
Sudah beberapa jam Yuri berkutik di depan komputer. Tanpa memperdulikan suasana ruang kerjanya yang sedari tadi sunyi tanpa pembicaraan sedikitpun kepada tuan mudanya.
Sampai akhirnya terdengar ketukan pintu dari luar, yang mengalihkan pandangan Alex dari layar laptopnya, menuju pintu ruang kerjanya.
"Masuk," perintah Alex kepada karyawan yang sedang mengetuk pintu itu.
Tidak lama kemudia karyawan itu pun masuk ke ruang kerjanya. Nampak karyawan wanita dengan menggunakan baju berwarna merah dan juga rok yang begitu pendek, dengan membawa map berwarna biru. Wanita itu menyodorkan map tersebut kepada Alex.
Yuri yang terus melihat karyawan itu dengan tatapan ingin tahunya, membuat risih karyawan tersebut. Namun, pandangan karyawan itu tidak lepas dari Alex.
"Cih, apaan sih dia liatin Alex segitunya sekali, " batin Yuri dengan melemparkan tatapan tidak senang kepada karyawan itu.
Setelah selesai urusannya denga tuan muda Alex, karyawannya pun keluar dari ruangan. Alex segera melirik Yuri, ia melihat Yuri sedang mencari-cari sesuatu yang seharusnya ada di samping keyboardnya.
"Kau mencari apa?" tanya Alex.
"Bukan apa-apa dan itu bukan urusanmu," Yuri menjawa singkat, namun ia masih mengacak-acak dokumennya yang tertata rapi di samping komputernya.
Melihat Yuri kebingungan, Alex pun beranjak dari tempat duduknya menuju meja tempat Yuri bekerja.
"Apa yang kamu cari?" Alex bertanya sekali lagi
Namun tidak ada jawaban dari Yuri, sontak membuat Alex menarik nafas dengan panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Hei kamu lupa ya, aku ini siapa?" sahut Alex yang mulai kesal dengan sikap Yuri.
"Aku sama sekali tidak pernah melupakannya," jawab Yuri yang sibuk mencari sesuatu.
Setelah selesai mengacak-acak semua dokumen-dokumennya Yuri pun memungut sesuatu dari lantai di bawah mejanya.
"Aha ketemu, syukur tidak hilang," gumam Yuri.
Alex yang melihatnya pun mengkerutkan dahinya, seakan-akan ia melihat Yuri dengan tatapan aneh.
"Jadi kamu mengabaikanku hanya mencari liontin itu?" ucap Alex dengan nada kesal.
"Ini benda yang sangat berharga bagiku," Yuri yang menunjuk liontin berwarna perak berbentuk daun.
"Apa bagusnya liontin itu!" Alex meledek Yuri dengan nada yang menjengkelkan, membuat Yuri mengepalkan tangannya karena kesal.
"Apa kamu bilan? Hei liontin ini lebih berarti dari aku bekerja disini, dan sangat berarti bagiku, camkan itu baik-baik. Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi di depanku, mengerti!!" Yuri yang langsung marah tidak jelas kepada Alex, sambil menunjuk wajahnya Alex dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Kenapa dia marah, memang itu liontin pemberian dari siapa? Sampai-sampai itu menjadi barang berharganya?" banyak hal yang ia tanyakan kepada dirinya sendiri dan ia sendiri tidak mengetahui jawabannya.
"Oke!! Aku memang tidak mengetahui apa-apa. Namun, bisakah kau tidak marah kepadaku?" ucap Alex menenangkan Yuri.
"*H*hmm kalau dia marah ternyata seram juga ya," batin Alex.
"Baiklah, kali ini aku harus berhati-hati dalam bicara kepadanya. Terlebih lagi mengenai liontin itu," Alex menenangkan pikirannya dan kembali ke tempat kerjanya.
Setelah beberapa saat akhirnya jam istirahat siang pun tiba. Yuri yang duluan keluar ruangan tanpa sepatah katapun karena ia dari tadi masih kesal dengan ucapan Alex.
Alex pun demikian. Ia merasa bersalah, membuatnya hanya diam saja tanpa berbicara sedikitpun kepada Yuri.
Seperti biasa, Yuri makan sendiri tanpa seorang karyawan pun yang menghampiri dan makan bersamanya. Setelah beberapa menit ia makan tanpa adanya gangguan, lalu muncullah Kiran, kakaknya Yuri. Ia langsung duduk di samping Yuri, tanpa basa basi atau bertanya terlebih dahulu. Dan disusul oleh teman-teman kakaknya yang lain.
"Hai anak baru, boleh ikut duduk disini?" tanya Kiran yang sudah duduk manis di samping Yuri.
"Sudah duluan duduk disini baru bertanya," menjawab dengan sinis sambil manghabiskan makanan yang ada di mulutnya.
Teman-temannya Kiran tertawa cekikikan mendengar jawaban dari Yuri, yang membuat Kiran cukup kesal.
