Sekretaris Sang CEO

Sekretaris Sang CEO
Canggungnya Alex dan Yuri


__ADS_3

Pagi hari yang sedikit mendung


Di kost Cindy. Cindy yang sudah dari tadi bangun. Lalu, seperti biasa ia membuat minuman hangat serta roti isi selai. Namun, kini ia membuat dua minuman hangat dan dua potong roti isi selai strowberry.


Sedangkan Yuri, anak itu belum kunjung bangun juga. Mungkin menjadi kebiasaannya jika ia bergadang. Ia akan bangun sesiang mungkin.


Nampak Cindy menghela nafasnya dengan pelan. Melihat Yuri yang begitu pulas dibawah selimutnya yang hangat.


"Anak ini, kalau tidak dibangunkan sudah tidak perlu ditebak lagi. Pastinya, ia akan bangun jam 11 siang."


Cindy pun menggoyang-goyangkan badan Yuri yang tertidur dengan lelapnya. Yuri hanya menggeliat kecil.


"Yuri, bangun sudah hampir siang. Lihat jam berapa ini?" tanya Cindy sembari melihat jam ditangannya.


Namun, Yuri tetap tidak bangun. Membuat Cindy geram.


"YURIIII, SUDAH SIAAANG BANGUNLAH KALAU TIDAK GAJIMU AKAN DIPOTONG ATAU KAU AKAN DIPECAT" teriak Cindy tepat ditelinga Yuri.


"aaarrggh, berisik kak" Yuri mengerang kecil sembari duduk diatas kasur.


Yuri yang belum sadar sepenuhnya. Ia mengucek-ucek matanya pelan dan mengerdip beberapa kali untuk memperjelas pandangannya.


Setelah sadar sepenuhnya. Ia langsung menatap Cindy.


"Pagi kak" Yuri melambaikan tangannya ke arah Cindy yang masih berdiri di samping tempat tidur.


Cindy pun heran dengan tingkah Yuri. Ia menganga dan menaikkan sebelah alisnya.


"Kau pikir ini jam berapa?


ini sudah hampir jam delapan pagi dan kau belum siap-siap juga." Cindy masih kesal kepada Yuri, layaknya seorang bos.


Yuri pun menoleh ke arah ponsel milik Cindy. Lalu, ia mengambil ponsel itu. Diusapnya layar ponsel itu beberapa kali agar menyala untuk melihat jam di ponsel itu. Waktu menunjukkan pukul 07.35 pagi.


"Ooh baru jam segini. Oke aku akan mandi sekarang juga." Gerutu Yuri.


"Ya, pergilah mandi sekarang juga." Sahut Cindy sembari meletakkan makanan dan juga minuman yang ia buat tadi di atas meja.


Di kamar mandi...


"Aarrghh sialan." umpat Yuri hingga suaranya memenuhi kamar mandi.


"Bagaimana mungkin aku bertemu dengan bos rese itu, sudah bisa dipasti pipiku akan memerah jika melihat dia." Ucap Yuri semakin frustasi. Ia bahkan menjambak rambutnya beberapa kali.

__ADS_1


Selesai mandi, Yuri langsung bergegas untuk ganti pakaian dan berdandan sedikit. Tidak lupa ia menyisir rambutnya agar terlihat rapi.


"Sarapan dulu sebelum berangkat bekerja." Ucap Cindy sembari mengunyah roti di mulutnya.


"Aahh kakak memang yanv terbaik." Wajah Yuri yang cerah tersenyum lebar dan mengacungkan jempol kanannya ke arah Cindy.


Cindy tidak menggubris ucapan Yuri. Ia hanya menaikkan kedua alisnya sambil melanjutkan sarapannya.


Yuri menyusul Cindy yang duduk di kasur sembari melahap makanannya. Lalu, Yuri mengambil bagian miliknya yang diberikan Cindy.


Setelah selesai sarapan. Yuri pun bergegas untuk pergi ke kantor. Diambilnya tas kecil yang ia bawa waktu ke pesta ulang tahunnya Alex. Tidak lupa, ia berpamitan kepada Cindy.


Waktu sudah menunjukkan pukul 09.20 pagi. Sesampainya di parkir motor perusahaan. Yuri langsung berlari menuju pintu masuk kantor dan langsung berlari kearah lift. Setelah dipintu masuk ruang kerjanya. Yuri nampak membuka sedikit pintu ruang kerjanya. Mencari celah untuk mengintip. Apakah Alex sudah datang atau belum.


Ia menyapu ruangan dengan sebelah matanya. Oke! Yuri aman kali ini. Yuri pun mengelus dadanya beberapa kali, lalu menghela nafasnya pelan.


Dibukanya daun pintu dengan lebar. Lalu, dengan segera dan penuh percaya dirinya masuk ke ruang kerjanya.


"Kamu terlambat 20 menit Yuri Anastasia" Sahut seseorang di balik pintu.


Yuri yang mendengarnya hanya mematung. Ia bahkan tidak berani untuk membalikkan badannya.


