
Waktu terus berjalan, suasana kantor mulai riuh dengan suara-suara karyawan yang sedang berbincang-bincang, ataupun suara ketikan keyboard komputer maupun suara printer dari para karyawan yang sedang bekerja. Semua orang di perusahaan tersebut sangatlah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Begitu juga dengan dua orang yang berada di dalam ruang kerja yang sama. Yuri yang sedari tadi fokus ke keyboard dan juga komputernya, sedangkan Alex yang dari tadi mencoba untuk mengajak ngobrol Yuri namun terus menerus diabaikan oleh gadis itu. Akan tetapi, Alex tidak pantang menyerah, ia selalu mencari cara agar Yuri mau berbicara dengannya. Ia terus berbicara dan bertanya kepada Yuri, mulai dari makanan favoritnya, perasaannya bekerja diperusahaan milik ayahnya, sampai dengan bagaimana caranya memikat hati wanita, semua pertanyaan itu diabaikan begitu saja oleh sekretarisnya itu.
"apa lagi yang harus aku tanyakan, gadis satu ini kebal akan ocehanku, sampai-sampai dia terus mengabaikanku" Alex terus berpikir, agar Yuri mau berbicara dengannya
"sekretaris aku minta pendapatmu aku ini orangnya seperti apa sih?" Alex yang sudah kehabiaan topik pembicaraan, sehingga bicaranya sudah mulai ngawur kesana kemari, namun pertanyaan inilah yang akhirnya membuat Yuri menghentikan semua aktivitasnya dan mulai menoleh kehadapan bosnya itu, Yuri mulai mengambil nafas panjang dan beberapa saat ia menghembuskannya, setelah beberapa detik menatap Alex dan begitu pula dengan Alex, kesunyian beberapa menitpun berlalu dengan perkataan Yuri
"kamu terlalu banyak bicara, selalu tersenyum tidak jelas, selalu mengambil tindakan bodoh dan tentunya selalu menggangguku"
"dasar manusia aneh" tambah omongan Yuri dalam hati
"oohh" ucap Alex singkat
"tuh kan aneh, cih" gumam Yuri pelan
"kedengeran tahu" Alex melirik Yuri dengan tatapan sinisnya
"baguslah kalau kedengeran" sahut Yuri
"begitu caramu mengatai atasanmu, sayang sekali aku sulit untuk mencari sekretaris, kalau tidak, mungkin sekarang juga kamu sudahku pecat, begitu juga dengan kakakmu" ucap Alex
Mendengar perkataan Alex pertamanya membuat Yuri geram dan ingin memotong pembicaraan Alex, namun setelah mendengarkan bahwa kakaknya disebut ia mulai resah
"kenapa kak Kiran diseret juga, dan terlebih lagi bagaimana dia bisa tahu mengenai kakakku, aku sudah merahasiakannya dengan cukup baik, ahhh sial ini pasti karna ulah kak Kiran sendiri, sepertinya dia mulai tahu kelemahanku, ini yang menjadi alasan kenapa aku merahasiakan dan kakakku sendiri yang membocorkannya, sial sial sial kenapa ini terjadi padaku sih"
"eh, tidak bukan begitu aku hanya kesal saja, tuan muda terus mengoceh dari tadi, itu pun emm aku tidak sengaja dan tidak sadar dengan perkataanku" ucap Yuri dengan jantung yang sudah berdegup kencang, ia tersenyum riang dengan sangat terpaksa sambil menatap Alex dengan penuh harap agar kakaknya tidak diseret keluar juga dari perusahaan ini.
__ADS_1
"waw sangat menarik, akhirnya aku mengetahui apa kelemahannya, sepertinya kali ini aku akan menang dengan mudah dan kau tidak akan bisa pergi dengan mudah dari perusahaan ini Yuri, sekeras apapun tekadmu untuk keluar" seperti yang dilihat, Alex tampak senang dan sekaligus puas akan apa yang ia ucapkan
Alex mendorong tempat duduknya ke belakang dan mulai berdiri dengan tangan yang bertumpu pada meja, ia mulai berjalan ke arah jendela yang berada di belakangnya, Alex berdiri dan memandangi pemandangan di luar gedung dengan tatapannya menyapu pemandangan di luar gedung, nampak gedung-gedung pencakar langit dan juga jalanan yang tak pernah sepi menghiasi pemandangannya dari ruang kerjanya.
"apa kamu tahu, orang-orang diluaran sana yang bekerja keras untuk memenuhi kehidupannya?" tanya Alex kepada Yuri, dengan pandangan masih menatap ke luar gedung, Yuri yang tadinya mulai beraktivitas depan komputerpun menatap Alex, dan ia pun akhirnya berjalan menuju ke tempat Alex
Yuri bersandar di jendela yang cukup besar itu, dan mulai menatap Alex "apa yang kamu katakan? tentu saja aku tahu, karna aku sudah mengalaminya juga" sahut Yuri
Tatapan Alex belum berpaling juga dari jendela, membuat Yuri kebingungan, ia terus menatap Alex, seakan-akan mencari tahu alasan Alex berbicara seperti itu melalui raut wajah laki-laki itu, namun ia tetap tidak mengerti
"selama ini kamu pasti sangat bekerja dengan sangat keras untuk memenuhi kehidupanmu bukan?"
