dua untuk ia kunjungi selain rumah kakaknya.
"hari yang melelahkan, kenapa Alex khawatir sama aku dan apa yang ia bilang dia suka sama aku? apa aku tidak salah dengar?" Yuri yang tidak mau ambil pusing pun menggelengkan kepalanya beberapa kali, lalu tidur dengan lelapnya menyusul Cindy yang sudah terlelap di sampingnya tanpa berbicara apapun kepadanya.