"Hei sekretaris tuan muda. Namamu siapa?" salah satu temannya Kiran bertanya kepada Yuri.
"Hai namaku Yuri," jawabnya singkat.
"Senang berkenalan denganmu. Namaku Liana," ucap salah satu karyawan yang duduk bersamanya.
"Hai Yuri, namaku Windi. Senang berkenalan denganmu," jawab teman kakaknya satunya lagi.
"Iya, senang berkenalan dengan kalian juga," sahut Yuri sambil melahap makanan miliknya.
"Apakah kalian sudah saling kenal?" tanya Liana kepada Yuri sambil menggerakkan jari telunjuknya ke arah Yuri dan juga Kiran.
"Sebenarnya sih.." belum selesai Kiran menjelaskan Yuri langsung memotong pembicaraan Kiran.
"Tidak sama sekali," Yuri yang berbicara dengan santainya, sambil melirik Kiran.
"Kalian yakin? Tapi kenapa dari dekat kalian terlihat mirip ya?" Windi berpikir sejenak, namun pikirannya kacau setelah Alex mendekat dan mengetuk meja makan mereka.
"Boleh aku ikut makan bersama?" tanya Alex kepada mereka dengan menatap Yuri tentunya.
"i..Iya maksud saya tentu saja tuan muda," Liana dan Windi benjawab bersamaan.
__ADS_1
"Oke terima kasih," senyum lebarnya Alex membuat mereka kebingungan namun juga terpana melihat ketampanannya.
Setelah Alex duduk, Liana pun berbicara kepadanya "Tuan muda, tumben istirahat makan siang di kantin perusahaan?"
"iya tuan muda, apa karena sekretaris tuan muda ya?" goda Windi.
Yuri yang sedari tadi tidak memperhatikan pembicaraan mereka dan tidak perduli sama sekali, akhirnya setelah mendengar kata-kata yang dilontarkan Windi membuat ia melihat sekilas Alex yang sudah duduk dihadapannya.
"*H*ah apa-apaan dia ini," batin Yuri.
Alex pun membalas godaan dari Windi "Tidak, aku hanya ingin makan disini saja bersama karyawanku," ucap Alex sambil tersenyum
Mereka tidak berani menjawab lagi perkataan Alex, akhirnya mereka meneruskan makanan mereka masing-masing tanpa bersuara.
Drrtt!!
ponsel Yuri berbunyi, lalu ia mengambilnya dengan cepat "Aku sudah ada di kantin dekat dengan tempat dudukmu." Melihat pesan dari Candra, lalu dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling kantin. Akhirnya ia menemukan Candra yang duduk sendirian di meja dekat dengan mejanya.
Yuri meminta ijin bahwa ia akan pindah tempat duduk, sontak mereka berempat yang asik ngobrol melihat Yuri.
"Kamu mau kemana?" tanya Alex kepada Yuri.
"Saya mau pindah tempat duduk tuan muda, permisi !!" jawab Yuri
Alexx belum mengijinkan ia pergi, Yuri sudah beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja menuju tempat duduk Candra. Membuat Alex hanya bisa diam menatap punggung Yuri begitu saja. Hingga akhirnya Yuri duduk dengan pria lain. Ia terlihat sangat kesal, terlebih lagi Yuri sangat akrab dengan pria itu.
"*S*iapa dia?" batin Alex.
Melihat tuan muda mereka memperhatikan Yuri sebegitunya. Membuat mereka hanya bisa menatap satu sama lain tanpa berbicara sepatah katapun, namun mata mereka mengisyaratkan bahwa bakalan ada kebakaran di kantor mereka. Tepatnya hati tuan muda mereka yang terbakar api cemburu.
Kiran pun nampak gelisah dan refleks ia menjelaskan kepada tuan mudanya.
"Maafkan aku Yuri, aku mengingkari kesepakatan yang kau buat. Ini juga demi kebaikanmu sendiri," ucap Kiran dalam hati dengan penuh penyesalan.
"Maaf tuan muda. Pria itu namanya Candra, dia adalah kakak kelasnya Yuri sewaktu SMP, jadi tuan muda tenang saja. Sekretarismu masih belum memiliki pasangan," ucap Kiran menenangkan Alex.
Perkataan Kiran membuat mereka bertiga kebingungan dan langsung menolehnya dengan tatapan ingin tahu.
"Dari mana kamu tahu ran?" tanya Windi, Liana dan Alex hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja aku tahu, mereka kemarin makan malam bareng, dan adikku menjelaskan semuanya kemarin setelah aku marahi," dengan tenangnya iya menjawab pertanyaan temannya itu, sambil menyedot minumannya.
__ADS_1
"Apa? Adik?" teman-temannya masih tidak percaya, sedangkan Alex hanya diam saja tanpa bicara sepatah kata pun.
"Jadi itu kakak kelasnya dan yang dihadapanku adalah kakaknya," batin Alex.