Sekretaris Sang CEO

Sekretaris Sang CEO
Terlambat Kerja


__ADS_3

Mentari sudah menunjukkan sinarnya yang hangat. Jalanan ibu kota pun sudah ramai dan bising dengan suara klakson kendaraan yang bergantian berbunyi, dari kendaraan satu ke kendaraan lainnya. Mengisyaratkan kendaraan lain yang berada jauh di depan mereka untuk segera benancapkan gas kendaraan mereka karena lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau. Agar mereka semua segera sampai di tujuan mereka masing-masing tepat waktu tanpa adanya hambatan lampu lalu lintas lagi.


Ya, setiap hari, jalanan ibu kota selalu ramai, dan hal ini sudah biasa dikalangan masyarakat ibu kota yang selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Baik itu urusan pekerjaan ataupun hanya untuk mengantar anak-anak pergi ke sekolah.


Begitu juga dengan Yuri. Setiap hari ia selalu mendengarkan kebisingan ibu kota dari mulai ia berangkat kerja hingga ia pulang kerja, maka dari itu Yuri sudah biasa dengan kebisingan ibu kota tersebut.


Mau tidak mau Yuri harus menikmatinya, karena ia sudah memutuskannya sendiri untuk bekerja diluar kota ikut dengan kakaknya. Yuri yang sedari tadi kejebak macet dijalan membuat ia terlambat untuk bekerja.


Ingin rasanya ia berhenti bekerja dan pulang ke kotanya saja, karena tidak tahan akan kerasnya ibu kota. Namun, ia tidak bisa melakukannya, karena ini sudah menjadi pilihannya. Sesampainya di parkiran kantor, ia segera berlari menuju lift.


"Ayo dong kebuka," kata Yuri yang sudah mulai panik.


Ia terus menekan tombol lift. Yuri menggigit ujung jarinya, ia sudah panik dan kepikiran bagaimana kalau bosnya tau bahwa ia telat, bisa tuli dia karena mendengarkan omelan bosnya.


"Selamat Yuri, sekarang juga kau pasti diseret keluar oleh orang yang kau benci," pikir Yuri.


Setelah beberapa menit ia menunggu, akhirnya lift itu terbuka. Namun, betapa terkejutnya ia melihat Alex yang berada di dalam lift tersebut.


Alex yang tadinya ingin keluar pun mengurungkan niatnya, dan ia hanya melihat Yuri yang bengong, sambil melototinya.


"Oke!! Aku akan dipecat sebentar lagi," batin Yuri.


Melihat lift yang akan tertutup kembali, membuat Yuri tersadar dan segera masuk ke dalam lift bersama dengan Alex. Sekarang mereka hanya berduaan saja di dalam lift.


Setelah hening beberapa detik, akhirnya Alex memulai pembicaraan dengan Yuri.


"Kenapa kamu telat?" kata Alex.


"Kau tau peraturan perusahaan ini? Bahwa tidak ada karyawan yang boleh telat sedetik pun itu artinya kamu harus on time!! Ingat waktu adalah uang," Alex malirik Yuri dengan nada yang sedikit keras.


Yuri seketika membeku, ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi, seakan-akan hatinya berbicara dan memerintahkannya untuk pergi atau mati sekarang juga.


Melihat Yuri terdiam membuat Alex merasa puas, namun juga kasihan. "Sekarang aku tanya, kenapa kamu telat? Ingat kalau jawabanmu menurutku salah kamu taukan konsekuensinya apa?"


"Apa yang harus aku jawab sekarang? Ayolah Yuri, bersikaplah seperti biasa, dimana semua keberanianmu yang selalu kamu bawa? Dengan preman kampus saja kamu berani masa sekarang hanya gertakan seperti ini saja kamu takut?"

__ADS_1


Yuri menarik nafas panjang dan mulai menjawabnya, namun ketika ia ingin menjawab Alex berbalik badan menatap Yuri.


Alex melangkah mendekati Yuri, seketika Yuri mundur satu langkah agar Alex tidak terlalu dekat dengannya. Alhasil membuat Yuri terpojok. Kini bukan pintu lift lagi yang ia lihat sekarang, namun tubuh Alex yang tinggi dengan setelan kemeja warna merah marun dan jas berwarna abu lengkap dengan dasi kantoran. Membuat Yuri hanya diam saja melihat badan Alex.


Alex menunduk agar bisa melihat wajah Yuri dengan jelas, dengan tangannya bertumpu pada tembok lift, "Jawab sekarang dan jangan sampai salah," gerutu Alex dengan pelan dengan mata yang menatap tajam wajah Yuri.


"A..Aku kena macet jadi aku telat," Yuri yang sudah terpojok dan hanya menundukkan kepalanya.


Alex tersenyum hangat, ia lantas memegang dagu Yuri dan mengangkatnya "Kalau bicara denganku, kamu harus menatapku."


Akhirnya mata Yuri bertemu dengan mata Alex, dan Yuri melihat senyuman hangat dari Alex.


"Senang kau melihat sekretarismu terdiam seperti ini ah?" batin Yuri.


