
Gedung mewah yang menjadi tempat acara ulang tahun Alex sudah siap, ruangan dalam gedung itu sudah dihiasi oleh pernak-pernik yang cantik nan mewah. Cat dinding berwarna putih dihiasi dengan balon berwarna emas disetiap jengkal dinding menambah kesan meriah di ruangan tersebut.
Bukan hanya itu para undangan yang baru memasuki ruangan akan disuguhkan pemandangan balon yang dijajarkan dengan rapi hingga membentuk kalimat 'Happy Birthday Alex ke-26' telah ditempel di dinding di belakang panggung, meja-meja bundar dan terdapat 4 buah kursi untuk para undangan disetiap meja yang sudah tertata rapi, bahkan kue ulang tahun bertumpuk dua yang bertuliskan 'CEO Alex Permana ke-26'.
Nampak seperti pesta ulang tahun anak remaja 17 tahun. Ya benar saja, tangan terampil dan otak cerdas adik remaja Alex lah yang membuat konsep dekorasi seperti ini, saking cerdasnya mungkin Alex yang melihat ini akan sedikit malu nanti di hadapan para undangan.
Pukul 18.00 Alex ke gedung tempat acara ulang tahunnya dilaksanakan, ia melangkah dengan sangat cepat disusul oleh bodyguarnya di belakang, alangkah terkejutnya ia melihat dekorasi ruangan yang nampak meriah, dengan tatapannya yang datar sedangkan bodyguardnya yang berdiri di belakang sudah menggelengkan kepalanya sambil memijit dahinya, ia nampak tidak percaya, pasalnya dengan usianya yang bisa dikatakan tidak remaja lagi bisa-bisanya sang adik mendekorasi ruangan seperti itu.
Nampak seorang gadis yang turun dari panggung kecil yang sudah tersedia di ruangan tersebut, ia nampak berlari-lari kecil dengan riangnya.
"Hati-hati nanti jatuh!" Kata Alex khawatir terhadap tingkah adiknya satu ini.
Alida tak acuh dengan perkataan kakaknya, ia terus berlari kecil lalu memeluk Alex dengan sangat erat beberapa detik, lalu mendongakkan kepalanya ke arah Alex.
"Happy Birthday kak, bagaimana dekorasinya kakak suka?" ucap Alida sembari menunjuk ke arah panggung
"Kekanak-kanakan," Alex menaikkan satu alisnya sambil tersenyum sinis
"Bagus, adiknya kakak memang sangat pintar mendekorasi," Alex tersenyum manis dengan tangan kanannya mengelus rambut Alida dengan lembut
"Anda angat pandai berakting tuan, harusnya anda diberi penghargaan sebagai aktor berbakat saat ini," batin Jordan dengan menutup mulutnya dengan satu tangannya karena tersenyum menahan tawa.
Kini sudah menunjukkan pukul 19.15 para undangan sudah berdatangan, Alex yang sudah berganti pakaian dengan menggunakan kemeja santai pres body berwarna ungu muda dibalut dengan jas berwarna hitam. Ia terlihat gagah dimata para undangan ditambah lagi dengan model rambut undercut menambah kesan menawan pada dirinya.
Alida menggunakan cocktail dress berwarna merah marun sederhana namun nampak elegan, dengan rambut terurainya yang di kerli membuat gadis remaja itu nampak sangat cantik. Sedangkan sang Ayah David, mengenakan kemeja berwarna merah marun senada dengan putrinya dengan model rambut soft side parting.
Namun mereka nampak heran dengan Alex yang mengenakan pakaian berbeda padahal mereka berdua sudah menyiapkan pakaian yang sama agar mereka bertiga nampak serasi, terlebih lagi Alex yang terlihat cemas seperti menunggu seseorang di luar sana.
Sudah hampir sejam ia berdiri di depan pintu ruangan untuk menyambut tamu, acara pun sudah hampir dimulai membuat Ayahnya dan Alida menghampiri Alex. Ayahnya berbisik, agar Alex segera masuk kedalam ruangan karena acara akan segera dimulai.
Acara sudah dimulai, Alex nampak terus menatap pintu masuk, berharap seseorang muncul dari balik pintu dan tersenyum kepadanya. Namun, orang itu tidak kunjung tiba. Sudah berkali-kali Alex menelepon orang itu namun nihil tidak ada jawaban sama sekali, sepertinya ponsel orang itu mati.
.....