Melihat Alex yang tersenyum dengan manis membuat Yuri semakin kebingungan, ia hanya bisa mengerutkan dahinya sambil menggelengkan kepalanya
"kenapa ni orang?" batin Yuri
"hhhm, begitu juga denganku" sahutnya
"hah, maksudmu?" Yuri benar-benar dibuat bingung oleh tuan mudanya itu, Alex mulai mumutar badannya ke arah Yuri, ia pun ikut bersandar di jendela, Yuri sontak kaget ia langsung melototi atasannya itu.
"kamu tidak mengerti akan maksudku?" tanya Alex
"tentu saja tidak, sudahku bilangkan aku bukanlah bodyguardmu yang selalu mengerti apa maksudmu hanya dengan menggunakan tangan sebagai isyarat saja sudah mengerti" jawab Yuri
Alex mulai mengambil nafas panjang "hhhmm, baiklah akanku beritahu apa maksudku, aku sama denganmu namun bedanya aku terkadang lelah dengan sikapmu yang selalu dingin dan juga selalu mengabaikanku, namun seiring dengan berjalannya waktu aku menikmatinya"
Yuri terkejut mendengar perkataan Alex hingga membuat Yuri yang dari tadi bersandar di jendela membuatnya berdiri tegap, ia hanya diam dan tidak berkata apapun, ia juga tidak bergerak sedikitpun walau Alex mulai mendekatinya, Alex masih melanjutkan pembicaraannya
__ADS_1
"aku menikmati apapun resikonya, aku hanya ingin kamu tersenyum lagi, aku hanya ingin melihat kamu bahagia seperti dulu, tapi mungkin aku terlalu egois, karna yang aku inginkan kamu bisa bahagia dan tersenyum karenaku bukan karena orang lain terlebih lagi seorang pria, itu tidak boleh terjadi karena aku sangat mencintaimu sangat aku sangat ingin memilikmu" Alex terus mendekati Yuri yang tidak bisa berkutik dan bergerak dengan perkataan Alex sampai akhirnya mata mereka bertemu Alex sudah sangat dekat dengan wajah Yuri membuat Alex harus menunduk untuk melihat wajah Yuri
Yuri kaget lalu mengedipkan matanya beberapa kali, lalu mundur beberapa langkah sambil menundukkan kepalanya, sedangkan Alex hanya bisa tersenyum seperti biasanya kepada Yuri
"sudah selesai mendongengnya? waw dongeng yang sangat bagus membuatku mengantuk tuan muda" ucap Yuri dengan cepat
"apa mendongeng, aku pikir kau tersentuh dengan kata-kataku"
"bagus ya? perlu aku sediakan bantal untukmu agar kamu bisa tidur di sofa?" Alex memutar bola matanya
"tidak perlu tuan, tuan hanya perlu menggajiku setiap bulan tepat waktu saja sudah cukup, dan tentunya jangan ada potongan" gurau Yuri
"semoga dia mengerti, walau aku tertawa namun ini serius semoga kau atasan yang peka akan karyawanmu"
"ya ya ya terserahmu saja, lagian aku sudah kaya aku tidak sudi mengambil gaji karyawanku sendiri" tersenyum sinis sambil membanggakan diri sendiri
"oh ya? wow aku tersentuh tuan" Yuri tersenyum sambil mengedipkan matanya beberapa kali, membuat Alex yang melihatnya tersenyum dan salah tingkah, namun hanya beberapa saat Yuri kembali menunjukkan wajahnya yang dingin
"kau sangat manis" ucap Alex, seperti biasa ia mengabaikan perkataan Alex, Yuri kembali ke meja kerjanya begitu juga dengan Alex
Setelah duduk Alex kembali berbicara kepada Yuri "hei kenapa tidak memberi tahuku kalau kakakmu juga bekerja disini?"
"memang kalau aku memberi tahumu kamu mau apa? ingin mengancamku lagi seperti tadi? ah atau kamu mau mencari informasi mengenai aku lewat kakakku? maaf tuan kakakku tidak mengetahui tentangku terlalu jauh" sahut Yuri dengan nada sedikit marah
"terlalu percaya diri, aku hanya ingin tahu saja kamu cuma perlu menjawab pertanyaanku dan jangan memberikan pertanyaan padaku lagi, kamu masih sadarkan kalau kamu berbicara dengan atasanmu"
"ya aku tahu, kalau aku tidak mengetahuinya mana mungkin aku menyebutmu tuan muda dan mungkin saja aku dari tadi memukulmu karena aku sudah ingin memukul orang dari tadi" sahut Yuri, ia terus mengeluarkan emosinya kepada atasannya itu Sedangkan Alex sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
__ADS_1