
Alex yang masih menindih Yuri pun akhirnya bangun, karena sudah merasa cukup memberikan hukuman kepada Yuri, bukan hanya itu ia sepertinya menyadari bahwa Yuri sudah kehabisan nafas karena berciuman dengannya.
Akhrinya mereka kembaki duduk, namun ada beberapa Yuri menjaga jaraknya kepada Alex. Kaleng bir yang ia pegang tanpa disadarinya jatih ke lantai hingga tumpah, tas selempangnya pun jatuh dan sudah basah karena tumpahan bir tadi.
Yuri mengambil tas yang sudah basah kuyup, lalu merogoh isi tas itu. Ia pun mengambil kotak kecil persegi dengan hiasan pita berwarna ungu muda, tentu saja itu warna favoritnya karena ia tidak mengetahui warna favorit dari atasannya itu.
"i..ini untukmu" ucap Yuri sambil terbata-bata
Alex pun membuka isi dari kotak mungil tersebut, sebelum membuka ia memutar-mutar kotak itu.
"apa ini?" tanya Alex sambil memegang isi dari kotak hadiah yang Yuri berikan
"ini hiasan ponsel" jawab Yuri singkat
"aku memanglah memiliki uang, namun sayang uangku sudah aku tabung dan aku malas mengambilnya, jadi aku membelikan hadiah yang murah saja, menyesuaikan isi dompetku" Yuri mengernyit dengan muka masamnya.
Alex yang melihatnya, hanya bisa tertawa sinis lalu mengelus rambut Yuri gemas.
"tidak apa, kau sudah memberikan hadiah yang paling berkesan dalam hidupku" Alex tersenyum malu, hingga bisa dilihat mukanya yang merah padam sekarang.
Yuri pun sama merahnya tak mau kalah dengan Alex, mreka berdua sudah seperti kepiting rebus yang siap disantap sekarang.
"itu jangan kamu ulangi lagi" ucap Yuri dengan nada pelan sambil menundukkan kepalanya karena malunya bukan kepalang.
"kenapa, kau tidak menyukainya?" Alex bertanya balik dengan kesal
mendengar ucapan Alex membuat Yuri naik pitam,
"hei apa kamu tidak sadar itu ciuman pertamaku, dan jangan pikir ciumanku adalah sebuah hadiah, itu...itu sangatlah memalukan" emosinya kembali mereda setelah menatap Alex, lebih tepatnya pandangannya tertuju pada bibir Alex yang merona.
"Yuri kau gila" gerutu Yuri
__ADS_1
Yuri mulai menundukkan kepalanya kembali, karena pipinya saat ini terasa sangat panas dan mungkin saja pipinya kembali memerah karena malu, namun hatinya masih kesal, karena Alex telah mengambil ciuman pertamanya, yang seharusnya ia kasih untuk sang pujaan hatinya kelak nanti, dan itupun kalau ia berminat untuk melakukannya.
Alex hanya tertawa "itu ciuman pertamamu? jadi benar yang dikatakan Jordan, kamu itu jomblo akut" ucapnya merendahkan Yuri
Yuri hanya bisa memainkan jari-jarinya dengan kasar, sambil mengumpat Alex dalam hati.
"baiklah, hadiahmu aku terima, ini adalah hadiah kedua darimu yang sangat istimewa, aku akan menempelkannya pada ponselku agar aku selalu ingat kepadamu" ucap Alex kembali
Kata-kata yang dilontarkan oleh Alex membuat Yuri merasa lebih malu lagi dan pipinya sudah sangat panas dan merah, samapi-sampai ia akan pingsan sekarang juga karena saking malunya.
Setelah selesai berbincang-bincang Yuri segera beranjak dari tempat duduknya, tapi seperti biasanya Alex menarik lengan Yuri hingga kembali duduk tepat disampinya.
Wajah Yuri sudah sangat-sangat merah, ekspresi Yuri yang membeku secara tiba-tiba nampak seperti mengatakan sesuatu 'jangan ulangi lagi hal yang memalukan itu' namun tidak keluar dari mulutnya.
Wajah Alex mendekati wajah Yuri, Yuri hanya terbelalak tanpa suara. wajah mereka semakin dekat membuat mata Yuri yang terbuka lebar seketika menutup matanya dengan cepat.
"aku mencintaimu Yuri Anastasia" bisik Alex di telinga Alex.
Kini jantung mereka terdengar sangat kencang, seperti sedang berlomba-lomba ingin keluar.