"Sudahku bilang. Jangan pernah terlambat lagi datang ke kantor. Kamu membawa pengaruh buruk untuk kantorku." Alex kembali angkat bicara.


Yuri pun memberanikan diri untuk berpaling. Dan Alex, sudah dengan santainya duduk di sofa yang tepat berada di samping pintu masuk ruang kerjanya. Ia sedang asik menyeruput minuman hangat yang tersedia di atas meja kaca dekat sofa.


"Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Yuri langsung memasang muka masam dihadapan Alex.


Alex yang melihatnya pun gemas dengan tingkahnya Yuri. Sebenarnya, Alex pun merasa canggung dengan Yuri. Terlebih lagi, itu adalah ciuman pertama yang diberikan Alex kepada seorang gadis.


....


Alex sudah lebih dulu tiba di Perusahaan, 30 menit sebelum Yuri. Di ruang kerjanya, ia nampak kebingungan. Dan sesekali ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


"Shiiit!!" Umpat Alex dengan nada tinggi, sehingga suaranya memenuhi ruangan.


Bagaimana ia tidak kesal. Saat ini, ia takut menatap wajah Yuri. Dan kalau ia menatap wajahnya. Sudah dipastikan, ia akan menatap bibir mungil Yuri bukan matanya.


"Oke! kita hanya perlu berlatih" ucap Alex menenangkan dirinya sendiri.


"hai, selamat pagi Yuri. Bagaimana tidurmu?" Ucap Alex dengan bingung.


"ahh tidak-tidak. Bagaimana kalau dia malah jijik terhadapku?" Alex kembali mengoceh sendiri.

__ADS_1


"ah sudahlah. Apapun yang terjadi jangan sampai dia menghindar sudah itu saja" Ucap Alex dengan pasrah.


Sembari menunggu kedatangan dari Yuri. Alex berjalan menuju sofa untuk menikmati teh yang sudah disuguhkan oleh Office Girl untuknya.


.....


"Kenapa kau tidak menatapku?" tanya Alex


"Sepertinya dia juga canggung" batin Alex


Yuri hanya menggelengkan kepalanya. Lalu, ia pun segera pergi ke meja kerjanya dan menyibukkan diri dengan beberapa tumpukan map yang tertata rapi di mejanya. Itu hanya sebuah alasan agar ia tidak disuruh untuk menatap wajahnya Alex. Bisa-bisa setelah menatap, pikirannya kembali tertuju kejadian itu dan membuat pipinya memerah kembali.


"rambutnya menghalagi wajahnya. Apa aku suruh potong saja ya rambut itu" pekik Alex dalam hati.


Alex pun tidak banyak bicara lagi. Ia pun berjalan menuju meja kerjanya. Dan tentunya, ia hanya duduk manis dengan memainkan pulpen yang dipegangnya.


"hhhmmm apa aku masih canggung?


Hingga aku tidak sanggup menatapnya" dengan terus menatap dengan lekat pulpen yang ia putar-putarkan di meja kerjanya.


Kini, Alex menyesali perbuatannya. Sepanjang jam kerja, Alex dan Yuri bungkam seribu bahasa. Tidak ada yang berani mendahului untuk berbicara.


tok...tok...tok!!


Bunyi pintu diketuk, membuat suasana canggung diruang itu pun mereda. Mereka berdua menoleh ke arah pintu secara bersamaan.


"Masuk" kata Alex dengan suara yang keras agar didengar oleh orang yang mengetuk pintu.


seseorang pun masuk ke ruang kerjanya. Seorang karyawan, yang tidak asing bagi Yuri masuk dan berjalan menuju kearah Alex. Ya, gadis itu tidak lain adalah Kiran kakak Yuri.


Kiran membungkukkan badannya "Selamat siang tuan muda. Saya kemari hanya untuk memberikan ponsel ini kepada sekretaris anda, Yuri" Ucap Kiran berdiri dengan tegap setelah membungkuk.


Alex hanya mengangguk tanpa berkata apa pun. Lalu, Kiran berjalan menuju ke meja Yuri.


"Ini ponselmu. Lain kali dibawa dan nanti jam makan siang kamu harus menjelaskan semuanya kepadaku" Ucap Kiran dengan tatapan membunuh. Yuri hanya bisa nyengir tanpa berkata apa-apa.


Setelah selesai memberikan ponsel kepada adiknya, Kiran pun langsung pamit dan berjalan keluar ruangan untuk mengerjakan pekerjaannya kembali.


Setelah lama berpikir. Alex pun menemukan topik untuk dijadikan bahan pembicaraan dengan Yuri.


"Yuri, kamu ingat kan kalau kita akan ke luar kota?" Tanya Alex mencairkan suasana.


Yuri nampak berpikir. Lalu, selang beberapa detik ia pun merespon pertanyaan dari Alex.

__ADS_1


"iya, aku masih ingat" Ucap Yuri dengan jari jemarinya masih menari-nari di atas keyboard komputer.


"dia tetap tidak memandangku" Ucap Alex dengan kecewa.


__ADS_2