Pukul 17.00 Yuri sudah bergegas untuk pulang dari kerja, ia berjalan menuju parkir motor dekat kantor. Lalu, ponsel Yuri berbunyi, sebuah pesan chat masuk "Yuri, apa kamu sibuk sekarang?" begitu isi pesan dari Cindy.
"Tidak kak, aku baru pulang dari kantor dan sekarang aku mau pulang. Ada apa?" Yuri bertanya balik.
"Oke! sekarang tunggu aku di halte dekat kantormu ya! Kita akan jalan-jalan," seru Cindy
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang Yuri pun menyetujui ajakan dari kakak tingkatnya itu.
Mereka pun bertemu di tempat yang sudah disepakati tadi. Yuri dan Cindy sangat antusias untuk jalan-jalan berkeliling ibu kota. Mereka berdua nampak sangat bahagia, mereka seperti sepasang anak kembar walaupun tidak ada hubungan darah sama sekali. Namun, kegilaan mereka yang nampak sangat jelas pada saat bermain di taman bermain sudah membuktikan bahwa hubungan mereka sangatlah spesial, dan menurut mereka hubungan pertemanan sangatlah mahal harganya.
Hari sudah mulai petang, langit yang cerah sudah digantikan dengan gelapnya malam. Tidak terasa mereka berdua telah menghabiskan hari dengan bermain. waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, namun aneh, dari tadi Yuri merasakan sesuatu yang mengganjal dibenaknya. Sesekali ia nampak berpikir keras, seperti ada sesuatu yang ia lupakan namun nihil ia tidak dapat memecahkan teka-teki di benaknya.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri jalan-jalan mereka hari ini, tepat pukul 10 malam Yuri mengantarkan Cindy ke halte bus.
"Kakak yakin diantar sampai disini?" tanya Yuri.
"Tentu saja, ini sudah malam, kamu duluanlah pulang!" titah Cindy menghawatirkan adik tingkatnya itu.
"Aku antar pulang ya menggunakan motorku," Yuri menawarkan dirinya untuk mengantarkan Cindy pulang, namun Cindy enggan untuk menerima tawaran dari Yuri, Cindy pun hanya menggelengkan kepalanya bahwa ia menolak tawaran Yuri.
"Hhhm baiklah, aku akan pulang kalau bus yang kakak tumpangi sudah sampai disini," sahut Yuri sambil tersenyum.
Akhirnya bus yang akan dinaiki Cindy pun tiba, Yuri melambaikan tangannya kehadapan Cindy yang sudah duduk manis di kursi bus dekat jendela.
Setelah bus itu melaju dan menjauhi halte bus, Yuri pun mengendarai motornya ke arah berlawanan untuk pulang kerumah kakaknya. Diperjalanan ia kembali teringat akan sesuatu yang sepertinya sangat penting namun ia tidak mengetahui apa sesuatu yang sangat penting itu.
"Apa yang aku lupakan? Pekerjaan kantor sudah aku selesaikan, namun kenapa aku resah ya?" batin Yuri mencari tahu apa yang ia piikirkan
Setelah sampai di rumah Yuri mengecek ponselnya yang ternyata mati karna kehabisan daya, ia memasuki kamar untuk mengisi daya ponselnya lalu brergegas mandi, setelah selesai mandi Yuri melihat ada sebuah tas hitam bertuliskan 'Beauty Fashion' sebuah nama butik ternama di ibu kota itu.
"Shitt ahrgh!! Kenapa bisa lupa? Hari ini kan hari ulang tahun bos rese, ternyata itu yang mengganjal dipikiranku," Yuri memaki dirinya sendiri sambil menepuk jidatnya dengan sangat keras.
Tanpa banyak berpikir lagi Yuri langsung mengambil tas itu, lalu mengeluarkan barang yang ada di dalamnya, dikenakannya dress di dalam tas lengkap dengan aksesoris dan high heelnya, tidak lupa ia berdandan sedikit, setelah selesai berdandan ia menarik tas selempang kecil yang tersedia di atas meja kamarnya, namun ia melupakan ponselnya, lalu langsung bergegas untuk pergi ke tempat dimana acara itu berlangsung.
Karena sekarang malam minggu keadaan jalan ibu kota sangat ramai, ia pun terjebak macet selama sekitar 30 menit. Waktu telah menunjukkan pukul 11.29 malam, akhirnya Yuri sampai di tempat tujuan, ia memarkirkan motornya di parkiran, ia lalu berlari menuju ruangan di gedung tersebut.