Setelah mengucapkan kata-kata yang memang seharusnya diucapkan dari dulu, membuat Alex merasa lega dan tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Yuri.
"kau..kau tidak usah menjawabnya sekarang, pikirkan dan pertimbangkan terlebih dahulu" Alex kembali berbisik.
Suara yang sangat lembut dan merdu di telinga Yuri, membuat Yuri diam seribu bahasa, dan setelah Alex menjauh dari wajah Yuri, Yuri pun segera baranjak dari tempat duduknya
"su..sudah terlalu lama aku disini, dan aku tidak membawa ponsel sebaiknya aku harus pergi sekarang juga, permisi" Ucap Yuri dengan gelagapan dan segera pergi dari tempat itu.
Alex membiarkan Yuri pergi meninggalkannya sendirian di tempat sepi itu. Ia melihat punggung Yuri, perlahan demi perlahan gadis itu sudah pergi.
Namun ada sesuatu yang ditinggalkan oleh oleh gadis itu, sebuah liontin berbentuk daun, ia pernah melihat liontin ini.
__ADS_1
Ini adalah liontin kesayangannya Yuri, Alex menggenggam liontin itu dengan sangat erat, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju mobil.
Setelah sampai di mobil, Alex segera memutar stang kemudinya lalu melaju dengan kecepatan sedang.
Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia tega melihat gadisnya itu, menerobos kerasnya ibu kota, terlebih ini sudah malam. Suasana malam Ibubkota walau masih terlihat ramai, namun pada malam harilah para predator berkeliaran.
Alex mendengus dan mengacak-acak rambutnya, diambilnya ponsel dari saku celananya lalu dengan segera menelepon Jordan sang bodyguard kepercayaannya untuk segera memeriksa rumah Yuri.
Selang beberapa menit tak kunjung juga ada kabar dari Bodyguarnya, membuat ia semakin resah dan khawatir terhadap sekretaris kesayangannya itu.
30 menit berlalu, Alex semakin kesal dan memukul stir kemudinya berkali-kali, ia terus mengumpat, tak beberapa lama Jordan meneleponnya. Ia mengatakan motor Yuri tidak ada di rumah, itu pertanda bahwa Yuri belum sampai dirumah. Lalu dengan sigap Alex memerintahkan Alex untuk mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Yuri.
"kemana kau Yuri" Alex menyesali perbuatannya, untuk tidak menawarkan diri atau pun membuntuti Yuri pulang ke rumahnya dengan aman. Ia sibuk dengan perasaannya saat itu.
Lalu Alex mengambil kembali liontin milik Yuri, diciumnya liontin itu beberapa kali, lalu mobilnya kembali melaju sangat cepat.
Kemana perginya Yuri?
itu masih menjadi misteri bagi Alex dan Jordan, mereka sibuk mencari di setiap sudut kota tidak luout gang-gang kecil yang bisa dilewati oleh kendaraan roda dua.
Jordan akhirnya sampai disebuah gang kecil dan sepi, banyak penduduk yang kemungkinan sudah pada tidur dengan lelapnya saat ini, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Ia juga merasakan rasa kantuk yang teramat sangat sebenarnya, namun apalah dayanya yang harus mencari keberadaan sekretaris kesayangan tuan mudanya itu.
Jordan terus mencari Yuri disetiap celah, dan binggo sebuah motor berwarna hitam dengan plat kendaraan sama dengan plat kendaraan Yuri, ya benar sekali itu adalah kendaraan milik Yuri yang terparkir rapi dengan keadaan motor yang sudah dikunci stang, di luar dekat rumah, bukan lebih tepatnya itu seperti itu kos-kosan.
Jordan pun mengecek dengan hati-hati, memastikan bahwa Yuri memang berada di dalam rumah tersebut. Terdengar dari luar seperti beberapa gadis yang masih terjaga dengan cekikikan tertawa.
Ia menoleh dari gerbang, terdapat dua orang gadis di luar yang masih memanjakan diri dengan duduk melihat bintang beralaskan tikar, sambil menyeruput secangkir minuman hangat dan tidak lupa tubuh mereka dililit oleh selimut yang tebal, karena suasana pagi hari yang dingin.
Ia mengenal kedua gadis itu, yang satu adalah gadis yang ia cari yakni Yuri dan yang satu adalah pemilik tempat makan bernama Cindy.
__ADS_1
Setelah memastikan bahwa itu memang benar-benar gadis yang ia cari, Jordan pun menelepon tuan mudanya, dan memberikan alamat temptnya sekarang ini.