"Hei jawab sekarang, kau sudah menatapku. Apa kau tidak ingin menjawabnya dan hanya melihat ketampananku saja?" gurau Alex.


"A..Aku tadi kena macet di jalan jadi aku telat. Ma..Maafkan aku," jawab Yuri dengan terbata-bata.


Alex yang masih memegang dagu Yuri, kini pandangannya dari hanya melihat wajah Yuri sekarang berpindah melihat bibir gadis itu. Bibir tipis yang sudah diwarnai dengan lipstick berwarna merah muda, membuatnya tambah manis di hadapan CEO tampan itu.


"Tidak. Itu benar jawabanku sudah benar, aku tidak berbohong," jawab Yuri, ia langsung menggit ujung bibirnya dengan harapan Alex percaya.


Alex terus menatap dan memandangi bibir Yuri yang berbicara, membuat ia geram dengan bibir itu. Alex mendekati wajah Yuri, namun lift berbunyi dan pintu lift terbuka.


Sontak mereka berdua terkejut, membuat Alex pun mengurungkan niatnya. "Sial. Padahal sedikit lagi aku bisa menghukumnya. Kenapa lift terbuka disaat yang tidak tepat sih!!" gerutu Alex.


Yuri segera mendorong Alex agar menjauh darinya, dan segera keluar dari lift, Yuri bukan gadis polos yang tidak mengetahui apapun, ia mengetahui apa yang akan dilakukan Alex kalau saja pintu lift tidak terbuka.


Bahkan, Yuri bisa melihat kekesalan Alex tadi pada saat pintu lift terbuka, "Dewi Fortuna berpihak padaku kali ini. Hhhmm kenapa dia senekat itu? Aku tahu kamu suka tapi jangan menyentuh bibirku juga," gumam Yuri.


Ia lalu berjalan menuju ruang kerjanya. Yuri melirik ke belakang, ia tersadar bahwa Alex juga berada di belakangnya. Pantas saja para karyawan yang dilewati Yuri diam, biasanya mereka bergosip dan membicakan sesuatu yang seru dan tentunya ia tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan.


"Apa jawabanku tadi salah ya? Tidak!! Jawabanku sudah benar, hanya saja dia yang mengada-ngada. Semoga aku tidak dipecat,"


Sesampainya diruang kerja. Yuri membuka pintu dan seperti biasa sebelum masuk ke ruang kerjanya ia melihat sekeliling ruangam itu.

__ADS_1


"Hhm rapi," ucapnya.


"Bisa maju sekarang? Aku juga ingin masuk," ucap Alex, seperti biasa Yuri mengabaikan laki-laki itu.


Yuri langsung berjalan menuju meja kerjanya, namun tangannya digenggam sangat erat oleh Alex, ia ditarik ke arah sofa dekat meja kerjanya.


"Duduk!" titah Alex. Yuri pun menurutinya.


"Siapa dia?" tanya Alex.


"Siapa? Maksudmu?" Yuri balik bertanya. Namun, Alex tidak menjawab. Membuat Yuri kesal dan memutar bola matanya.


"Hei tuan muda, aku tidak mengetahui apapun mengenai kamu ya. Dan apa kamu tahu? Aku ini sekretarismu, bukan bodyguardmu yang mengetahui apapun mengenai dirimu, bahkan dengan bahasa isyarat sekalipu. Apa kamu tidak bisa berbicara dengan benar?"


"Yang kamu ajak kemarin makan siang," ucap Alex kesal.


"Ahh dia.." Penjelasan Yuri dipotong seketika dengan Alex


"Ingat kalau salah jawab kamu akan mendapatkan hukuman, mengerti? Jawabanmu di lift tadi sudah salah dan aku tidak menerima jawaban apapun jika kamu terlambat lagi. Jadi, aku mohon jawabanmu kali ini jangan sampai salah lagi, mengerti kan?"


"Apa? Jadi kamu tidak terima jawabanku?"


"Jawab sekarang!! Waktuku tidak banyak."


"Brengsek... Kenapa dia terus memotong pembicaraanku?" batin Yuri.


"Dia kakak tingkatku, namanya Candra. Aku kenal dengannya tidak ada yang istimewa darinya," kata Yuri.


Alex tersenyum sinis "Jawabanmu salah lagi, siap-siap kamu menerima hukuman dari atasanmu ini," Alex tersenyum sinis.


Yuri nampak semakin kesal, sampai sampai ia memukul meja dengan keras hingga membuat Alex yang menatapnya sontak terkejut.


"Terserah katamu. Aku tidak takut akan gertakanmu, dan jika memang kamu ingin memecatku pecat sekarang aku sudah tidak peduli lagi," Yuri pun langsung pergi ke meja kerjanya dengan wajah yang masam.


Alex hanya menatapnya tanpa berkata apapun atau pun menahan Yuri.

__ADS_1


"Iya lah salah, bukan itu jawaban yang aku mau, maksudku kau menyukainya atau tidak?" batin Alex.


__ADS_2