"Semoga tidak terlambat, bodoh kenapa kau pikun sekali sih Ri?" umpatnya dengan nada tinggi.
Yuri membuka pintu ruangan itu. Ruangan itu sudah tidak ada orang lagi, hanya terdapat meja-meja yang masih berjajar rapi dengan bekas makanan dan minuman di atas meja. Yuri sangat kecewa dan ia takut untuk menemui Alex saat ini.
Yuri berjalan menuju salah satu meja yang tersedia, lalu duduk di kursi dekat meja itu, dengan muka masamnya ia membenturkan kepalanya pelan ke meja dekatnya duduk.
"Kau terlambat lagi, dasar bodoh!"
terdapat seorang laki-laki berjas berdiri di tangga panggung. Mendengar suara itu, Yuri pun menengok ke arah suara tadi. Ia melihat Alex yang berjalan menghampirinya.
__ADS_1
Yuri nampak kebingungan, apa yang harus ia katakan sekarang, Alex pun tiba dengan cepat dihadapanya. Yuri hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berdiri.
"Maaf," jawabnya dengan lesu.
Alex menarik nafas panjang, ia duduk di hadapan Yuri, Alex menatap Yuri yang menundukkan kepala dengan sangat lekat, lalu ia mengambil sekaleng bir beralkohol sedang yang tersedia di atas meja.
Ia meneguk bir itu dengan sangat cepat, sepertinya ia kesal degan Yuri karena sudah membuatnya menungu begitu lama.
"Kenapa kamu kesini? Kamu tahu ini sudah larut malam?" tanya Alex.
"Aku tidak tahu, yang aku tahu sekarang aku harus kesini," sahut Yuri masih di posisi yang sama.
"Sudah berapa kali aku bilang, kalau bicara dengan atasan tatap matanya," protes Alex.
Yuri pun memberanikan diri menatap mata Alex, entah itu tatapan rasa takut, menyesal atau rasa bersalah, hanya Yuri yang mengetahuinya.
Alex telah menghabiskan sekaleng bir itu, lalu ia mengambil kembali bir ke duanya, ia membuka bir itu sambil berjalan ke arah Yuri. Bola mata Yuri berjalan mengikuti Alex, hingga mereka pun berhadapan secara langsung tanpa adanya pembatas.
Alex yang meneguk bir seperti orang yang kehausan, membuat Yuri menghentikan tingkah Alex, dengan mengambil kaleng bir itu dengan paksa dari Alex
"Sudah cukup minumnya, kalau mabuk bagaimana kamu akan mengemudi?" ucap Yuri.
"Apa urusanmu? Kenapa kamu telat? Kamu tahu betapa kecewanya aku sekarang?" ucap Alex dengan nada yang tenang.
Alex meggenggam pergelangan Yuri lalu menyeretnya ke sebuah sofa panjang dekat ruangan itu, mereka pun duduk. Yuri yang sudah kehabisan kata-kata hanya terdiam, ia mengetahui bahwa ia salah.
"Aku kecewa, sangat kecewa," sambil menatap Yuri. Kini, mata mereka saling bertemu, tangan Alex merebut kembali bir yang dibawa oleh Yuri namun Yuri berhasil mengelak dan mempertahankan bir itu di tangannya.
"Jangan! Kamu akan mabuk setelah meminum ini," ucap Yuri khawatir.
Alex hanya tersenyum sinis, Alex pun mulai mendekatkan tubuhnya ke Yuri lalu mencium bibirnya yang merona secara tiba-tiba.
Kini badan Alex menempel dengan tubuh Yuri membuat Yuri ambruk di sofa, mata Yuri terbelalak namun ciuman Alex terlalu dalam membuat sedikit demi sedikit Yuri memejamkan matanya.
"Hangat, nyaman dan wangi," begitu pikir Yuri.
Setelah beberapa detik mereka berciuman, mereka pun mulai membuka mata
"Itu hukumanmu karna sering terlambat dan selalu berbohong padaku," ucap Alex.
__ADS_1
Masih di posisi yang sama, Yuri dibawah dan Alex diatas, Yuri nampak mematung, tidak berbicara sepatah kata pun.
"Jantungku hampir mau lepas,. Apa yang aku lakukan? Aku menerima ciumannya dengan sukarela? Aku pasti sudah gila," batin Yuri.